Jika kita renungkan, agama tampaknya merupakan fenomena paling membingungkan dalam kehidupan umat manusia. Dengan spirit agama, umat manusia bisa melambung ke puncak kemanusiaannya dengan mengkekspresikan segenap kemuliaan, cinta kasih, pengorbanan, dan berbagai sikap lain yang sangat mengesankan. Namun, pada saat yang sama, agama acapkali menjadi sumber keributan paling spektakuler di muka bumi: atas nama agama orang bisa berperang bahkan saling menghancurkan.
Mengapa bisa demikian? Kita bisa menjawabnya dengan merenungkan makna agama bagi kehidupan kita sendiri. Jika kita menjadikan agama sebagai identitas kelompok, atau sebagai dasar afiliasi politik, atau sebagai topeng kekuasaan, maka perilaku kita akan cenderung agresif, ofensif. Kita menjadikan agama sebagai wasilah untuk memenuhi hasrat-hasrat jiwa rendah atau hawa nafsu kita. Maka, banyak orang kemudian justru menjadi tak nyaman oleh agama kita. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta alam, kita sebagai manusia beragama justru menjadi laknat bagi semesta alam.
Namun, ketika kita menjadikan agama sebagai sumber inspirasi untuk selalu berpegang teguh terhadap hati nurani ataupun rahsa sejati (sebuah istilah Kejawen yang menyimbolkan Kuasa Ilahi di dalam diri kita), maka sikap kita akan menjadi reflektif. Hati menjadi lembut, karena agama kita tempatkan ibarat setetes embun yang membasahi jiwa. Agama yang demikian, menjadi cahaya yang menerangi jiwa, sehingga pikiran, sikap, hati kita, menjadi lapang. Maka, orang-orang di sekeliling kitapun menjadi nyaman…kita bertransformasi menjadi rahmat bagi semesta alam.
Sejatinya…menengok ajaran-ajaran dasar agama..semestinya agama memang menjadi pemandu kita menaiki ketinggian ruhani..menyelami hakikat kebenaran yang bersembunyi di kedalaman samudera hati kita…dan mengantarkan kita untuk merapat dengan Sangkan Paraning Dumadi..yaitu Hyang Tunggal, Gusti Allah, Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.
Ingatlah kembali sabda Kanjeng Nabi Muhammad..Inna buitstu liutammimu makarimal akhlak..Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak!
Ketinggian akhlak manusia terwujud ketika manusia mencapai taraf takholuk bi akhlaqilah..Berakhlak dengan akhlak Tuhan. Agama adalah medium agar kita perlahan-lahan bisa menyerap sifat-sifat Ilahi, sehingga kita menjadi Insan Mulia..yang pikirannya, perasaannya, sikapnya, hasratnya, dan tindakannya, mencerminkan Dia Yang Maha Sempurna.
Dalam konsep pengajaran Tauhid Syeikh Siti Jenar, dinyatakan bahwa sesungguhnya Sifat 20 bagi Allah, juga merupakan sifat bagi kaum mukmin sejati. Mempelajari Tauhid artinya mengupayakan agar kita sadar akan Keberadaan Dzat Yang Tunggal dengan 20 sifatnya itu, mulai wujud, qidam, baqo, dan seterusnya..lalu menyerap sifat-sifat itu ke dalam diri kita. Sehingga kita menjadi sosok yang wujud..karena memang di dalam diri kita Ruh Ilahi yang abadilah bertahta setelah hawa nafsu tertaklukkan….Keberadaan kita menjadi sejati, tak lagi palsu…karena kita bisa keluar dari kungkungan raga yang sesungguhnya tak lebih dari bayang-bayang…Kita menjadi baqa..karena esensi diri kita yang abadi itulah yang menjadi gambaran diri sejati….Kita pun menjadi mandiri..karena sudah bisa memberdayakan qudrat dan iradat-Nya yang dititipkan ke dalam diri kita…dan seterusnya.
