“Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

Dalam Sandi Sastra

Ha       – Huripku Cahyaning Allah

Na       – Nur Hurip cahya wewayangan

Ca       – Cipta rasa karsa kwasa

Ra       – Rasa kwasa tetunggaling pangreh

Ka       – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat

Da       – Dumadi kang kinarti

Ta        – Tetep jumeneng ing dat kang tanpa niat

Sa       – Sipat hana kang tanpa wiwit

Wa       – Wujud hana tan kena kinira

La         – Lali eling wewatesane

Pa       – Papan kang tanpa kiblat

Dha    – Dhuwur wekasane endhek wiwitane

Ja        – Jumbuhing kawula lan Gusti

Ya       – Yen rumangsa tanpa karsa

Nya     – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki

Ma       – Mati bisa bali

Ga       – Guru Sejati kang muruki

Ba       – Bayu Sejati kang andalani

Tha     – Thukul saka niat

Nga     – Ngracut busananing manungsa

Sastra Jendra ya sastra harjendra adalah sastra/ilmu yang bersifat rahasia/gaib. Rahasia, karena pada mulanya hanya diwedarkan hanya kepada orang-orang yang terpilih dan kalangan yang terbatas secara lisan. Gaib, karena ilmu ini diajarkan oleh Guru Sejati lewat Rasa Sejati.  Hayuningrat/yuningrat berasal dari kata hayu/rahayu – selamat dan ing rat yang berarti didunia.  Pangruwating Diyu, artinya meruwat, meluluhkan, merubah, memperbaiki sifat-sifat diyu, raksasa, angkara, durjana.

Maka Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu maknanya adalah ilmu rahasia keselamatan untuk meruwat sifat-sifat angkara didunia ini, baik dunia mikro dan makro.

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah merupakan Ilmu yang berasal dari Allah Yang Maha Esa, yang dapat menyelamatkan segala sesuatu.  Maka, tiada kawruh/pengetahuan lain lagi yang dapat digapai oleh manusia, yang lebih dalam dan lebih luas melebihi Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebab ini adalah merupakan sastra adi luhung atau ilmu luhur yang merupakan ujung akhir dari segala pengetahuan/kawruh kasampurnan sampai saat ini.

Makna/kawruh Yang Terkandung Dalam Sandi Sastra

Kalau diurut dari atas kebawah, dari Ha sampai Nga, mengandung makna yang sangat dalam dan sangat luas tentang rahasia gumelaring dumadi, atau pambabaring titah, atau rahasia jati diri, asal-usul/ terjadinya manusia.  Yaitu terciptanya manusia dari Nur, Cahaya Allah yang bersifat tiga, Tri Tunggal Maha Suci, yang merasuk busana anasir-anasir sebagai wadah, yaitu badan jasmani halusan dan badan jasmani kasar.

Apabila diurut terbalik, dari Nga naik sampai Ha, maka inilah “rahasia” jalan rahayu, ya pangruwating diyu, untuk menuju kesempurnaan hidup kembali kepada sangkan paraning dumadi. Kembali ke asal mula, ke Alam Sejati mencapai persatuan dengan Allah Yang Maha Agung. Jadi, dari Nga sampai Ha, juga merupakan urut-urutan panembah, dimulai dari badan jasmani kasar, dimana titik berat kesadaran kemudian harus dialihkan satu tahap demi tahap kearah asal-mula, ke Alam Sejati.  Syarat mutlak agar kita dapat menyadari/ memahami sesuatu hal, adalah membawa kesadaran kita bergerak masuk berada disitu.  Fokus/titik berat kesadaran dapat berpindah.  Didalam keseharian hidup, kesadaran kita banyak terfokus dialam badan kasar, alam anasir, diluar Alam Sejati.  Maka, satu-persatu tahap dari Nga, Tha, Ba dan seterusnya sampai Nga haruslah dilewati untuk memindahkan tingkat kesadaran dari alam kasar/fana/maya menuju Alam Sejati.   Sedangkan tahapan pertama yang harus dilalui yaitu Nga, sedemikian rumit dan sulitnya, maka dapat dibayangkan tidak begitu mudah untuk dapat memindahkan titik berat/focus kesadaran ke Alam Sejati.  Namun itulah intinya perjalanan spiritual yang harus kita tempuh.

Secara “garis besar”, Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga kalau diuraikan adalah sebagai berikut (garis besar saja, karena detailnya begitu luas/multi dimensi tak terkira penuh dengan kawruh kasunyatan sejati yang tak habis diuraikan dalam bahasa kewadagan apalagi tulisan).  Dan dibawah ini adalah garis besar uraian dari sisi spiritualnya guna dipakai sebagai “mile stones” dalam menempuh jalan rahayu untuk dapat kembali ke ” SANGKAN PARANING DUMADI “.

1. Ha – Huripku Cahyaning Allah (Hidupku adalah Cahaya Allah).

Sebelum ada apa-apa, sebelum alam semesta beserta isinya ini tercipta, adalah Sang Hidup ya Allah ya Ingsun yang ada dialam awung-uwung yang tiada awal dan akhir, yaitu alam/kahanan Allah yang masih rahasia/ Alam Sejati.  Itulah Kerajaan Allah ya Ingsun. Sebelum alam semesta tercipta, Allah berkehendak menurunkan Roh Suci, ya Cahaya Allah.  Ya Cahaya Allah itulah Hidupku, Hidup kita yang Maha Suci.

Alam Sejati adalah alam yang tidak mengandung anasir-anasir (unsur-unsur hawa, api, air dan bumi/tanah) yang berada didalam badan manusia, dimana Cahaya Allah bersemayam.  Alam Sejati diselubungi/menyelubungi dua alam beranasir yaitu halus dan kasar. Dapat pula diartikan, badan manusia berada didalam Alam Sejati.

2. Na – Nur Hurip Cahya wewayangan (Nur Hidup Cahya yang membayang).

Hidup merupakan kandang Nur yang memancarkan Cahaya Kehidupan yang membayang yang merupakan rahasia Allah.  Kehidupan yang Maha Mulia.  Tri Tunggal Mahasuci berada dipusat Hidup. Ya itulah Kerajaan Allah.

Sang Tritunggal adalah Allah ta’ala/Gusti Allah/Pengeran/Suksma Kawekas, Ingsun/Rasul Sejati/Guru Sejati/Suksma Sejati/Kristus dan Roh Suci/Nur Pepanjer/Nur Muhammad.  Diuraikan diatas, bahwa ketiga alam yaitu badan kasar, badan halus dan Alam Sejati, mengambil ruang didalam badan jasmani kasar secara bersamaan.  Namun kebanyakan kita manusia tidak atau belum menyadari akan Alam Sejati, atau samar-samar. Nur Hidup bagaikan cahaya yang samar membayang.

3. Ca – Cipta rasa karsa kwasa (Cipta rasa karsa kuasa).

Nur Hidup memberi daya kepada Rasa/Rahsa Jati/Sir, artinya Cahaya/Nur/Roh Suci menghidupkan Rasa/Rahsa Jati/Sir yang merupakan sumber kuasa. Maka bersifat Maha Wisesa.  Rasa/Rahsa Jati/Sir menghidupkan roh/suksma yang mewujudkan adanya cipta. Maka bersifat Maha Kuasa.

4. Ra – Rasa kwasa tetunggaling pangreh (Rasa kuasa akan adanya satu-satunya wujud kendali/yang memerintah).

Rasa Sejati yang memberi daya hidup roh/suksma sehingga roh/suksma dapat menguasai nafsu (sedulur lima), sehingga terjadilah sifat Maha Tinggi.

