RSS

Apa Tujuan ber-AGAMA?

17 Okt

Jika kita renungkan, agama tampaknya merupakan fenomena paling membingungkan dalam kehidupan umat manusia. Dengan spirit agama, umat manusia bisa melambung ke puncak kemanusiaannya dengan mengkekspresikan segenap kemuliaan, cinta kasih, pengorbanan, dan berbagai sikap lain yang sangat mengesankan. Namun, pada saat yang sama, agama acapkali menjadi sumber keributan paling spektakuler di muka bumi: atas nama agama orang bisa berperang bahkan saling menghancurkan.
Mengapa bisa demikian? Kita bisa menjawabnya dengan merenungkan makna agama bagi kehidupan kita sendiri. Jika kita menjadikan agama sebagai identitas kelompok, atau sebagai dasar afiliasi politik, atau sebagai topeng kekuasaan, maka perilaku kita akan cenderung agresif, ofensif. Kita menjadikan agama sebagai wasilah untuk memenuhi hasrat-hasrat jiwa rendah atau hawa nafsu kita. Maka, banyak orang kemudian justru menjadi tak nyaman oleh agama kita. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta alam, kita sebagai manusia beragama justru menjadi laknat bagi semesta alam.

Namun, ketika kita menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk selalu berpegang teguh terhadap hati nurani ataupun rahsa sejati (sebuah istilah Kejawen yang menyimbolkan Kuasa Ilahi di dalam diri kita), maka sikap kita akan menjadi reflektif. Hati menjadi lembut, karena agama kita tempatkan ibarat setetes embun yang membasahi jiwa. Agama yang demikian, menjadi cahaya yang menerangi jiwa, sehingga pikiran, sikap, hati kita, menjadi lapang. Maka, orang-orang di sekeliling kitapun menjadi nyaman…kita bertransformasi menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sejatinya…menengok ajaran-ajaran dasar agama..semestinya agama memang menjadi pemandu kita menaiki ketinggian ruhani..menyelami hakikat kebenaran yang bersembunyi di kedalaman samudera hati kita…dan mengantarkan kita untuk merapat dengan Sangkan Paraning Dumadi..yaitu Hyang Tunggal, Gusti Allah, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

Ingatlah kembali sabda Kanjeng Nabi Muhammad..Inna buitstu liutammimu makarimal akhlak..Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak!

Ketinggian akhlak manusia terwujud ketika manusia mencapai taraf takholuk bi akhlaqilah..Berakhlak dengan akhlak Tuhan. Agama adalah medium agar kita perlahan-lahan bisa menyerap sifat-sifat Ilahi, sehingga kita menjadi Insan Mulia..yang pikirannya, perasaannya, sikapnya, hasratnya, dan tindakannya, mencerminkan Dia Yang Maha Sempurna.

Dalam konsep pengajaran Tauhid Syeikh Siti Jenar, dinyatakan bahwa sesungguhnya Sifat 20 bagi Allah, juga merupakan sifat bagi kaum mukmin sejati. Mempelajari Tauhid artinya mengupayakan agar kita sadar akan Keberadaan Dzat Yang Tunggal dengan 20 sifatnya itu, mulai wujud, qidam, baqo, dan seterusnya..lalu menyerap sifat-sifat itu ke dalam diri kita. Sehingga kita menjadi sosok yang wujud..karena memang di dalam diri kita Ruh Ilahi yang abadilah bertahta setelah hawa nafsu tertaklukkan….Keberadaan kita menjadi sejati, tak lagi palsu…karena kita bisa keluar dari kungkungan raga yang sesungguhnya tak lebih dari bayang-bayang…Kita menjadi baqa..karena esensi diri kita yang abadi itulah yang menjadi gambaran diri sejati….Kita pun menjadi mandiri..karena sudah bisa memberdayakan qudrat dan iradat-Nya yang dititipkan ke dalam diri kita…dan seterusnya.