Segenap aturan dalam agama, yang kita sebut dengan syariat, sebetulnya adalah jalan agar Cahaya Tuhan memasuki diri kita sehingga kitapun sanggup berakhlak dengan akhlak-Nya, menjadi cermin kemuliaan-Nya. Segenap ritual, shalat, puasa, zakat, dan lainnya, tak lebih dari sekadar sebagai latihan ( ritual ) agar sifat-sifat mulia melekat kepada diri kita. Ukuran kemuliaan diri pribadi kita, kita sadari justru terletak pada bagaimana kualitas keseharian kita menyangkut hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Jika kita selalu dalam keadaan eling lan waspada (senantiasa berdzikir kepada-Nya, dan selalu waspada kepada segenap keburukan hawa nafsu), lalu kitapun konsisten menebar welas asih kepada sesama, itu artinya kita adalah makhluk yang mulia.
Dengan demikian, kita tak lagi memperebutkan kebenaran agama, apalagi berperang atas nama agama. Karena yang penting adalah apakah agama sudah menerangi hati kita..dan itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Semuanya, sebetulnya tak lebih merupakan soal “peperangan” di dalam diri kita sendiri…apakah kita tunduk kepada hawa nafsu atau nurani…???

zal
Oktober 19, 2010 at 1:33 pm
Jarene Kanjeng Nabi, Agama itu akhlaq yang baik…Jarene Gusti Allah ikutilah Agama Ibrahim yang lurus,..
Jarene Kanjeng nabi, Tidaklah aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq, Jarene Allah, pada hari ini telah AKU sempurnakan Akhlaq bagimu…
kiro-kiro yo beragama iku personality yo…, sebagaimana adanya agamanya Ibrahim…
Berarti bani adam itu diutus untuk disempurnakan akhlaqnya yo…..
de’rema ca’an sampiyan…he..he…
Samaranji
Desember 9, 2010 at 3:45 pm
Assalamu’alaikum…
Salam kenal,
Maaf,,, tak ada “perebutan kebenaran” agama kalo kita berkenan dng segenap usaha untuk mencari kebenarannya, dan hanya orang2 yg penuh prasangka saja yang menganggap “dakwah” sebagai ajakan pada umat manusia pada jalan Allah SWT dianggap sebagai “perebutan kebenaran” semata.
Wassalamu’alaikum.
arif
Januari 29, 2011 at 8:08 am
Mohon maaf sebelumnya. Saya mencoba menilai pribadi penulis web ini dari sisi kepribadian dan psikologinya (ini dari penilaian pribadi saya sendiri lho!):
Kelihatannya orang ini kurang memahami tentang agama Islam, namun meletakkan dirinya sebagai pengkhutbah Islam?. Nggak banyak ngerti tentang Al Qur’an & Hadist (hanya tahu sepotong) sudah meng-generalisasi isi. Tidak faham filosofi, meletakkan dirinya seakan sebagai filosof. Berdasar pola pikirnya, performa fotonya, aplikasi/gaya/struktur kata/kalimat yang digunakannya tampak dari hasil logika (rasio) dan ‘sense’ dirinya sendiri, refleksi diri. Sayangnya mencoba memberi ‘image’ seakan-akan’ itu tafsir (?) dari sebuah ayat atau hadits. Jelas sekali. penulis ini terpengaruh oleh berbagai agama (yang juga hanya diketahui kulitnya saja), kemudian menggabungkannya (berdasar pikirannya sendiri) untuk menafsirkan agama Islam. Tampak pula bahwa pengetahuan yang dia dapat, kemungkinan besar berasal dari diskusi jalanan, bukan dari jalur pendidikan yang semestinya (formal maupun nonformal keagamaan), sehingga pemahamannya menjadi dangkal (tetapi dirasanya tinggi). Kelihatan juga pengetahuan sastra arab, jawa (kejawen), dan sastra bahasa dari kitab agama lainnya juga minim. Dari beberapa tulisan lainnya yang saya baca, penulis ini tampaknya punya keinginan agar dirinya dianggap (kurang lebih) sebagai seorang fisosof. Generalisasi agama yang dia tulis, justru bertentangan dengan tujuan/maksud/ajaran dari setiap agama itu sendiri. Silahkan di-cek sendiri di kitab suci masing-masing agama, apakah benar seperti yang dia tulis (sifat generalisasinya itu?) ha.. ha.. ha…. 100% tolak belakang cak..! Ayo cak, belajar lagi yang bener..! Kyai saja perlu puluhan tahun untuk konsentrasi mendalami agamanya. Pastor… juga begitu. Pendeta… juga begitu… Biksu juga begitu. Yang lain-lain juga begitu…! Lha.. sampiyan? Apakah sampiyan memang orang jenius, mampu mengalahkan para nabi? hingga ajaran para nabi sampiyan kalahkan? Yang bener ae cak…! Aduh……, hati-hati bengkok iman sampiyan cak….!