5. Ka – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat (Karsa kuasa tanpa didasari oleh kehendak dan niat).

Yang mendasari adanya kuasa agung adalah kasih yang tulus, tanpa kehendak, tanpa niat.  Pamrihnya hanyalah terciptanya kasih yang berkuasa memayu hayuning jagad kecil dan jagad agung.

6. Da – Dumadi kang kinarti (Tumitah/menjadi ada/terjadi dengan membawa maksud, rencana dan makna).

Ini berkaitan dengan Karsa Allah menciptakan manusia, makhluk lain dan alam semesta beserta isinya yang sesuai dengan Rencana Allah.

7. Ta – Tetep jumeneng ing dat kang tanpa niat (Tetap berada dalam zat yang tanpa niat).

Dat atau zat tanpa bertempat tinggal, yang merupakan awal mula adalah dat Yang Maha Suci yang bersifat esa, langgeng dan eneng.  Hidup sejati kita menyatu dengan dat, ada didalam dat.  Maka didalam kehidupan saat ini agar selalu eksis selaras dengan dat Yang Maha Suci, situasi tanpa niat atau mati sajroning urip (mati didalam hidup) dengan kata lain hidup didalam kematian, seyogyanya selalu diupayakan.

8. Sa – Sipat hana kang tanpa wiwit (Sifat ada tanpa awal).

Ini adalah sifat Sang Hidup, Allah, di Alam Sejati, tiada awal dan tiada akhir, “AKUlah alpha dan omega”.  Demikian pula “hidup” sejati nya manusia sudah ada sebelumnya, tiada awal mula, bersatu di Alam Sejati yang langgeng, yang merupakan Kerajaan Allah, ya Sangkan Paraning Dumadi.

9. Wa – Wujud hana tan kena kinira (Wujud ada tiada dapat diuraikan/dijelaskan).

Ada nya wujud namun tiada dapat diuraikan dan dijelaskan. Ini adalah menerangkan keadaan Allah, yang sangat serba samar, tiada rupa, tiada bersuara, bukan lelaki bukan perempuan bukan waria, tiada terlihat, tiada bertempat, dijamah disentuh tiada dapat.  Sebelum adanya dunia dan akherat, yang ada adalah Hidup Kita.

10. La – Lali eling wewatesane (Lupa dan Ingat adalah batasannya).

Untuk dapat selalu berada didalam jalan hayu/rahayu maka haruslah selalu eling/ingat akan sangkan paraning dumadi dan eling/ingat akan Yang Menitahkan/ Sumber Hidup.  Selalu ingat akan tata laku setiap tindak tanduk yang dijalankannya agar selaras dengan Karsa Allah.  Lali/lupa akan menjauhkan dari sangkan paraning dumadi dan menjerumuskan kealam kegelapan. Contoh lupa adalah bagaikan Begawan Wisrawa dalam menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Dewi Sukesi.  Tak tahan akan goda/ tak kuasa ngracut, mengendalikan nafsu-nafsu keempat saudara, maka sang Begawan kesengsem birahi kepada Dewi Sukesi yang harusnya menjadi menantunya.

11. Pa – Papan kang tanpa kiblat (Papan tak berkiblat).

Ini adalah menerangkan Alam Sejati, ya Kerajaan Allah yang tiada dapat diterangkan bagaimana dan dimana orientasinya, bagaikan papan yang tiada utara-selatan-barat-timur-atas-bawah.

12. Dha – Dhuwur wekasane endhek wiwitane (Tinggi/luhur pada akhirnya, rendah pada awalnya).

Untuk memperoleh tingkatan luhuring batin menjadi insan sempurna memang tidak dapat seketika, mesti diperoleh setapak-setapak dari bawah. Demikian pula dalam hal ilmu kasampurnan, dalam mencapai tataran ma’rifat tidaklah dapat langsung meloncat. Untuk bisa mengetahui dan memahami makna Ha, maka haruslah dicapai dari Nga.  Sebelum mencapai sembah rasa, haruslah dilalui sembah raga dan sembah kalbu/ sembah jiwa terlebih dahulu. Pertama, adalah panembah raga/ kawula terhadap Roh Suci, kedua, adalah panembah Roh Suci kepada Guru Sejati, dan terakhir adalah panembah Guru Sejati/ Ingsun kepada Allah Yang Maha Agung ya Suksma Kawekas.

13. Ja – Jumbuhing kawula lan Gusti (Bersatunya antara hamba dan Tuan nya).

Bersatunya titah dan Yang Menitahkannya. Untuk mencapainya maka kesempurnaan hiduplah yang diupaya yaitu sesuai apa yang dimaksud dalam sahadat.  Maka semasa hidup di mayapada/dunia, bersatunya/ sinkronisasi Roh Sejati, Ingsun yang jumeneng pribadi dan busana-busana haruslah terjaga. Bagaikan keris manjing dalam wrangkanya dan wrangka manjing didalam keris. Untuk dapat mencapai kesatuan antara kawula dan Gusti maka tuntunan seorang guru yaitu Guru Sejati menjadi dominan. Untuk memperoleh nya maka tidaklah mudah, haruslah dengan disiplin keras bagaikan kerasnya usaha seorang Bima menemukan Dewa Ruci, yaitu wujud Bima dalam ujud yang kecil (manusia telah menemukan AKU nya sendiri) dalam mencari tirta pawitra.

14. Ya – Yen rumangsa tanpa karsa (Kalau merasa tanpa kehendak).

Hanya dengan rila/rela, narima, sumarah/pasrah kepada Allah tanpa pamrih lain-lain, namun dorongan karena kasih sajalah yang akhirnya dapat menjadi perekat yang kuat antara asal dan tujuan, sini dan sana.

15. Ny –  Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki (Melihat tanpa dengan mata, mengerti tanpa diajari).

Kalau anugerah Allah telah diterima, maka dapat melihat hal-hal yang kasat mata, karena mata batin telah “terbuka”. Selain itu, kuasa-kuasa agung akan diberikan oleh Allah lewat Guru Sejatinya sendiri ya Suksma Sejatinya, sehingga kegaiban-kegaiban yang merupakan misteri kehidupan dapat dimengertinya dan diselaminya. Mendapatkan ilmu kasampurnan dari dalam sanubarinya, tanpa melalui perantaraan otak/akal.

16. Ma – Mati bisa bali (Mati bisa kembali).

Kasih Allah yang luar biasa selalu memberikan ampunan kepada setiap manusia yang “mati” terjatuh dalam dosa dan salah.  Matinya raga atau badan wadag hanyalah matinya keempat anasir yang tadinya tiada, kembali ketiada. Namun roh yang sifatnya kekal tiada pernah mati, namun kembali ke Alam Sejati ya Kerajaan Allah yang tiada awal dan akhir. Namun, apabila selama hidupnya di mayapada tidak sesuai dengan Karsa Allah, melupakan Allah dan ajaran Guru Sejati, tiada dapat ngracut busana kamanungsan nya untuk tindakan-tindakan budi luhur, maka tidaklah dapat langsung kembali ke Alam Sejati, namun terperosok ke alam-alam yang tingkatannya lebih rendah sesuai dengan bobot kesalahannya, atau dititahkan kembali, yang kesemua itu untuk dapat memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

17. Ga – Guru Sejati kang muruki (Guru Sejati yang mengajari).

Sumber segala sesuatu adalah Allah yang dipancarkan lewat Sang Guru Sejati/Ingsun/Rasul Sejati.  Maka hanya kepadaNya lah tuntunan harusnya diperoleh.  Petunjuk Guru Sejati hanya dapat didengar dan diterima apabila sudah dapat berhasil meracut busana kamanungsan nya.  Disinilah akan tercapai guruku ya AKU, muridKU ya aku.