Segenap aturan dalam agama, yang kita sebut dengan syariat, sebetulnya adalah jalan agar Cahaya Tuhan memasuki diri kita sehingga kitapun sanggup berakhlak dengan akhlak-Nya, menjadi cermin kemuliaan-Nya. Segenap ritual, shalat, puasa, zakat, dan lainnya, tak lebih dari sekadar sebagai latihan ( ritual ) agar sifat-sifat mulia melekat kepada diri kita. Ukuran kemuliaan diri pribadi kita, kita sadari justru terletak pada bagaimana kualitas keseharian kita menyangkut hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Jika kita selalu dalam keadaan eling lan waspada (senantiasa berdzikir kepada-Nya, dan selalu waspada kepada segenap keburukan hawa nafsu), lalu kitapun konsisten menebar welas asih kepada sesama, itu artinya kita adalah makhluk yang mulia.

Dengan demikian, kita tak lagi memperebutkan kebenaran agama, apalagi berperang atas nama agama. Karena yang penting adalah apakah agama sudah menerangi hati kita..dan itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Semuanya, sebetulnya tak lebih merupakan soal “peperangan” di dalam diri kita sendiri…apakah kita tunduk kepada hawa nafsu atau nurani…???

 

Tentang Kariyan Santri Gundhul

Saya hanya ingin berbagi mengenai apa yang saya ketahui, seperti apa yang saya lihat ketika berada di DUNIA lain di KEDALAMAN PALUNG LAUTAN ketika saya lagi MENYELAM, ternyata....WUUAAHHH... itu sebuah ungkapan kata yang terlontar pertama kali dalam BENAK saya. Duh...GUSTI Kang Hakaryo Jagad.. Engkau telah menunjukkan kepada-koe tentang Ayat-ayat MU yang terhampar memenuhi JAGAD RAYA ini. Mudah-mudahan saya bisa MENGAIS MAKNA dan MENJUMPUT HIKMAH dari Tanda-tanda Semesta Alam
20 Comments

Posted by pada Oktober 17, 2010 in INSTROPEKSI

 

20 Responses to Apa Tujuan ber-AGAMA?

  1. zal

    Oktober 19, 2010 at 1:33 pm

    Jarene Kanjeng Nabi, Agama itu akhlaq yang baik…Jarene Gusti Allah ikutilah Agama Ibrahim yang lurus,..
    Jarene Kanjeng nabi, Tidaklah aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq, Jarene Allah, pada hari ini telah AKU sempurnakan Akhlaq bagimu…
    kiro-kiro yo beragama iku personality yo…, sebagaimana adanya agamanya Ibrahim…
    Berarti bani adam itu diutus untuk disempurnakan akhlaqnya yo…..
    de’rema ca’an sampiyan…he..he…

     
  2. Samaranji

    Desember 9, 2010 at 3:45 pm

    Assalamu’alaikum…

    Salam kenal,
    Maaf,,, tak ada “perebutan kebenaran” agama kalo kita berkenan dng segenap usaha untuk mencari kebenarannya, dan hanya orang2 yg penuh prasangka saja yang menganggap “dakwah” sebagai ajakan pada umat manusia pada jalan Allah SWT dianggap sebagai “perebutan kebenaran” semata.

    Wassalamu’alaikum.

     
  3. arif

    Januari 29, 2011 at 8:08 am

    Mohon maaf sebelumnya. Saya mencoba menilai pribadi penulis web ini dari sisi kepribadian dan psikologinya (ini dari penilaian pribadi saya sendiri lho!):
    Kelihatannya orang ini kurang memahami tentang agama Islam, namun meletakkan dirinya sebagai pengkhutbah Islam?. Nggak banyak ngerti tentang Al Qur’an & Hadist (hanya tahu sepotong) sudah meng-generalisasi isi. Tidak faham filosofi, meletakkan dirinya seakan sebagai filosof. Berdasar pola pikirnya, performa fotonya, aplikasi/gaya/struktur kata/kalimat yang digunakannya tampak dari hasil logika (rasio) dan ‘sense’ dirinya sendiri, refleksi diri. Sayangnya mencoba memberi ‘image’ seakan-akan’ itu tafsir (?) dari sebuah ayat atau hadits. Jelas sekali. penulis ini terpengaruh oleh berbagai agama (yang juga hanya diketahui kulitnya saja), kemudian menggabungkannya (berdasar pikirannya sendiri) untuk menafsirkan agama Islam. Tampak pula bahwa pengetahuan yang dia dapat, kemungkinan besar berasal dari diskusi jalanan, bukan dari jalur pendidikan yang semestinya (formal maupun nonformal keagamaan), sehingga pemahamannya menjadi dangkal (tetapi dirasanya tinggi). Kelihatan juga pengetahuan sastra arab, jawa (kejawen), dan sastra bahasa dari kitab agama lainnya juga minim. Dari beberapa tulisan lainnya yang saya baca, penulis ini tampaknya punya keinginan agar dirinya dianggap (kurang lebih) sebagai seorang fisosof. Generalisasi agama yang dia tulis, justru bertentangan dengan tujuan/maksud/ajaran dari setiap agama itu sendiri. Silahkan di-cek sendiri di kitab suci masing-masing agama, apakah benar seperti yang dia tulis (sifat generalisasinya itu?) ha.. ha.. ha…. 100% tolak belakang cak..! Ayo cak, belajar lagi yang bener..! Kyai saja perlu puluhan tahun untuk konsentrasi mendalami agamanya. Pastor… juga begitu. Pendeta… juga begitu… Biksu juga begitu. Yang lain-lain juga begitu…! Lha.. sampiyan? Apakah sampiyan memang orang jenius, mampu mengalahkan para nabi? hingga ajaran para nabi sampiyan kalahkan? Yang bener ae cak…! Aduh……, hati-hati bengkok iman sampiyan cak….!