budi
Juni 19, 2011 at 9:46 pm
ya namanya manusia biasa dari jaman dulu sampai sekarang selalu saja mempersoalkan benar dan salah itulah tarapnya manusia yg tidak mau meningkat kemanusiaanya tidak mau mengkaji atau berpikir…. mau enak kepenak saja yg di cari wong dia sendiri ada di dunia ini menyengaja ADA atau sengaja ADA? lalu HIDUP itu apa? kenapa harus di HIDUPI? apa gunanya manusia HIDUP hanya cuma untuk MATI…?
willy
Oktober 31, 2011 at 12:16 pm
kenapa harus minta maaf bro…
menurut saya, ini adalah tempat untuk sarasehan.. berbagi atau sharing. bukan mengejudge seseorang atau orang lain. Apa yang ada disini bisa dijadikan tukar kawruh/ pengertian tanpa saling berebut/merasa diri yang benar dan orang lain tidak benar.
Marilah saling bertukar kawruh dan temukan/tanyakan kepada siapapun sampai pertanyaan/ketidakmengertian kita terjawab dgn tuntas..
salam rahayu..
Sigit Suryono
Maret 5, 2011 at 12:22 pm
Catatan yang mencerahkan, renungan yang indah, melampaui sekat-sekat keagamaan yang sempit, tetap terus berkarya, kami sangat salut terhadap tulisan tulisan seperti ini. Salam hening sakjroning roso. __/\__
petrok
April 6, 2011 at 2:59 am
ngudari barang ruwet, ngguna’ke rambut now …
kap5oel@yahoo.co.id
Mei 25, 2011 at 11:37 am
ini adalah misteri…….
pemahaman………….
dan paham, paham bukan untuk sembarang orang…..
Anonymous
Juni 19, 2011 at 1:11 pm
Pak Kariyan ini ingin menjadi Nabi Baru apa ya?
Jagad seduluran.
Agustus 11, 2011 at 9:50 am
Sugeng rahayu sedulur sedanten.
Tulisan yg bagus dan brmakna,menambah wawasan bgi yg mempunyai hati2 yg terbuka ,dan bijaksana.yg memiliki hati yg sempit mrasa d hina dan panas hatinya.justru orang kayak gtu yg jelas kurang memahami tentang ajarannya.
Kebanyakan kita terlalu sibuk menilai nilai seseorang d sekitar kita.shingga tdk ada waktu untuk menilai nilai dan instropeksi diri kita sendiri.ke egoan diri menguasai.
memandang rendah,
meremehkan,tdk menghargai orang2 yg bkan sepaham,yg bkan segolongan,yg bukan seagama.semua d anggap rendah.ini lah bibit perusak semesta mengatas namakan agama.
Anonymous
Oktober 31, 2011 at 1:02 am
setuju dulur……..