18. Ba – Bayu Sejati kang andalani (Dengan bantuan Bayu Sejati).

Daya kekuatan sejati yang merupakan bayangan daya kekuatan Allah lah yang mendorong “pencapaian” tingkat-tingkat yang lebih tinggi atau maksud-maksud spirituil yang berarti.

19. Tha – Thukul saka niat (Tumbuh/muncul dari niat).

Niat menuju kearah sangkan paraning dumadi yang didasari kesucian, tanpa kehendak dan keinginan ataupun pamrih keduniawian.  Timbulnya niat suci karena dasarnya adalah cinta /kasih Illahi.

20. Nga – Ngracut busananing manungsa (Merajut/menjalin pakaian-pakaian ke-manusiaan-nya).

Busana kamanungsan adalah empat anasir, yang dimanifestasikan dalam wujud-wujud sedulur empat, serta lima sedulur lainnya. Kesembilan saudara tersebut harus dikuasai, diracut/dijalin dengan memahami kelebihan dan kekurangannya, agar tercapai “iklim” harmoni/balance dalam perjalanan manusia hidup di maya pada ini, yang pada akhirnya tercapailah kesempurnaan hidup.

About these ads

71 comments on ““Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

  1. pamuji rahayu……

    sugeng tetepangan malih kaliyan kangmas gundhul sing bagus dhewe :mrgreen:
    tulisan ini sungguh melengkapi tulisan saya disini promosi sithik…..

    o iya kang semoga badai2 fitnah itu segera berlalu……

    o iya meneh nek slulup nang samudro ki ojok suwe2 mengko ndak dadi buto koyo aku :mrgreen:

    salam sihkatresnan…..

  2. Pamuji rahayu..

    kang Gun.. pancen panjenengan tansah sampun sawetara lami ( 21 hari kula kinten ) ke dunia maya -mboten muncul.. nanging begitu muncul sampun mbabar Hayuningrat pangruwating diyu.. Rah.. kang kudu diruwat.. supaya Rahayu hayu .. kasampurnan dzat kasunyatan ing dumadi.., wah.. kang Gun…. mugya panjenengan tansah tinarbuka samubarangipun.. , kabar penjenengan sampun pikantuk ungguling janma kang sinebut wonten ing tlatah keprabon sak indenging jaba jero Nuswantara.. kepripun Ki.. sampun pepak anggenipun jejibahan lahir bathin.. nyuwun gunging pangaksami..
    nuwun
    salam sihkatresnan
    Rahayu…,

  3. Sebelumnya maaf…. saya salah 1 murid dari Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu.
    sampai sekarang saya mencari arti yang sesungguhnya tentang SJ(Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu) tapi belum ada jawaban yang sreg…
    ada beberapa pertanyaan yang saya ingin cari tahu

    1.darimanakah Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu itu berasal?karena selama ini yang aku dengar aku baca dan aku lihat hanya serampangan dari pewayangan?
    2.cakra ku di buka paksa oleh seorang teman q yang notabene dia keturunan siluman harimau putih dari palembang.
    3.apa benar jika menunjukan secara detail masa depan orang maka umurnya akan berkurang… (karena setelah dibuka cakra alhamdulillah saya mendapat sedikit kelebihan…
    4.guru SJ saya pernah bilang, Ilmu SJ itu mendarah daging(tidak bisa di hilangkan),apa benar?
    mungkin sementara itu dulu meski sebenarnya banyak pertanyaan yang saya ajukan

    terima kasih jika mau membalas tanggapan saya ini dan pertanyaan2 saya

  4. Sebelumnya maaf…. saya salah 1 murid dari Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu.
    sampai sekarang saya mencari arti yang sesungguhnya tentang SJ(Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu) tapi belum ada jawaban yang sreg…
    ada beberapa pertanyaan yang saya ingin cari tahu

    1.darimanakah Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu itu berasal?karena selama ini yang aku dengar aku baca dan aku lihat hanya serampangan dari pewayangan?
    2.cakra ku di buka paksa oleh seorang teman q yang notabene dia keturunan siluman harimau putih dari palembang.apakah ada dampak buruknya untuk seseorang yang punya dasar ilmu SJ?
    3.apa benar jika menunjukan secara detail masa depan orang maka umurnya akan berkurang… (karena setelah dibuka cakra alhamdulillah saya mendapat sedikit kelebihan…
    4.guru SJ saya pernah bilang, Ilmu SJ itu mendarah daging(tidak bisa di hilangkan),apa benar?
    mungkin sementara itu dulu meski sebenarnya banyak pertanyaan yang saya ajukan

    terima kasih jika mau membalas tanggapan saya ini dan pertanyaan2 saya

  5. RAHAYU,
    TULISAN KANG MANDUWUR SAMPUN SAE KANGGO ANGELURI BUDAYA JAWA
    COBI LEK SAGET TATA CARA NING GAYUH SANKAN PARANING DUMADI DIPUN MUAT
    KANGO ANCER2 PARA MUDA ANGGONE ANGELURI BUDAYA JAWA
    MATUR NUWUN SAKING KULA *JAWI KINO*

  6. RAHAYU..3X

    Datanglah…
    menyelinap kemataku Sungguh takukenali Sapamu…
    pernah kutanyakan kpd diriku namun sia sia yg kutemui hanya diriku saja…
    datanglah berdiamlah di mata ini agar kudapat melihat berkelebatnya kilauan matahari saat embun menetes…
    agar kudpt melihatmu ketika cahaya bintang menerpa.. butiran air tergelincir dr mata ini…
    dan agar kubisa menerka nerka semua kilauan warna yg pernah kauucapkan…

  7. Jika ada yang berminat “dibuka dan dibabarkan” kawruh sastra jendra, jangan sungkan menghubungi saya. 08887187592.

  8. Terima kasih atas segala penjelasan ttg SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT…
    Saya Hendrik asal Bandar Lampung ,saran semoga artikel mengenai SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT agar tetap diperkenalkan kepada semua halayak karna ini adalah ilmu dari segala ilmu yang benar (untuk kebaikan umat manusia bagi yang memahami).

  9. Sugeng Rahayu,
    Sugeng tetepangan,

    Menawi kepareng nambahi lan njangkepi punopo ingkang sampun dipun serat kalihan denmas SASTRA JENDRA, serat Sastra Jendra menika ingkang sepindah dipun munculaken dening Prabu Jaya Baya, miturut pinutur saking babad kitab perimbon jawi.
    Sak sanesipun serat ing inggil ugi wonten malih ingkang sak mestinipun dados setunggal petunngilan kaliyan serat menika. Bok bilih sampun dipun serat kalihan “M4stono” wonten nginggil artikel punika. kepareng kulo nambahi kagem njangkepi, mugi-mugi saget migunani dhateng panjenenganinpun ingkang maos..

    HA NA CA RA KA
    Yang berasal dari kata “HANA CARAKAN” yang berarti “Ada suatu perintah / titah / firman / Wahyu” dari Allah yang wajib dilakukan oleh semua mahluk. Setiap manusia diberikan dan mempunyai kepercayaannya sendiri-sendiri, dalam kepercayaannya itu menerangkan, bahwa mereka mendapat suatu perintah atau titah atau firman untuk berbuat baik dan menjalankan segala amal ibadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Karena setiap firman atau ajaran yang diberikan / diturunkan, semuanya tidak ada yang mengajarkan tentang keburukan, kemaksiatan, iri dengki, dan semua keburukan lain.