     
    • budi

      Juni 19, 2011 at 9:46 pm

      ya namanya manusia biasa dari jaman dulu sampai sekarang selalu saja mempersoalkan benar dan salah itulah tarapnya manusia yg tidak mau meningkat kemanusiaanya tidak mau mengkaji atau berpikir…. mau enak kepenak saja yg di cari wong dia sendiri ada di dunia ini menyengaja ADA atau sengaja ADA? lalu HIDUP itu apa? kenapa harus di HIDUPI? apa gunanya manusia HIDUP hanya cuma untuk MATI…?

       
    • willy

      Oktober 31, 2011 at 12:16 pm

      kenapa harus minta maaf bro…
      menurut saya, ini adalah tempat untuk sarasehan.. berbagi atau sharing. bukan mengejudge seseorang atau orang lain. Apa yang ada disini bisa dijadikan tukar kawruh/ pengertian tanpa saling berebut/merasa diri yang benar dan orang lain tidak benar.
      Marilah saling bertukar kawruh dan temukan/tanyakan kepada siapapun sampai pertanyaan/ketidakmengertian kita terjawab dgn tuntas..

      salam rahayu..

       
  4. Sigit Suryono

    Maret 5, 2011 at 12:22 pm

    Catatan yang mencerahkan, renungan yang indah, melampaui sekat-sekat keagamaan yang sempit, tetap terus berkarya, kami sangat salut terhadap tulisan tulisan seperti ini. Salam hening sakjroning roso. __/\__

     
  5. petrok

    April 6, 2011 at 2:59 am

    ngudari barang ruwet, ngguna’ke rambut now …

     
  6. kap5oel@yahoo.co.id

    Mei 25, 2011 at 11:37 am

    ini adalah misteri…….
    pemahaman………….
    dan paham, paham bukan untuk sembarang orang…..

     
  7. Anonymous

    Juni 19, 2011 at 1:11 pm

    Pak Kariyan ini ingin menjadi Nabi Baru apa ya?

     
  8. Jagad seduluran.

    Agustus 11, 2011 at 9:50 am

    Sugeng rahayu sedulur sedanten.
    Tulisan yg bagus dan brmakna,menambah wawasan bgi yg mempunyai hati2 yg terbuka ,dan bijaksana.yg memiliki hati yg sempit mrasa d hina dan panas hatinya.justru orang kayak gtu yg jelas kurang memahami tentang ajarannya.
    Kebanyakan kita terlalu sibuk menilai nilai seseorang d sekitar kita.shingga tdk ada waktu untuk menilai nilai dan instropeksi diri kita sendiri.ke egoan diri menguasai.
    memandang rendah,
    meremehkan,tdk menghargai orang2 yg bkan sepaham,yg bkan segolongan,yg bukan seagama.semua d anggap rendah.ini lah bibit perusak semesta mengatas namakan agama.

     
    • Anonymous

      Oktober 31, 2011 at 1:02 am

      setuju dulur……..

