Syukur sebagai KHALIFAH

Oleh : Kariyan
Sebuah Renungan ” mblarah dan ngelantur ” di malam 1 Suro ( 1429 H )

Jika kita menyadari akan peran manusia sebagai ” Khalifah “ atau wakil Tuhan. Kita haruslah mampu berbuat memakmurkan Alam beserta isinya. Kita harus menciptakan keamanan dan kenyamanan bersama. Kita harus menciptakan ” Kepercayaan ” atau trust bagi sesama makhluk. Sehingga, terhadap sesamanya seseorang tidak boleh merusak hak milik atau hak hidupnya, tidak mau merugikan atau menganiayanya.

Bila kita tidak menginginkan kepercayaan kita rusak, maka JANGANLAH MERUSAK.. kelompok, golongan, agama dan kepercayaan orang lain…..!

Dalam hidup ini, kita harus bisa membedakan antara ” Kebenaran dan Prasangka “. Kita harus dapat membedakan antara ” Realita dan Pandangan “.
Kebenaran itu sifatnya adalah ” Universal “, karena kebenaran itu sebagai wujud sesuatu yang seperti adanya dan SEJATINYA KEBENARA itu hanyalah milik Gusti Kang Hakaryo Jagad… yo kang diwastani Gusti ALLAH Swt .

Jadi kebenaran itu bukan hanya milik kelompok, golongan, agama dengan nama tertentu atau kepercayaan orang-orang tertentu. Seperti Bayi yang baru dilahirkan, pasti tidak mengetahui sesuatu. Jika Bayi lahir normal, pasti dia akan menangis. Dan, tangisan bayi itu juga ” Universal “…..!. Bahasanya sama. Bayi yang lahir di Indonesia, Malaysia, Arab, Cina, Eropa, Amerika bentuk dan cara tangisannya sama….!!. Kita akan sama-sama tahu dan mengerti kalau bayi itu sedang menangis. Itulah bahasa universal…..!.

Tetapi kita harus dapat bedakan, bahwa bahasa dalam bentuk kata, bukanlah bahasa universal. Pemahaman terhadap sebuah teks juga bukan pemahaman universal. Teks yang berupa kalimat bisa memiliki ragam makna, tergantung kepada pembacanya. Latar belakang budaya, kecerdasan, wawasan, pemahaman dan keahlian yang dimiliki seseorang akan menghasilkan makna yang berbeda terhadap sebuah teks.

Loh..loh…orang sudah jelas-jelas begini loh…kok masih saja kita-kita ini suka banget dengan yang namanya ” CAKAR-CAKARAN, EYEL-EYELAN ” sampai harus MENGGEBUKI seseorang hanya karena ” Perbedaan ” penafsiran dalam menjalankan sebuah AGAMA, Keyakinan dan Kepercayaan masing-masing…Aneh to…aneh to…??.

Bentuk syukur sebagai Khalifah ( wakil Tuhan ) adalah menciptakan kehidupan yang saling menghargai satu sama lain, saling menghormati, saling ” mengapresiasi ” hak dan kewajiban sesama. Sebagai Khalifah, manusia harus dekat dengan yang diwakili-Nya. Manusia adalah wakil Tuhan di bumi. Bertanggung jawab dan berakuntabilitas adalah ciri manusia dalam mensyukuri ” kekhalifahannya “. Manusia harus menyadari bahwa dirinya sebagai Khalifah. Oleh karena itu, seorang Khalifah harus senantiasa memohon perlindungan dan bertobat yaitu kembali kepada jalan yang lurus ( kebenaran ). Ia lakukan itu, karena ia merasakan bahwa Tuhan itu dekat dan memperkenankan permohonannya. Ia bersyukur dan dampaknya Tuhan pun mensyukurinya.