    DA TA SA WA LA
    Yang berasal dari kata “DATAN SUWALA” yang berarti “Tidak Boleh Mengeluh”. Setiap manusia dimayapada / didunia / dibumi yang mempunyai kepercayaan diatas haruslah dengan ikhlas menjalani semua perintah-perintah / ajaran / firman yang diturunkan / diwahyukan kepadanya. Karena di Mayapada sendiri itu semua diciptakan oleh Yang Maha Kuasa ada dua, untuk adanya keseimbangan didalam hidup. Manusia harus saling memahami, mengerti, bantu membantu, agar dapat tercipta suasana yang damai. Semua mahluk telah diberikan akal budi, hikmat, menurut porsinya masing-masing, tinggal mahluk itu sendiri mau mengembangkan atau tidak. Seharusnya jika kita bisa menahami dan mengerti tentang ini, tidak akan ada yang namanya mengeluh, bersungut sungut, iri dll.

    PA DA JA YA NYA
    Yangberasal dari kata “PADA JAYANYA” yang berarti “Sama-sama menang atau sama kuat”. Allah menciptakan semua yang ada didunia berpasangan. Supaya mereka bisa saling melengkapi, dan bisa ada suatu keseimbangan di dunia dan dalam kehidupan.
    Sebagai contoh:
    Mahluk hidup diciptakan ada dua, Laki-laki dan Perempuan.
    Ada terang dan ada Gelap
    Ada hitam dan ada putih (warna yang ada kalau digabung akan menjadi hitam)
    Ada pahit dan ada manis.
    Semua itu diciptakan Allah / Yang Maha Kuasa agar dapat terjadi keseimbangan dalam hidup. Allah sendiri terlah merencanakansemua itu untuk dijalankan, dilakukan dan di jaga oleh manusia. Jadi semua itu haruslah seimbang, jika tidak, maka akan terjadi bencana yang besar kecilnya tergantung dari penyelewengan terhadap keseimbangan tersebut.

    MA GA BA THA NGA
    Yang berasal dari kata “MONGGO BATHANGIPUN” yang berarti “Inilah jasadnya” atau barangnya. Jika telah ada keseimbangan dalam kehidupan, maka akan tercipta sesuatu yang baru yang akan mewarisi keseimbangan tersebut. Bersatunya Dzat yang diciptakan Allah akan memunculkan sesuatu yang luar biasa, dilaur akal manusia. Hal tersebut bisa dimengerti, karene itu adalah rahasia Alam Semesta yang diciptakan Allah, yang merupakan Dzat Yang Maha Kuasa. Bisa juga diartikan jika mahluk-mahluk yang ada melanggar keseimbangan dan ingin menang sendiri, maka akan tercipta suasana yang kacau balau. Akan ada kematian yang luar biasa dan semua yang ada akan hancur tanpa sisa.

    matur nuwun,
    Salam.
    “Hong Wilaheng Ngawingena Mastu Mastuti Sekaring Bawono Langgeng..”

  10. hinggil kaweruh panjenengan
    nderek ngangsu nadyan klenting kulo namung alit
    mugi mugi toyanipun saged kangge sesuci pikir twin hati

  11. Saya mau bertanya apakah ada yang tahu tentang saatnya kita meninggal (kembali) sesuai dengan Q.S. Al Baqarah 180. Dan kalau ada yang tahu tentang saatnya jalannya lewat mana? Demikian mohon pencerahannya

  12. heheheh wes bener,yensalah wajibpe benerake heheheh,mung piye poro pemuda pemudi tanah nusatara bisane ngayuh lan ngaweruhi yen kabeh mau iku kang nyoto anane,wujute pengadilan gaib wes ono ononeng pribadine dew-dewe,ben cepet olehe bangun bumi suci nusantara indonesia.mari saudaraku semua membangun indonesia dengan berbudi pekerti yang luhur,kesuwen ngenteni pemerintah indonesia,lah….pemimpine lali karo rakyate dewe,lali marang uripe dewe,rakyat seng mempen sekarang dengan ahlak,moral,budipekerti,yooo podo eleng karo uripe lan manusianya,perikemanusianya yang adil dan beradap,nganggo Pancasila

  13. rahayu,….
    nderek tepang kakang mas sedoyo…
    kulo nggih pernah diparingi tulisan jowo sak wedarane…sak mangke kulo nyuwun bimbingan nggih ……? sedoyo kemawon…
    HO = HANAMING HONO HENENGE HURIP
    NO = NUR NOTO
    CO = CIPTO CAHYO CAHYONING
    RO = ROSO RASANING
    KO = KAHANAN KASUNYATAN

    DO = DADHUMADHI
    TO = TEKO TANPO SRONO
    SO = SEJATI SAK JRONING TAN ONO NING
    WO = WEWAYANGAN WINARAH WEWATON
    LO = LELAMPAHAN LELANTARAN

    PO = PANGERAN PRIBADI SUCI
    DHO = DANYANG PAMOMONG
    JO = JALMO JAGAD JUMENENG
    YO = YONI
    NYO = NYOWO NYAWIJI NYOTO SAK NYATANE

    MO = MANUNGSO MANUNGGAL
    NGGO = GEGAMBARAN KANG GINARIS
    BO = BATHOS BADHAN BATHIN BAWONO
    TO = TUMINDAK TAN KENO ORA TAN ONO
    NGO = NGAWETAN NGAWULO WANTAH

    kulo nyuwun pepadhange manah kulo mengenai artos jabaranipun tulisan kulo niki
    suwun sak derengipun….
    salam rahayu…..

  14. rahayu,….
    namung nderek nepangaken kakang mas sedoyo…monggo dilajeng kawulo nderekmawon…alias wis pokoke melu….

  15. didalam ilmu sastra jendral ayu ningrat pangruwating diyu ada hurup yang di gandeng ????
    seperti :
    1.

  16. kenapa didalam ilmu sastra jendral ayu ningrat pangruwating diyu ada hurup yang di gandeng ????
    seperti
    1 + 20
    2 + 19
    3 + 18
    dan seterus nya

  17. saya br tahu tentang sastrajendra hayuningrat,terus terang saya sangat tertarik,dan saya kepingin mendalami kawruh jiwa,jika ada yg sudi berbagi kuucap terimakasih

  18. Aksara jawa iku sabenere sing ngajarke sopo tow….lha kok aku krungu2 ono sing nyebut AJISAKA,ana sing nyebut SUNAN KALI JAGA,lan ono maneh soko cerito PEWAYANGAN….sing bener sing endi…..

  19. Ass..
    Slam sejahtra untk kita smua.
    Knalkan sya Meggy dri Bengkulu. Sya sla satu murid dri guru kasar RADEN HUJAN PANAS.
    Wasalam…

  20. sastra jendra hayu ningrat sastra barangnya ad 7 d badan jendra menjadi 4 hayuningrat menjadi 1 itulah cakra dan inti ajaran rahasianya dan kesaktiannya pun bisa lsg d tes! tertarik hub sy..Tb.Nurdaimul haq 085925162197

  21. ASAH ASIH ASUH,,,Mungkin ilmu yg dijabarkan diatas tdk sulit dibaca,,,tapi sangat amat teramat sulit dikuasai dan di laksanakan.

