Syukur kepada sang Khaliq

” MANUSIA YANG BERSYUKUR SEMESTINYA SELALU MENANAMKAN KEBAIKAN DAN BERBUAT KEBAJIKAN BAGI SESAMA MAKHLUK ”

                                    

Dalam dunia Sufi, dunia mistik, atau akhlak mulia, kata syukur merupakan suatu tahap pencapaian seorang ” Salik “, Musyafir spiritual. Syukur hendaknya bukan sebatas ucapan. Syukur sendiri lebih dituntut kepada perbuatan dan tindakan dengan wujud nyata untuk mensyukuri anugerah Tuhan. Syukur demikianlah yang membuat kenikmatan dalam hidup semakin bertambah. Inilah yang disebut di dalam sebuah Kitab Suci bahwa apabila kita bersyukur, niscaya Tuhan akan menambah-nambah kenikmatan kepada kita.

Tingkatan syukur yang paling dasar adalah ” Rasa Syukur “. Syukur ditingkat rasa . Dalam khazanah tanah Jawa rasa dipandang sebagai ” inti Hidup ” Artinya, tidak akan ada kehidupan bila mana rasa itu tidak ada. Untuk membuktikan bahwa seorang Bayi itu lahir normal, maka bayi itu ditepuk agar menangis. Bila tidak ada rasa, pasti si Bayi itu tidak akan menangis. Kenapa….? lha tak ada yang dirasakan kok….!. Dengan ” rasa “ itulah seorang bayi mengungkapkan dirinya dengan menangis, tersenyum dan tertawa. Bila si bayi merasakan ketidak nyamanan atau dia merasakan sakit, dia akan menangis. Sebaliknya bila dia merasakan kenyamanan wajah si bayi akan tampak senang dan mudah tersenyum.

Syukur dengan bahasa rasa jelas lebih nyata daripada sekedar ucapan syukur. Tanpa mengucapkan rasa syukurpun kalau mimiknya sudah mengisyaratkan bersyukur sebenarnya sudah cukup. Mengapa….? Karena ” hakekat Syukur “ itu milik Tuhan…!.

Dan seharusnya kalau kita memberi seseorang lalu orang itu nampak bahagia yang tersirat diwajahnya, maka kitapun harusnya ikut bahagia. Disinilah semua pihak bersyukur, baik yang diberi maupun yang memberi. Mereka semua sama-sama bersyukur kepada Tuhan. Jika kita memperhatikan firman Tuhan dalam QS. Ibrahim 7.

” Dan tatkala Tuhanmu memberitahukan ( kepada Musa ) : Sungguh jika kamu bersyukur niscaya Kami beri kamu labih banyak lagi. Dan, apabila kamu mengingkari-Ku sungguh Azab-Ku sangat keras “.

                                   

Apa yang bisa kita pahami dari Ayat diatas….?. Ayat di atas mengabarkan kisah Musa dan umatnya. Dari kisah-kisah Musa yang ada di Teks book Kitab Suci dapat dipahami bahwa Musa adalah umat yang memerlukan pengawasan ketat oleh Nabi-nabi. Sehingga banyak sekali nabi yang diturunkan untuk mengiringi umat Musa dalam perjalanan sejarahnya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa untuk apa Nabi-nabi diturunkan di suatu Umat…?. Tentunya agar umat itu tidak tersesat dalam perjalanan hidupnya. Selain itu agar umat bisa mengabdi kepada Tuhan dengan benar. Agar umat dapat hidup berbudaya dan beradab. Oleh karena itu dalam tiap-tiap umat ada ” Rasul “. Ada orang yang menjadi pembimbing kehidupan bagi setiap kaum ada orang yang menyampaikan petunjuk. Lain daripada itu, ayat di atas menyatakan bahwa bila seseorang bersyukur, Tuhan pasti memberi orang itu lebih banyak lagi. Kita bisa perhatikan kata ” Kami ” dalam ayat tersebut yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian itu ” tidak bersifat langsung “. Tuhan mewujudkan pemberian itu dengan menyertakan keberadaan makhluk lainnya. Selama ini kata ” pemberian “ Tuhan selalu dikaitkan dengan kenikmatan. Pada ayat di atas juga dilawankan dengan kata ” Azab atau Siksaan “. Kenikmatan itulah akan ditambah-tambah bila seseorang hamba bersyukur.

