Mengenal DIRI, Mengenal Tuhan…??

Tergelitik dengan komentarnya Kang Gempur dalam postingan saya dengan judul AKU…Sopo Ingsun…??. Begono Komentar Kang Gempur : Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu “ Terjemahannya kira-kira demikian “ Barang siapa mengenal diri (sejati)nya, maka Dia akan mengenal Tuhannya ”. Konon menurut cerita-cerita neh…itu kata-kata para manusia pencerah ( Nabi/Rasul ) yang disarikan dalam bentuk sebuah Hadis. Yah…walaupun masih ada banyak perdebatan mengenai siapa sih sebenarnya yang mengucapkan kata-kata tersebut, tapi di kalangan pejalan Spiritual ( ruhani ) ujar-ujar seperti ini sangatlah popular dan menggema seolah menjadi Kunci pembuka untuk mengenal Sang Pencipta Alam Semesta Jagad raya ini.

Tapi seberapa susah dan seberapa gampangkah sebenarnya mengenal DIRI itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh-sungguh Agung…??, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya pengenalan akan Tuhan…? Bukankah yang disebut “saya-aku” ini yah.. saya-aku…, yah yang berupa jasad badan kasar ini…? Tidakkah kita semua tahu dan telah kenal diri kita sendiri…? Baca lebih lanjut

Iklan

AKU…Sopo INGSUN??

AKU yang sesungguhnya adalah perbendaharaan kata yang tersembunyi.

Jika engkau ingin menemui – KU

Selamilah ke dalam samudera batinmu paling dalam.

Yang Gelap dan Terangnya takkan terjangkau oleh pandangan mata Jasmanimu.

Karena AKU tidak berada di dalam gelap dan terangnya pandangan matamu yang PALSU dan MENYESATKAN jalanmu.

AKU adalah Spirit yang “ TULIS TANPO PAPAN KASUNYATAN “

AKU adalah Substansi yang “ GUMANTUNG TANPO CENTHELAN “

AKU adalah Esensi yang “ LUNGGUH DUMUNUNG neng BATIN sing SUCI “

Ketika AKU terkurung oleh badan jasmani.

AKU lah yang DZAHIR.

Mengejahwantah dalam ASMA, SIFAT dan AF’AL yang “ SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE “

Tetapi…., Ketika AKU mengurung dan menyelimuti badan Jasmani.

AKU lah yang BATIN.

Mengejahwantah dalam DZAT yang ” TAN KENO KINOYO NGOPO “

ISLAM SEJATI

Saya hanya ingin mengatakan bahwa judul ” ISLAM SEJATI ” di atas bukanlah Islam dalam konteks nama atau label formalitas Agama. Melainkan sebuah ” SIKAP dan KESADARAN sang DIRI ” manusia dengan label apapun nama Agamanya dalam berbuat dan bertindak atas dasar Sabar, Ikhlas dan Ridhlo, serta WELAS dan ASIH terhadap sesama makhluk hanya semata-mata sebagai wujud penghambaan kepada Tuhan. Orang Islam yang sejati adalah orang yang berjuang ( jihad, mujahadah ) untuk mencapai derajad ketaqwaan yang tinggi secara terus menerus dan konsisten dalam kehidupan ini yang tidak hanya menyebut-nyebut Asma Tuhan saja , tetapi tekanannya adalah pada “ aksi dan tindakan nyata “ dalam setiap perbuatan yang didasarkan pada niat “ lillah Billah – Lirrosul Birrosul ( pinjem istilah populer dikalangan WAKIDIYAH ) “, sehingga pada saatnya ajal datang menjemput atau matipun diharapkan kita-kita ini dalam “ Keadaan Islam “ ( innad diina indallahil Islam ).
Baca lebih lanjut

By Kariyan Santri Gundhul Posted in RENUNGAN

NAFSU dan EGO Pribadi

Masing-masing dari diri kita memiliki ” kehendak dan peran “ dalam kehidupan untuk menjadi manusia yang hebat dan penuh keagungan. Karena manusia diciptakan dengan potensi keistimewaan memiliki kecerdasan, bakat, ketrampilan dan hati nurani, yang dapat membawa manusia pada keberhasilan dan keagungan. Namun manusia juga dilengkapi dengan nafsu atau ego pribadi. Yaitu, nafsu pada kehidupan dunia. Oleh karena itu, untuk memenuhi keinginan ego dan nafsunya pribadinya, sesungguhnya Tuhan telah menyediakan aturan “rules” atau ketentuan-ketentuan melalui Qalam-Nya yang sudah terhampar memenuhi Jagad Raya ini. Ketentuan inilah yang harus diteladani, ditaati oleh manusia sebagaimana yang kita lihat dan baca di Alam Semesta ini.

Kebanyakan manusia sadar atau tidak sadar seringkali terjebak memperturutkan ” nafsu dan ego pribadi “ untuk dunia semata, dengan mengabaikan “rules” yang telah dicontohkan oleh Alam. Mereka sibuk memenuhi keinginan memiliki kursi jabatan, pangkat, predikat atau kedudukan yang tinggi, dan lain sebagainya. Semua yang diinginkannya berusaha untuk dia dapatkan, bahkan terkadang tanpa memperhatikan lagi suara hati Nuraninya. Mereka merasa hebat dan berhasil dalam kehidupannya kalau sudah memiliki itu semua. Itulah ego manusia yang dikendalikan nafsunya. Inilah yang mengakibatkan terjadinya banyak penyelewengan, penyimpangan, korupsi, penyalah gunaan kekuasaan dan lain sebagainya. Karena pada hakikatnya nafsu itu tidak akan pernah merasa puas. Nafsu menggiring manusia untuk selalu merengkuh dan meraih sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Sifat pengejaran nafsu tak terkendali inilah yang kebanyakan MENYENGSARAKAN dan MEMENJARAKAN manusia. Baca lebih lanjut

By Kariyan Santri Gundhul Posted in RENUNGAN