  22. sastra jendra hayu ningrat 7 d badan yaitu jumlah lapisan tubuh, lobang d kepala,di tutup menjadi sukmantaya menjadi 4 wujud gaibnya pengliatan pendengaran pengliatan dan rasanya lalu menjadi satu yaitu syahadat sejati atau mayanggo seto nah inilah makom manusia sejati yg akan sekti tanpo aji ,arif bijaksana,waliulwahid,dan latif maujud..tb.Nurdaim

  23. Saya ingin belajar lebh tahu karena kebetulan romo saya juga menganut ilmu kejawen SASTRA JENDRA HAYU NINGRAT..
    Dan ingn lebh tahu,yg saya tahu romo setiap syuro selalu melakukan wejangan ke murid2nya,,
    patrap 1,patrap2,patrap3,itulah yg aku tahu tentang tingkatan yg menganuT ilmu sastra jendra…
    Saya ingn lbh tahu tentang ilmu sastra jendra

  24. Seorang Filsuf Sunda;
    Mandalajati Niskala
    Menjelaskan Dalam Buku
    SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
    Mengenai Filsafat
    Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu
    Yang Ada Kaitannya Dengan Bahasa Ibu

    Filsafat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu oleh Mandalajati Niskala dianalogikan bagai sebuah kotak yang berisi rahasia besar. Kotak itu berukuran panjang 1M, lebar 1M dan tinggi 1M. Kotak terbuat dari bahan yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan apapun, sebab kotak itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian kotak dikunci dengan gembok rahasia yang juga tidak bisa dibobol oleh kekuatan apapun karena gembok rahasia itupun diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Di atas kotak tersebut diletakan Handbook sebagai pedoman untuk membuka kotak rahasia, dan harus didahului bagaimana caranya menbuka gembok rahasia itu. Jika gembok rahasia telah mampu dibuka, didalamnya terdapat isi yang sangat rahasia dan misteri yang bernama Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Aneh bin ajaib jangankan isi kotak, gemboknya saja hingga kini abad 21 belum ada yang sanggup membuka.
    Handbook kotak tersebut berisi simpul-simpul dan simpul-silmpul tersebut merupakan cerita; Resi Wisrawa memulai penjabaran apa arti ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Namun sebelum wejangan berupa penjabaran makna ilmu Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu diajarkan kepada Dewi Sukesih, Resi Wisrawa memberikan sekilas tentang ilmu itu kepada Sang Prabu Sumali. Resi Wisrawa berkata lembut, bahwa seyogyanya tak usah terburu-buru, kehendak Sang Prabu Sumali pasti terlaksana. Jika dengan sesungguhnya menghendaki keutamaan dan ingin mengetahui arti sastra jendra. Ajaran Ilmu Sastra Jendra itu adalah, barang siapa yang menyadari dan menaati benar makna yang terkandung di dalam ajaran itu akan dapat mengenal watak diri pribadi. Nafsu-nafsu ini selanjutnya dipupuk, dikembangkan dengan sungguh-sungguh secara jujur, di bawah pimpinan kesadaran yang baik dan bersifat jujur. Dalam pada itu yang sifat buruk jahat dilenyapkan dan yang bersifat baik dikembangkan sejauh mungkin. Kesemuanya di bawah pimpinan kebijaksanaan yang bersifat luhur, dan seterusnya……, dan seterusnya hingga cerita tuntas setebal buku.

    Handbook itu diperebutkan dan diklaim sebagai kitab Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Muncullah disana-sini akhli kitab Sastra Jendra, sebab disangkanya Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu itu berupa “KIWIR KIWIR SETEBAL BUKU”, padahal buku yang terletak diatas kotak itu, hanyalah sebuah Handbook untuk membuka gembok rahasia agar kotak dapat dibuka.
    Jika kotak ternyata dapat dibuka karena Handbook dibaca dengan benar, di dalam kotakpun masih ada Handbook lainnya sebagai pegangan tata-titi untuk membuka rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Sampai saat ini kotak itu masih tertutup rapat dan gembok rahasiapun belum ada yang sanggup membuka.
    Ketahuilah jika nanti Gembok rahasia dapat diketahui kuncinya, sehingga kotak itu dapat dibuka, maka Kitab Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu beserta Handbooknya HILANG DITELAN ALAM atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, melanglang jagat “Trimurti” menemui “Sejati Diri”, mengendap merelung darah “HUDAR, HADIR, HIDIR”, sehingga orang yang berebut untuk mewarisinya hanya mendapati kotak dengan RUANG KOSONG.
    Inilah sebuah analogi yang disampaikan oleh Mandalajati Niskala mengenai Filsafat Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu yang masih menjadi sebuah misteri besar dalam dunia filsafat dan spiritual.
    Menurut pandangan Mandalajati Niskala bahwa Filsafat Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu merupakan kamus ilmu yang tanpa limit dalam sebuah sistem filsafat kehidupan semesta, namun hingga kini bagi banyak kalangan akhli masih terbalut selaput tebal. Mandalajati Niskala mampu menyingkapnya menjadi sebuah mustika ilmu pengetahaun yang luar bisa. Jujur saja rata-rata para pakar seperti kami, tidak faham akan kandungan filsafat Sastra Jendra dan hanya terjebak pada alur cerita Wisrawa, Dewi Sukesih, dll. Terbongkarnya kandungan filsafat Sastra Jendra oleh Mandalajati Niskala, ditandai dengan penjelasan panjang lebar yang beliau sampaikan pada bahasan filsafat di banyak pertemuan. Akibatnya banyak kalangan yang intinya ingin memahami lebih jaun mengenai Sastra Jendra dan bertanya kepada beliau tentang rahasia yang terkandung didalamnya. Kami mengikuti dan mengamati apa yang dijelaskan Mandalajati Niskala sangat berbeda dengan yang dipahami oleh mereka yang mengklaim para akhli budaya. Mereka umumnya hingga kini masih buta dan meraba-raba. Gambaran rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu ditandai dengan lahirnya syair “Nitis Ngawanci” yang beliau tulis sebagai berikut:

    Cur pulung Mandala Agung,-
    Mandala Sastrahing Jendra,-
    Mandala Hayuning Ratu,-
    Mandala Pangruwating Diyu,-
    Mandala jatining rasa
    Geus ngucur jati rahayu,-
    Jati Langit Lohing Mahpud,-
    Nitis Bumi Loh Jinawi,-
    Nitis sumereping ati,-
    Ati kula ati Sunda,-
    Matarema Insun – Dia,-
    Ati rasa nu sajati,-
    Nu ngancik na jero diri.
    Pur ngempur cahyahing Mandalajati,
    nu ngebrak gilang gumilang,
    Nu hurung jero kurungan
    Pur ngempur Mandala Agung Cahyahing gilang gumilang
    Nu nyaangan Pawenangan
    Sastrahing Jendra Hayuning Ratu Pangruwating Diyu
    PANGGUMULUNG “keun upayakeun” Mandala Jati
    kana “kun fayakuning” Mandala Agung.

    Rep rerep sumerep-hing gumulung nyarungsum balung
    Tis nitis tumitis-hing ngagetih ngaati
    Jleg ngadeg Sastra-hing Jendra
    Hayun-hing Ratu Pangruwat-hing Diyu
    Nyurup ngamanusa Sunda
    Dina adegan Khalifah,-