Sebaliknya, jika seseorang mengingkari Tuhan, orang itu akan diperingatkan dengan keras bahwa ” Azab ” Tuhan amat keras. Lho…lho….apa Tuhan itu ” Tukang Azab, tukang siksa ……?”. Tentu saja tidak. Tuhan itu maha Rahman dan Rahim. Tuhan akan mendahulukan Kasih sayangnya ketimbang Murka-Nya. Perlu kita ingat bahwa Tuhan itu tidak pernah ” Mengazab ” manusia, karena semua ciptaan Tuhan berjalan sesuai dengan sistem. Sebagai contoh, jika hutan kita gunduli, ditebang habis pohonnya tanpa perhitungan, maka itu jelas-jelas akan merusak sistem. Akibatnya akan terjadi ” Banjir Bandang “ inilah sebenarnya wujud pengingkaran kepada Tuhan. Manusia yang berbuat demikian tersebut sesungguhnya telah ” menjahui ” Tuhan.

Dalam sebuah hadis disebutkan ” Barang siapa yang tidak bersyukur terhadap sesama Manusia, maka dia sesungguhnya tidak bersyukur kepada Tuhan “.

Jadi jelas sekali bahwa bersyukur terhadap sesama manusia itu merupakan tanda bukti bersyukur kepada Tuhan.

Penetrasi ( tekanan ) hadis ini adalah adanya pesan untuk melakukan tindakan dan perbuatan kita terhadap sesama manusia diantaranya berupa ” Give and Take “ bukan hanya sekedar ucapan. Pihak yang menerima ( Taker ) dan pihak yang memberi ( Giver ) sama-sama diberikan kenikmatan. Yang diberi akan menerima kemudahan dan yang memberi akan ditambah dengan macam-macam kenikmatan. Sebaliknya jika manusia hidup dalam ” kekikiran “ sudah semestinya yang ada ialah azab Tuhan amat keras.

Ucapan sendiri sebenarnya merupakan etika dalam pergaulan hidup dalam status makhluk sosial di masyarakat. Tetapi, ucapan hanya akan menjadi ” formalitas “ jika ungkapan rasa terima kasihnya dibuang. Terima kasih kepada siapa….? ya berterima kasih kepada Tuhan….Jika ucapan itu belum disertai bahasa rasa syukur, maka ucapan itu belum hadir dalam ” ekspresi syukur “. Kongkretnya begini, Jika kita masih sering merasa kesal terhadap orang yang tidak mengucapkan terima kasih atas pemberian kita. Nah….disinilah ujian buat kita sebagai pemberi. Padahal bersyukur itu kepada Tuhan. Artinya kalau kita memberi seseorang, itu sebenarnya merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan. Bagi yang tidak punya, mimik bahagia yang tersirat di raut mukanya setelah mendapatkan pemberian dari kita merupakan bukti rasa syukurnya kepada Tuhan. Kalau orang yang memberi lalu kesal terhadap yang diberi, maka itu bukan rasa syukur malahan kekesalan itulah merupakan Azab bagi dirinya.

Dalam keadaan apapun, orang yang memberi haruslah senang, harus bahagia. Karena kebahagiaan dalam memberi itulah yang merupakan ungkapan RASA syukur kepada Tuhan.

Dalam konteks ” Give and Take ” telah disebutkan dalam Kitab Suci. Al Mudatsir. 6.

” Janganlah engkau memberi karena hendak memperoleh yang lebih banyak “.