Ahmad
Agustus 16, 2011 at 11:42 pm
Setuju apa yg panjenengan tulis intinya agama adalah akhlak yang baik jadi pesanya terhadap yg muslim kedepankan akhlak dari pada fikih oke lanjut.
Setiono
September 29, 2011 at 4:10 pm
Tipuwan dari dusta agama
Pergi haji tibang berharta
Bangun masjid bangun musola
Ujub riya ngorbanin banda
-
Menilai bener hanya menduga
Mencari dari banyak masa
Yang banyakan mereka puja
Yang dikitan mereka hina
-
Jumlah total begituh rupa
Bener semuwah ahli naroka
Bener menghayal masuk sorga
Pakta buktinyah Cuma kesiksa
-
Bener yang betul tanpa masa
Bener dewekan Alloh Taala
Masa mencari Alloh Taala
Pabila bener di gosip gila
-
Hidup tidak mencari harta
Malah dirinyah di cari harta
Seluruh alam yang Alloh cipta
Pada dirinyah jatuh cinta
-
Si bener tida mencari cinta
Karena cinta sering kecewa
Kecewa akibat cemburu buta
Terpancing cinta bisa kesiksa
-
Si bener hanya hobi bercanda
Bercanda pada siapah suka
Pabila Alloh hobi bercanda
Alloh juga di ajak bercanda
Alloh Tuhan sang pencipta
Utusannyah ogah di duga
Alloh kuasa segala rupa
Wajib ain yaqin percaya
-
Tida make bukti pakta
Kepada Alloh yaqin percaya
Percaya dengan bukti pakta
Menjadi musrik batal taqwa
-
Sesudah batal iman taqwa
Amal taqwa tinggal belaga
Solat puasa dusta belaka
Dusta agama batalin taqwa
-
Basa basi yaqin percaya
Yang isinyah mencari masa
Gamis jubah adat budaya
Mekah madinah zolim agama
-
Selagi Rosul masih ada
Mekah medinah sudah dusta
Saking takut pada binasa
Kepada Rosul ngaku percaya
-
Ngaku islam bertemu muka
Di balik Rosul malah mencela
Alloh ta’ala balik berdusta
Akhirnya Rosul di buwat kaya
-
Setelah Rosul menjadi kaya
Malah dahsat perang agama
Sehingga Rosul menutup mata
Saking cape di adu domba
Anonymous
Oktober 15, 2011 at 7:52 pm
Semua ajaran nabi2 adalah berbicara tentang dien (sistem/hukum/aturan) Tuhan.
itulah hukum/aturan yg lurus. aturan yang memang dibuatkan Tuhan untuk manusia dan alam semsta agar kehidupan di bumi sesuai dengan fungsinya. tetapi kebanyakan manusia saat ini tdak ada yang menggunakan hukum itu, mereka malah meggunakan hukum buatan mereka sendiri. yang menurut mereka bisa mengatur umat manusia. tapi kenyataannya kerusakan yang malah terjadi. so.. mari kita yang peduli dengan bangsa ini kita berjuang untuk menegakkan hukum itu..
keep spirit.. saudaraku..:)
darajuwita
Oktober 27, 2011 at 8:47 am
pak krian……alhamdulillah
akan saya jadikan bahan renungan
bukan perdebatan…..
krna ana awam….semoga bisa merenunginya….ana enggak bisa….menambah atau melebihkan
keyakinan itu akan datang setelah melewati perenungan
syukran…
Emboh
November 11, 2011 at 8:01 pm
Sip
Geledek
November 26, 2011 at 9:13 pm
Nyimak pembelajaran disini..
Aku
November 26, 2011 at 9:15 pm
Oc..
Kontraktor
Desember 1, 2011 at 11:42 am
Agama ada salah satu orang dalam mengambil keyakinannya masing2…
Salam kenal…
kang jenglot
Januari 30, 2012 at 8:14 pm
Menyimak …Kang Karijan. Rahayu…