SEDULUR SONGO

Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya yang mempunyai warna sendiri-sendiri. Kodratullah-oranye, Wujudullah–hitam, Sipatullah–kuning, Datullah–putih, Sirullah–merah, Pangaribawa–biru, Prabawa–kuning emas, Kamayan–putih terang kemilau.

Semua saudara terjadi/tercipta bersamaan dengan turunnya Roh Suci didalam rahim ibu. Kamayan, Prabawa dan Pangaribawa ketiga-tiganya menjadi satu merupakan sang “aku” dari manusia (aku disini bukan “pribadi”), yaitu kekuasaan yang diberikan oleh Allah, untuk mengendalikan kelima saudara lainnya (sirullah, datullah, sipatullah, wujudullah dan kodratullah). Jadi ketiganya menjadi satu angan-angan yang bersifat tiga, punya watak dan kekuasaan sendiri-sendiri. Kekuasaan tertinggi adalah Kamayan, kemudian Prabawa, baru Pangaribawa. Dalam bertindak ketiga-tiganya selalu berbarengan dan membantu/menjiwai/memberi kekuatan tindakan saudara-saudara lainnya. Walaupun menerima kuasa dari Allah, namun tri-tunggal Kamayan-Prabawa-Pangaribawa tidaklah mampu menjamin kesejahteraan jiwa. Yang dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan jiwa manusia hanyalah Tri Tunggal Mahasuci, Allah, Ingsun dan Roh Suci.

Berikut uraian/penjelasan mengenai Sedulur Songo ( Saudara Sembilan ). Baca lebih lanjut

Rahasia Serat Sastra Jendra Hayuningrat


Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran ” sang angkara murka ” justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra. Baca lebih lanjut

Baswa Lingga

Dalam tataran ( Khasanah ) keilmuan orang Jawa, ada beberapa hal yang harus ditempuh jika seseorag ingin mencapai kesempurnaan hidup,salah satunya tataran yang harus dilewati tertuang dalam kitab ” BASWA LINGGA “karya pujangga besar jawa Ki Ronngo Warsito. Tataran keilmuan yang termahtub dalam kitab karya rangga warsita ini adalah tentang ” SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT”. Baca lebih lanjut

“Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”

Dalam Sandi Sastra

Ha       – Huripku Cahyaning Allah

Na       – Nur Hurip cahya wewayangan

Ca       – Cipta rasa karsa kwasa

Ra       – Rasa kwasa tetunggaling pangreh

Ka       – Karsa kwasa kang tanpa karsa lan niat

Da       – Dumadi kang kinarti

Ta        – Tetep jumeneng ing dat kang tanpa niat

Sa       – Sipat hana kang tanpa wiwit

Wa       – Wujud hana tan kena kinira

La         – Lali eling wewatesane

Pa       – Papan kang tanpa kiblat

Dha    – Dhuwur wekasane endhek wiwitane

Ja        – Jumbuhing kawula lan Gusti

Ya       – Yen rumangsa tanpa karsa

Nya     – Nyata tanpa mata ngerti tanpa diwuruki

Ma       – Mati bisa bali

Ga       – Guru Sejati kang muruki

Ba       – Bayu Sejati kang andalani

Tha     – Thukul saka niat

Nga     – Ngracut busananing manungsa Baca lebih lanjut