    Begitu dasyat kandungan syair Nitis Ngawanci, yang menyebabkan kami ingin menggali lebih jauh. Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu dalam penjelasan Mandalajati Niskala yang sempat kami simak, ternyata sebuah wahana rahasia raksasa yang tersimpan di Lauh Mahfud yang merupakan Trinata dari Sistem Asmaakullaha, yang kemudian melahirkan seluruh system turunan lainnya diantranya; Sistem Tatanan Ilmu Kalam, Sistem Tatanan Kehidupan, Sistem Tatanan Wujud dsb. Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu hanyalah sebuah istilah yang dibuat berdasarkan kaidah pada ketetapan Tuhan YMK dalam Ayat Kauniyah, bukan pada Ayat-ayat Kauliyah. Kandungannya tidak mungkin dapat dikitabkan karena Maha Luas, Maha Menyeluruh dan tanpa limit, mengikuti sifat-sifat Tuhan Yang Maha Segalanya. Jika ada orang mengatakan bahwa ada kitab Sastra Jendra karangan Si A, Si B dan seterusnya, jelas itu merupakan kebohongan nyata yang lahir dari sifat kebodohan dan ketidakfahaman akan Sastra Jendra itu sendiri. Demikian kata Mandalajati Niskala. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah Sistem Tri Tangtu di Buana yang tidak terlepas dan merunut pada hukum-hukum Tuhan yang bermula dari sebuah titik Jawahar Awal sebagai “ASAL MUASAL” kehidupan, surup ke Jawahar Akhir.
    Sastra Jendra tak lain adalah cahaya ilmu yang di pancarkan dari LOH MAHFUD (Loh=Lauh) menerangi LOH JINAWI sebagai titik pusat Bumi, yang terletak di Puser Parahyangan. LOH MAHFUD sendiri adalah sebagai Pusat dan Dokumentasi ilmu Jagat Raya yang tanpa limit. Karena itu Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu adalah merupakan sebuah ILMU KALAM yang maha luas dan tanpa limit, yang berada di Lauh Mahfud sebagai Pusat Ilmu Alam Semesta, yang dapat diakses pada Pusat Bumi Lauh Jinawi sebagai Pusat Pemerintahan Sang Ratu Adil.
    Ilmu Kalam tanpa limit adalah ilmu sastra yang maha luas tanpa limit. Maha luas tanpa limit disebut JENDRA. Kalau memiliki titik limit tidak disebut JENDRA tetapi disebutnya JENDRAL. Dengan demikian maka arti Sastra Jendra sebenarnya adalah SEBUAH ILMU RAHASIA BAHASA YANG MEMILIKI KEKAYAAN KOSAKATA YANG TANPA LIMIT. itulah Bahasa Sunda yang tanpa limit sebagai Handbook yang akan membongkar rahasia Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu.
    Kalau tidak percaya, coba bandingkan antara kamus bahasa Inggris yang hanya memiliki perbendaharaan 100.000 kosakata dengan bahasa Sunda Saptapuraga yang memiliki perbendaharaan kata sebanyak 1.300 TRILIUN KOSAKATA. Apabila kosakata Saptapuraga dijadikan kamus seperti kamus bahasa inggris, maka akan berjumlah 13 MILIAR KAMUS. Jika ukuran volume kamus bahasa Inggris 25X30X8cm yaitu 6.000cm3 atau 0,006M3 maka volume kamus bahasa Sunda Saptapuraga adalah 78 JUTA METER KUBIK. Jika kamus disusun dengan ketinggian satu meter maka lahan yang dibutuhkan untuk menyimpan kamus tersebut seluas 78 JUTA METER PERSEGI. Dapat dibayangkan Kota Bandung akan penuh dengan kamus bahasa Sunda Saptapuraga. Demikian Mandalajati Niskala menjelaskan kepada kami.
    Semua orang akan merasa heran dengan jumlah kosakata bahasa Sunda sebanyak itu. Kami mencoba menanyakan dengan maksud supaya kami betul-betul yakin terhadap ucapan Mandalajati Niskala: “Apakah betul kosakata bahasa Sunda seluruhnya ada 1.300 Triliun Kosakata”?
    Mandalajati Niskala menjawab:
    “SALAH……. Saya katakan tanpa limit, BUKAN SEBANYAK ITU. Itu hanya dalam cakupan Saptapuraga, maksudnya hanya contoh untuk dibandingkan dengan “KAMUS YAHUDI””.

    Waduh……., penulis tambah bingung dan tambah penasaran. Baik kami akan mencoba bertanya terus untuk meyakinkan kami dan para pembaca: “Apakah 1.300 TRILIUN KOSAKATA anda mamahaminya”?
    Mandalajati Niskala menjawab:

    “Bukan memahaminnya tapi insyaalloh saya hafal seluruhnya di luar kepala”.

    Tentu saja sangat mengagetkan, setengah tidak percaya namun keyakinan yang terpantul pada raut wajah Mandalajati Niskala dengan jawaban yang tandas, menjadikan rasa penasaran kami semakin meningkat.
    Kami tanyakan lebih jauh: “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membaca kamus sebanyak 1.300 Triliun Kosakata”? Beliau menjawab sambil seloroh:

    “Wa…ah anda pura-pura tidak bisa menghitung. Begini, jika membaca satu kosakata membutuhkan waktu rata-rata 2 detik, kemudian kita baca kamus tersebut terus menerus sampai selesai tanpa istirahat, maka waktu yang dibutuhkan adalah 80 JUTA TAHUN. Silakan anda hitung sendiri…!!! Heheeh lucu ya…!!!”

    Mandalajati Niskala menatap dengan mata yang disorotkan sambil langsung menebak kebenaran perasaan kami dengan sebuah pertanyaan sebagai berikut:
    “Pasti anda akan bertanya manusia mana yang punya umur sepanjang itu?”

    Bener juga tebakan Mandalajati Niskala ini….! Selanjutnya kami mencoba mengkorek pendapat Mandalajati Niskala mengenai para Budayawan Sunda: “Kalau boleh saya tahu; Apakah seperti Ajip Rosidi, Hidayat Suryalaga alm., Nina Lubis, Ibu Oce Jungjunan dan lain-lain yang memiliki predikat sebagai Akhli Budaya Sunda memahami masalah ini; Soalnya kami perhatikan berpuluh tahun mereka malah punya pemahaman bahwa kosakata bahasa Sunda banyak menyerap dari bahasa lain”?
    Jawaban Mandalajati Niskala: “Maaf disiplin ilmu tiap orang bisa berbeda. Demikian pula pasti mereka punya rujukan ilmu. Saya yakin tiap orang punya kelebihan pada disiplin ilmunya, karena mereka semua mengorbankan waktu untuk sebuah ilmu. Janganlah hal-hal yang saya uraikan dijadikan standar untuk mengukur kompetensi orang lain, sebab bisa jadi dapat merusak citra orang lain”.