Dari awal kedudukannya sebagai khalifah, manusia selalu diperingatkan untuk tidak melakukan kerusakan di bumi. Mengapa….?, karena ada ” potensi merusak “ dalam diri manusia. Sifat merusak ini diwariskan secara turun-temurun dari generasi kepada generasi berikutnya. Makanya manusia secara terus-menerus diperingatkan oleh Tuhan melalui Nabi dan Rasul serta para pewaris-pewarisnya. Berapa banyak sudah nabi dan rasul yang dikirim ke bumi ini. Sebagai Al-Wali pelingdung, Tuhan senantiasa melindungi eksistensi bumi ini sampai pada waktu yang ditentukan.

Jika seseorang benar-benar bersyukur dan beriman, Tuhan pasti melindunginya. Agar manusia tidak mengalami kerugian atau senantiasa dalam keberuntungan, maka manusia haruslah terus menerus untuk :

Memelihara KEIMANANNYA.

Memelihara keimanan tidak sama dengan sekadar percaya pada ” rukun iman “. Kalau cuman sekedar percaya dan HAFAL Rukun Iman seh…anak-anak kita yang masih Sekolah Dasar pada jago-jago menghafal..ya ndak..ya ndak…?? Yang termasuk dalam memelihara keimanan adalah memelihara rasa saling percaya dalam kehidupan bersama. Segala dendam dan dengki dibuang jauh-jauh. Segala bentuk syak prasangka, curiga, membenci, iri, dengki harus juga dijauhi. Kenapa…?? karena itulah ciri-ciri manusia yang memperturutkan ” Hawa Nafsu ” ( manusia Hedonisme ). Saling percaya dan bekerja sama dalam kebajikan merupakan wujud ” syukur ” dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara walaupun kenyataannya kita-kita ini menyandang perberbedaan atribut ” Suku dan AGAMA “. yah… inilah aplikasi dalam wujud karya nyata dari sebuah kehidupan masyarakat yang ber BHINEKA TUNGGAL IKA…!! yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia, negeri kita yang tercinta ini.

Hidup saling ” melayani ” dalam kebajikan merupakan wujud syukur kepada Tuhan. Iman tak cukup lagi diamalkan sebatas percaya kepada Tuhan atau sebatas ucapan. Iman harus ditumbuh kembangkan dalam wujud ” trust ” atau rasa saling percaya dalam kehidupan bersama. Kalau tidak saling percaya terhadap sesama, maka akan terjadi benturan dan tabrakan. Bilamana sudah demikian, dalam menjalankan ibadahpun bisa saling baku sikut, adu jotos dan saling membunuh. Terlebih-lebih jika salah satu kelompok menyatakan kelompoknyalah yang PALING BENAR dalam menjalankan Keyakinannya. Wis..dah..terbukti to…?? sekarang ini…saat ini…gak perlu saya jelentrehkan, toh kita pada sudah melihat sendiri kejadiannya di tayangan TV. Punten..punten Gusti….kulo sedoyo sama-sama ” LUPA dan LALAI ” akan amanah Panjenengan.

Mengamalkan KESALEHAN.

Masyarakat harus saling menjaga dan memelihara pekerjaannya dengan baik. Itulah yang disebut melakukan amal saleh. Bekerja sesuai dengan prosedur dan aturan. Majikan harus menilai upah sesuai dengan kemajuan perusahaannya. Buruh melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin sehingga perusahaan bertambah maju. Jadi prinsipnya perlu sistem yang benar bagi semua pihak yang pada akhirnya tidak ada yang merasa dirugikan. Jika semua pihak yang terlibat dalam suatu urusan menjalankan amal saleh, maka tidak akan terjadi yang namanya kerugian.

Dalam Kitab Suci, Iman dilawankan dengan ” kekafiran ” dan syukurpun dioposisikan dengan ” kekufuran “.

Berwasiat tentang KEBENARAN dan KESABARAN.