       
  9. Ahmad

    Agustus 16, 2011 at 11:42 pm

    Setuju apa yg panjenengan tulis intinya agama adalah akhlak yang baik jadi pesanya terhadap yg muslim kedepankan akhlak dari pada fikih oke lanjut.

     
  10. Setiono

    September 29, 2011 at 4:10 pm

    Tipuwan dari dusta agama
    Pergi haji tibang berharta
    Bangun masjid bangun musola
    Ujub riya ngorbanin banda
    -
    Menilai bener hanya menduga
    Mencari dari banyak masa
    Yang banyakan mereka puja
    Yang dikitan mereka hina
    -
    Jumlah total begituh rupa
    Bener semuwah ahli naroka
    Bener menghayal masuk sorga
    Pakta buktinyah Cuma kesiksa
    -
    Bener yang betul tanpa masa
    Bener dewekan Alloh Taala
    Masa mencari Alloh Taala
    Pabila bener di gosip gila
    -
    Hidup tidak mencari harta
    Malah dirinyah di cari harta
    Seluruh alam yang Alloh cipta
    Pada dirinyah jatuh cinta
    -
    Si bener tida mencari cinta
    Karena cinta sering kecewa
    Kecewa akibat cemburu buta
    Terpancing cinta bisa kesiksa
    -
    Si bener hanya hobi bercanda
    Bercanda pada siapah suka
    Pabila Alloh hobi bercanda
    Alloh juga di ajak bercanda

    Alloh Tuhan sang pencipta
    Utusannyah ogah di duga
    Alloh kuasa segala rupa
    Wajib ain yaqin percaya
    -
    Tida make bukti pakta
    Kepada Alloh yaqin percaya
    Percaya dengan bukti pakta
    Menjadi musrik batal taqwa
    -
    Sesudah batal iman taqwa
    Amal taqwa tinggal belaga
    Solat puasa dusta belaka
    Dusta agama batalin taqwa
    -
    Basa basi yaqin percaya
    Yang isinyah mencari masa
    Gamis jubah adat budaya
    Mekah madinah zolim agama
    -
    Selagi Rosul masih ada
    Mekah medinah sudah dusta
    Saking takut pada binasa
    Kepada Rosul ngaku percaya
    -
    Ngaku islam bertemu muka
    Di balik Rosul malah mencela
    Alloh ta’ala balik berdusta
    Akhirnya Rosul di buwat kaya
    -
    Setelah Rosul menjadi kaya
    Malah dahsat perang agama
    Sehingga Rosul menutup mata
    Saking cape di adu domba

     
  11. Anonymous

    Oktober 15, 2011 at 7:52 pm

    Semua ajaran nabi2 adalah berbicara tentang dien (sistem/hukum/aturan) Tuhan.
    itulah hukum/aturan yg lurus. aturan yang memang dibuatkan Tuhan untuk manusia dan alam semsta agar kehidupan di bumi sesuai dengan fungsinya. tetapi kebanyakan manusia saat ini tdak ada yang menggunakan hukum itu, mereka malah meggunakan hukum buatan mereka sendiri. yang menurut mereka bisa mengatur umat manusia. tapi kenyataannya kerusakan yang malah terjadi. so.. mari kita yang peduli dengan bangsa ini kita berjuang untuk menegakkan hukum itu..
    keep spirit.. saudaraku..:)

     
  12. darajuwita

    Oktober 27, 2011 at 8:47 am

    pak krian……alhamdulillah
    akan saya jadikan bahan renungan
    bukan perdebatan…..
    krna ana awam….semoga bisa merenunginya….ana enggak bisa….menambah atau melebihkan
    keyakinan itu akan datang setelah melewati perenungan
    syukran…

     
  13. Emboh

    November 11, 2011 at 8:01 pm

    Sip

     
  14. Geledek

    November 26, 2011 at 9:13 pm

    Nyimak pembelajaran disini..

     
  15. Aku

    November 26, 2011 at 9:15 pm

    Oc..

     
  16. Kontraktor

    Desember 1, 2011 at 11:42 am

    Agama ada salah satu orang dalam mengambil keyakinannya masing2…

    Salam kenal… :)

     
  17. kang jenglot

    Januari 30, 2012 at 8:14 pm

    Menyimak …Kang Karijan. Rahayu…

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.