    Para Pembaca Mandalajati seperti yang malas untuk mengkritisi para akhli budaya, selanjutnya Mandalajati Niskala menjelaskan bahwa bahasa Sunda adalah bahasa primer tanpa limit yang tak lain adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu.
    Tutur Mandalajati Niskala berikutnya: “Ada tiga filsafat kalam yang semuanya tanpa limit, yaitu Filsafat Sastra Jendra, Filsafat Hayu Ningrat dan Filsafat Pangruwating Diyu. Itulah yang seyogyanya dibongkar oleh para filsuf, kemudian diregulasi oleh para ilmuwan menjadi sajian ilmu. Sehingga hasanah pengetahuan yang luar bisaa ini tidak distigma sebagai mitos. Anggapan mitos terhadap hasanah kekayaan Sunda bisa jadi hanya dikarenakan ketidaktahuan dan ketidakfahaman mengenai Filsafat Sunda.
    Para filsuf Sunda sampai hari ini masih sembunyi. Mereka punya tugas yang lebih dari sekedar diskusi di forum-forum. Mereka semua sedang berhadapan dengan Dazal dan Yahudi. Perlu saya tegaskan, sebenarnya jika rahasia Sastra Jendra terbuka maka terbukalah Dunia dan telanjanglah Dazal dan Yahudi yang selalu memanipulasi ilmu pengetahuan. Tidak boleh menutup mata bahwa ilmu pengetahuan yang kita konsumsi saat ini adalah produk Dzal dan Yahudi. Baik itu masuk melalui PINTU BARAT maupun masuk melalui PINTU TIMUR. Sastra Jendra tak lain adalah ilmu kalam berupa AYATULLAH KAUNIYAH untuk membuka kebenaran rahasia alam ini.
    Sekian lama Sastra Jendra bergeser dari titik pusatnya. Diluar pusatnya manusia manapun tidak akan sanggup untuk membongkar kandungannya, karena kandungan Sastra Jendra harus dibongkar menggunakan bahasa primer yaitu bahasa Sunda. Jika demikian bahasa Sunda memiliki kecakapan untuk menterjemahkan ‘makna energy’ seluruh bahasa di Dunia. INILAH YANG DIMAKSUDKAN BAHASA IBU ATAU IBU BAHASA. Bahasa Ibu atau Ibu bahasa tak lain Bahasa Babon atau Bahasa Bibit. Bahasa ini tentunya sebagai bahasa wiwitan yang fitrah, yang sejatinya adalah bahasa yang dipakai oleh Ibu Hawa. Bahasa-bahasa yang sekarang dipakai diseluruh permukaan Bumi adalah merupakan bahasa turunannya YANG SEYOGYANYA DIKATAKAN SEBAGAI BAHASA ANAK atau ANAK BAHASA. Kita digiring mengikuti jalan pikiran Dazal dan Yahudi yang sengaja berniat memanipulasi supaya manusia lupa kepada bahasa ibunya yang asli, yaitu Bahasa Sunda. Semua bahasa dikatakan sebagai bahasa Ibu dan istilah IBU BAHASA ditiadakan diganti dengan istilah BAHASA IBU, dengan maksud untuk mempermudah memanipulasikan makna. Istilah Ibu Bahasa disembunyikan, kemudian dipublikasikan istilah Bahasa Ibu dalam berbagai konfrensi bahasa untuk melahirkan devinisi. Gagasan kejahatan ini berlangsung sangat tidak terasa. Intinya AKAN MENGHILANGKAN KEBERADAAN BAHASA BABON, SEBAB BAHASA BABON ITU AKAN MENGARAH KEPADA BAHASA SUNDA”.
    Demikian yang dituturkan Mandalajati Niskala sambil menambahkan:
    “Saya tegaskan. Sebenarnya yang dimaksud oleh Dazal dan Yahudi bahwa bahasa Ibu itu adalah Ibu bahasa. Selanjutnya Boleh-boleh saja bahasa manapun mengatakan sebagai Bahasa Ibu atau Ibu bahasa asal mampu memenuhi syarat-syarat sebagai bahasa ibu.
    Setelah istilah Ibu bahasa berganti menjadi bahasa Ibu, maka menjadi logis bahasa Ibu itu didefinisikan sebagai bahasa ‘Si Mamah’ kepada anaknya. Harapannya jika ibu-ibu di permukaan Bumi ini lancar berbahasa Inggris, maka dia akan merasa bangga melatihkan tutur kata keseharian kepada anak-anaknya. Suatu saat akan timbul keadaan bahwa bahasa Ibu itu bahasa Inggris, karena secara realita dan fakta bahwa bahasa Inggis merupakan bahasa yang dipakai sebagai tutur kata seorang ‘Mama’ kepada anaknya diseluruh permukaan bumi.
    Jika kondisi sudah seperti ini maka istilah bahasa Ibu akan dikembalikan menjadi Ibu bahasa, dan logis jika dikatakan bahwa Ibu bahasa adalah bahasa Inggris. . . . “Heheheh……, KOP BAE MANGGA DAZAL UPAMI TIASA MAH….!” .
    Mandalajati Niskala membeberkan lebih rinci sebagai berikut:
    “Inilah rekayasa akibat kedengkian Dazal. Ketahuilah bahasa terlahir bukan atas sebuah kesepakatan atau rekayasa manusia. Bahasa akan terlahir mengikuti kaidah alam yang fitrah; yang merupakan ‘energy kalam’ dari PURAGABASA, UNGKARABASA, TANGARABASA, UGABASA dan WARUGABASA. Di sisi lain ada yang namanya AZASI BAHASA dan ‘Panca Maha Buta’. Tentu saja semua orang ‘BLENG’ termasuk ‘Sang Juru Rekayasa’ terhadap istilah dan kosakata di atas.
    Bahasa adalah energy kalam yang muncul alami selaras dengan cakupan alam. Cakupan alam dalam ruang lingkup Semesta Jagat Raya, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA TUHAN atau selanjutnya menjadi BAHASA KHALIFAH. Cakupan alam dalam ruang lingkup Bumi, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA IBU atau disebut sebagai BAHASA IBU HAWA. Cakupan alam dalam ruang lingkup Nusa, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA NUSA atau BAHASA BANGSA. Bahasa yang muncul secara runut dalam ruang lingkup Nusa disebut bahasa et~nusa atau bahasa etnis. Bahasa yang muncul tersebut otomatis akan selaras dengan alam ke~nusa~an yang ada disekitarnya. Inilah yang disebut ANAK BAHASA. Runut munculnya anak
    bahasa sebagai berikut: nu~’SA’ :: ma~nu~’SA’ :: et~nu~’SA’ :: ba~’SA’ (bahasa)
    Belajar bahasa atau sastra bagi para akhli bukan hanya soal belajar bicara, belajar buat puisi dan sebagainya, tapi seyogyanya menyelidiki keberadaan bahasa tersebut sampai pada tingkat filosofi atau tingkat hakekat. Ketahuilah bukan sebuah pendapat atau hipotesa bahwa segala sesuatu itu ada ketentuannya atau hukum-hukumnya. Keberadaan hukum ini menjadi ketetapan Tuhan dalam mengatur keselarasan alam. Selanjutnya hukum ini bisa disebut hukum alam. Demikian juga dalam hal bahasa ada ketentuan alamnya. Ketentuan alam ini disebut KETENTUAN FITRAH dalam berbahasa. Tentu saja semua bahasa memiliki ketentuan Fitrah karena bahasa itu lahir mengikuti ketentuan Tuhan YMK. Bahasa Fitrah yang saya maksudkan adalah bahasa awal yang dipakai umat manusia sejak jaman Ibu Hawa”.
    “Jika kita mancermati secara teliti; sebuah bahasa dapat dikatakan sebagai bahasa awal umat manusia yang digunakan sejak jaman Ibu hawa, harus mampu melahirkan bahasa-bahasa turunannya. Bahasa Ibu Hawa tersebut lazim disebut sebagai Bahasa Ibu; atau Ibu Bahasa atau Bahasa Wiwitan karena memenuhi ketentuan alam SEBAGAI BAHASA AWAL. Inilah yang saya maksudkan bahwa bahasa Sunda sebagai BAHASA AWAL YANG DIGUNAKAN OLEH IBU HAWA, karena memiliki ketentuan alam yang tidak bisa dicapai oleh bahasa manapun.
    Ketentuan alam tersebut sebagai berikut:
    1.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi HUKUM-HUKUM RASIONAL, yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN KOSAKATA yang tanpa limit, karena kekayaan kosakata ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan kosakata yang tenpa limit ini disebut SASTRA JENDRA.
    2.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN IRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN dan KELUHURAN NILAI yang tanpa limit, kerena nilai ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan dan keluhuran nilai yang tanpa limit ini disebut HAYU NINGRAT.
    3.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN HIRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN ENERGI yang tanpa limit, kerena kekayaan energi ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’ Kekayaan energi yang tanpa limit ini disebut PANGRUWATING DIYU”.
    “Saya yakin para akhli sastra, budaya, pilolog, antropolog dsb., akan bingung menyimak tiga ketentuan di atas; Walaupun notabene mereka para akhli, tetap saya mereka sangat tidak faham karena sederat gelar kesarjanaan yang dicapai selama ini dan dijadikan kebanggaan sebagai buah pendidikan hanyalah merupkan korban produk pemikiran Dazal Barat dan Dazal Timur, kemudian dibuat tidak sadar menjadi para propaganda pemikiran Dazal tersebut di dalam Dunia Pendidikan”.