Yang mesti kita pahami adalah bahwa berwasiat tidaklah sama dengan ” menasehati ” juga tidak sama dengan ” meninggalkan pesan “. Dalam wasiat terkandung sesuatu yang harus diterima atau dikerjakan. Yang diwasiatkan adalah kebenaran. Utang-piutang harus ditunaikan dengan benar. Keuangan Perusahaan, lembaga, Yayasan harus dipertanggung jawabkan dengan benar dan transparant. Bukan hanya ” responsibilitas “, tetapi juga harus ” akuntabilitasnya “…!!. Inilah wujud daripada saling berwasiat tentang kebenaran. Hal-hal yang nyata dalam hidup ini harus kita sampaikan kepada sesama. Transaksi bisnis atau muamalah merupakan hal-hal yang nyata dan harus dilakukan dengan benar.

Sedangkan yang rahasia harus tetap dijaga kerahasiaannya, misal rahasia rumah tangga, rahasia Perusahaan, rahasia Pribadi seseorang. Saling berwasiat tentang kesabaran adalah mengikuti aturan main yang sudah disepakati bersama. Jangan ada yang main serobot, jangan memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Jangan mau menang sendiri. Orang yang bersyukur tidak akan mengambil hak orang lain. Ia tidak akan memotong antrian panjang di depannya. Sebelum bersyukur kita harus melatih diri dalam kesabaran. Sabar dan syukur rasanya tak dapat dipisahkan. Manusia memang harus bersabar dalam menjalani hidup ini dan sekaligus bersyukur terhadap anugerah-Nya. Sabar untuk meniti kehidupan dan bersyukur dalam menerima anugerah-Nya.

Karena itu manusia selalu diberi peringatan dan diingatkan. Manusia yang mau menerima peringatan itu dan berusaha selalu untuk memelihara kebenaran yang disemai oleh Tuhan, maka sebenarnya dia itu orang yang beriman dan bersyukur. Tuhan tidak akan mengazab hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersyukur. Iman dan syukur dapat memberikan perlindungan kepada manusia yang dalam khazanah makrifat Jawa biasanya disebut ” Sembah Cipta “. Syukur dalam wujud cipta ini adalah menjaga dan memelihara lingkungan hidup dan ” spiritualnya ” yang berarti melestarikan bumi dan seisinya. Yang dimaksud menjaga dan memelihara lingkungan ” spritual “. Lingkungan spiritual tak dapat dipisahkan dengan kondisi sosial masyarakat. Spiritual bangsa akan melorot bila ketidak adilan, kemiskinan dan kebodohan masih tetap dibiarkan meraja lela. Keadaan negatif tersebut akan merusak ” spiritual ” masyarakat. Pembangunan material tidak akan ada artinya jika kondisi spiritual masyarakat dirusak. Apalah artinya ” Sedekah / Zakat ” yang diperoleh dari hasil ” manipulasi dan korupsi “, menyumbang pembangunan tempat Ibadah jika uangnya dari hasil ” mencuri ….?” Ancur..ancur bener Coy..!!

Bumi ini harus dijaga kelestariannya. Karena bumi merupakan wahana kehidupan, tempat untuk menempa ” Jiwa “. Bumi adalah sekolahan bagi sang Jiwa untuk menyongsong kehidupan dimasa depan karena itu janganlag dirusak atau diterlantarkan. Merusak bumi sama artinya dengan merusak ” sekolahan ” kita yang berarti merusak tempat belajar kita sendiri. Bila kita tak dapat mengambil pelajaran dan hikmah dalam hidup ini, maka kita akan tetap dalam ” Kebodohan dan Kegelapan “…lah..lah..kujur tenan ini..!!. dah..ah semakin malem semangkin ngelantur dan mblarah saja uneg-uneg ini.

One comment on “Syukur sebagai KHALIFAH

  1. Salam kenal.
    Kalo boleh aku berpendapat Kebenaran adalah apa yang kita nyatakan sesuai kenyataan. Pernyataan itu harus sesuai dengan apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Apakah kamu yakin akan kebenaran bahwa kita adalah Khalifah Allah?.

    ********************************************

    salam kenal balik Mas/Pak Tarto,
    He..he…Nggih leres mas/Pak KEBENARAN adalah kenyataan yg tanpa tedeng aling-aling.
    Sesuatu yang apa adanya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s