Yah…ternyata memang benar bahwa jangan ada dibalik pemberian ( sedekah ) itu adanya harapan yang lebih besar. Kalau ini yang terjadi, maka tak ubahnya kita telah memasang taruhan dalam berjudi. Dengan bersyukur memang akan mendapatkan kenikmatan yang lebih banyak. Tapi, dalam bersyukur anugerah Tuhan hendaknya tidak diukur secara ” materialistik “. Ketentraman, Kedamaian dan Kepuasan batin merupakan anugerah Tuhan yang tidak dapat diukur dengan materi.

Sepertinya kita memang dituntut untuk pandai bersyukur. Apa bentuk aplikasinya…?. Setiap manusia harus turut mendukung tata tertib dan tegaknya Hukum. Kita harus turut peduli dengan Lingkungan, Kita harus berani jujur. Jika kita semua ingin hidup ” Luhur dan Mujur “, maka kita harus berani menjadi ” saksi kebenaran “ dalam hidup ini. Kita harus berani menyampaikan teguran kepada orang yang ada disekeliling kita yang berbuat ” curang “. Semua pihak harus kembali kepada jalan yang benar. Semua orang harus menghargai hak orang lain, termasuk di dalamnya hak berkeyakinan dan beragama. Jika kita hidup dalam kebenaran, maka Tuhan pun akan terasa dekat. Tapi, kalau kita menyingkirkan Tuhan dengan menghakimi kepercayaan dan keyakinan orang lain, Tuhan akan terasa jauh. Akibatnya, petaka akan datang menimpa. Kita adalah bangsa yang satu. Agama, Kepercayaan, dan pandangan yang berbeda janganlah sampai menjadi hijab ( tabir ) kita untuk menempuh jalan kebenaran.

6 comments on “Syukur kepada sang Khaliq

  1. syukur itu baru setengahnya iman. setengahnya lagi sabar… yang bigimana lagi tu kaki? kalo 2 sudah punya, baru iman katanya… saya pernah liat penjelasan sabar versi suluk, tapi kepanjangan dan rumit. bisakah bikin yang lebih nJawani?… biasanya kan sangat sederhana tuh… *halah*:mrgreen:

    …………………………………………………………………………

    Halah..halah…wong Syukur kok di PROSENTASE toh Kang…lah terus cara mengujine piye..? Uji empirisnya kuwi loh sing gak jelas…la wong kuwi kabeh mung sejatine KESADARAN DIRI dari pada sikap dan perbuatan yang didasarkan pada IKHLAS, RIDHO dan PASRAH…dalam Pasrah terkandung SABAR dan di dalam SABAR ada bentuk penyerahan kepada Gusti akan KEKUASAAN-Nya atas segala bentuk peristiwa di Jagad raya ini…berdasarkan KODRAT dan IRODAT-Nya…ngono gak Kang..yen gawe dalam konsep JOWO sik Kang..tak mertopo golek wangsit he..he..

  2. lha jarene itu iman terbagi dua. ya itu tadi… maksud saya kalo keduanya udah dijelaskan secara ringkas dan bergas, baru nanti jadi rujukan kalo bicara masalah iman. setelah itu jadi rujukan lagi buat ngomongin Islam, muslim, lalu mukmin, muslihin, dst. kalo gitu request pasrah juga deh…:mrgreen:

    ***************************************************
    Kang Mas Jenang, sampeyan wis maos Syukur sebagai Khalifah durung..?? koyone neng kono wis tak ulas deh..tentang Iman, Saleh, Kebenaran dan Kesabaran.
    Lah nek sekirone isih kurang tolong sampeyan tambahi ben KOMPLIT bumbune lak ngono tah Kang heks..heks..

  3. Ping-balik: Catatan-Catatan Dari Hati » Blog Archive » MEMAKNAI RASA SYUKUR

  4. Ping-balik: Catatan ATG » MEMAKNAI RASA SYUKUR

  5. Ping-balik: Memaknai Rasa Syukur « Perjalanan Menuju Bening Jiwa

  6. Ping-balik: Memaknai Rasa Syukur | Komunitas Blogger Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s