    Mandalajati Niskala menjelaskan lebih lanjut sekaligus mengklarifikasi agar tidak menimbulkah fitnah, bahwa kesalahan itu terletak pada sistem yang dibuat oleh Dazal. Penjelasan beliau sebagai berikut:
    “Saya katakan dengan tegas bahwa sama sekali para akhli di atas tidak salah, karena sistem yang dibuat oleh Dazal yang menjadikan kita tidak sadar; Yang salah adalah dunia pendidikan tidak pernah melahirkan para filsuf yang handal dan hakiki, sehingga sistem dunia pendidikan dikendalikan Dazal Barat maupun Dazal Timur. Mungkin layak kita pertanyakan; Siapa Sang Produser dari Dazal Barat dan Dazal Timur yang bercokol disana? Saya sendiri tidak berniat untuk merubah scenario pendidikan, karena akan membuang energy dan bisa dikatakan melangkah terlalu cepat hingga akan terjebak di kubangan. Soal di atas bukan hal yang pokok dalam sebuah kebangkitan. Biarkan saja jangan hiraukan nantipun akan ada yang merobahnya”.
    Demikian ungkapan Mandalajati Niskala yang tidak bisa kami tuangkan seluruhnya, namun kami telah menagkap kesimpulan bahwa beliau memiliki kekayaan sulur buah fikiran yang luar bisaa. Untuk hal tersebut rasanya kami tidak salah menenpatkan beliau sebagai FILSUF SUNDA Jabangtutuka Satu dari “Seribu Jabangtutuka Sunda” yang secara bergiliran akan muncul pada buku Sang Pembaharu Dunia Di Abad 21.

    Naskah ini dicuplik dari
    Editing penulis buku
    SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21

    Kiriman dari:
    “Oi”

  25. saya pernah mendengar bahwa sastro jendro….pada intinya garis kehidupan manusia setiap manusia membawa sendiri2,juga berbeda beda,dan itu tidak ada yang bisa mengungkap,karena itu adalah hak dan rahasia dari Illahi…..

  26. Ikutan ya Gan..
    Sebagai informasi saja Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah aliran Kepercayaan Kepeda Tuhan YME, bila ingin tahu lebih banyak, mendalami dan menghayati sebaiknya dari sumber yg benar. Didalamnya ada CARAKA Kawedar sebagi titian dalam mencapai hidup yang sempurna. tentunya untuk bisa lebih tahu detail harus Diwejang oleh sesepuhnya atau sesepuh yang ditunjuk oleh Sekretariat Pusat, adapun Sesepuh nya adalah: Kph Darudriyo Sumodiningrat.
    Ilmu Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu yang berkembnag dikalangan tertentu di Kraton, namun untuk melestarikan budaya tersebut Bpk. Kph Darudriyo menyebarkannya ke masyarakat. bila ingin berkenalan dengan beliau silahkan search saja di FB.
    Semoga informasi ini bermanfa’at ya Gan….

    Penghayat SJ

  27. Terimakasih alhamdulilah……akirnya sedikit banyak saya bisa menemukan keraguan yg selama ini saya pelajari tentang sastrajendrahayuningrat.saya harap ilmu ini bisa dikupas lebih dalam….terimakasih……

  28. bukan sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu, dari penulisannya saja salah yg benar adalah SASTRA JEN RAHAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU, SASTRA = tulisan/kitab, JEN = ajen/untuk, RAHAYU=selamat, NING= di, RAT=bumi, PANGRUWAT=membuang, DIYU=raksasa/setan

  29. nama ku dina tri junianto.
    arti nama ini apa?
    knp aku d pilih allah mendapat hidayah nya dan semua keinginan hatiku d kabulkan nya?

    my phone: 085641384111

  30. SELAMAT DATANG
    █▀█║█▀█║║║█║█▀█║║║█║█▀█║█▀█║║█▀█║█▀█
    █▀▀║█▀█║║║█║█▄█║║║█║█▄█║█▀▀█║█▄█║█║█
    ▀║║║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║║▀║▀║▀║▀║▀
    █▀█║█▀█║█║█║█▀█║█▀█
    █▄█║█║█║▀▀█║█▄█║█▀▀█
    ▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║║▀
    SELAMAT BERLOMBA MERAIH GELAR RATU ADIL
    ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀

    ZARO BANDUNG ZARO AGUNG MAJELIS AGUNG
    █▀█║█▀█║█▀█║║█▀█║█║█║█║█║█▀█║█▀█║█▀▀║█▀█║█▀█
    █▀▀║█▀█║█▀▀█║█▄█║█▀█║▀▀█║█▀█║█║█║█║█║█▄█║█║█
    ▀║║║▀║▀║▀║║▀║▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║▀
    █▀█║█▀█║█║█║█▀█║█▀█║║║║▀▀█║█▀█║█║▀▀█║
    █▀█║█║█║▀▀█║█▀█║█▀▀█║║║█▀▀║█║█║█║▀▀█║
    ▀║▀║▀║▀║▀▀▀║▀║▀║▀║║▀║║║▀▀▀║▀▀▀║▀║▀▀▀║
    MANDALAJATI NISKALA
    Sang Pembaharu Dunia Di Abad 21

    • ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀
      Zaro Bandung Zaro Agung
      Majelis Agung Parahyangan Anyar
      adalah Top SDM Parahyangan,
      yang menyandang amanah dalam lingkup
      FILOSOFI IDEOLOGI SPIRITUAL SUNDA,
      yang memiliki otoritas melahirkan
      Khalifatulard “RATU ADIL” di Abad 21

  31. Kulo murid paguyuban sj solo’romo ruspono; niat kulo nyambung silaturohmi kalian poro. Guru mejang ,sebabe guru kulo rm ruspono mpun tilar ndunyo.(Cbg jepara pengasuh kulo pk tumaji tunggul)

  32. mugi rayahu .
    -wilujeng rahayu
    -aksara jawa sak wergine knpa dibolak balik –
    -mohon dibenarkan yang benar-kami bukan menylahkan tp membenarkan. .pngpunten agungeng samudro
    -matur suwun
    salam SASTRA JINDRA HAYUNINGRAT SURAKRTA

  33. SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI

    Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
    Memasuki Ruang Insun,Telah Melahirkan
    Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
    Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
    KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
    SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
    DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

    1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
    akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
    (HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
    JAWAHAR AWAL, yang senjadi sistem
    TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
    Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
    SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

    2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
    akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
    (Potensi HI~DI~RI meliputi:
    HI adalah alam Subconcious
    DI adalam alam Concious
    RI adalah alam Heperconcious)

    3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
    akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
    (Tribaka, Panca Azasi Wujud &
    Panca Maha Buta)

    4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
    akan memahami HI~DIR~nya.
    (Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

    5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
    akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
    (Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
    pada Tribaka)

    6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
    akan memahami TAMAT~nya.
    (Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
    Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
    yang segera memasuki Blackhole
    untuk keluar dari Jagat Raya
    dan meledak menjadi Bigbang,
    di ruang hampa, gelap gulita,
    bertekanan minus)

    7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
    akan memahami WIWIT~nya.
    (Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
    yaitu berupa potensi Jawahar Awal
    di Jagat Raya Baru)

    Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    “JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)

    ═══════════════════════════════

    Syair Sunda:
    JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung
    Ahuuung
    Ahuuung
    Aheeeng.

    ═══════════════════════════════
    Artikulasi Sunda:
    PANTO JAWAHAR AWAL
    KA PANTO JAWAHAR AKHIR
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Manusa sategesna bagian ti Gustina.
    Kum eusi samesta KOKOJAYAN
    di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Zibghotulloh).

    Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
    DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Sapanunggalan).

    Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
    ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
    nu gumulung jadi tunggal tampa wates
    disebut;
    JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

    SANG MAHA AGUNG
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Acining Cahi,
    Energi “DA” Acining Taneuh,
    Energi “RA” Acining Seuneu.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
    salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
    nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
    nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

    SANG MAHA LEMBUT
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Proton,
    Energi “DA” Netron,
    Energi “RA” Elektron.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
    salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
    nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
    nyaeta proses INSUN JADI DIA.
    ═══════════════════════════════
    Filsuf MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s