Meneruskan PERJALANAN

Poro Sanak Kadangku sedoyo ingkang Minulyo ( Saudara-saudaraku semua yang diberkati Gusti Allah )

Dalam beberapa hari ini, minggu ini, bulan ini atau entah sampai kapan. Saya mungkin harus HENGKANG dari dunia MAYA ini. Entah apakah nanti saya akan kembali hadir meramaikan dunia MAYA ini atau tidak, embuh…wis aku ora weruh…Ada perjalanan yang harus saya kerjakan dan selesaikan untuk memenuhi KAREPING ROSO. Bukan karena JENUH ataupun MALES NGEBLOG lageh, bukan…bukan karena itu masalahnya. Tapi ada sesuatu yang memang membuat saya harus memenuhi KAREPING ROSO yang begitu kuatnya menarikku hingga saya tak mampu lagi untuk membendung dan menghentikan apalagi sekedar hanya untuk melawannya. Oleh karenanya, menyadari akan keadaan saya yang penuh ALPA dan LALAI ini, saya hanya mohon Poro Sanak Kadang mau memberikan KEKUATAN dan KELAPANGAN hati untuk MEMAAFKAN DIRI ini jika selama ini ada sikap, tutur kata atau tindak tanduk manusia lemah dan bodhoh serta DZALIM ini yang pernah “ KURANG AJAR “ dan tidak berkenan di Hati saudara-saudaraku semuanya yang sangat saya cintai.

Baca lebih lanjut

Iklan

Teka teki “Tapak Kuntul Mabur”

Penasaran dengan teka-teki yang diberikan oleh burung Kuntul pada postingan saya terdahulu tentang Mengenal Diri…Mengenal Tuhan “ carilah jejak kakiku, ketika aku terbang “ membuat saya termotifasi untuk melakukan perjalanan melanglang buana menyelami samudera BATINKU yang paling dalam. Sedalam laut Bandakah…?? he..he..Dalam khasanah Jawa, terminologi AJARAN tentang HIDUP begitu banyak disampaikan oleh orang-orang bijak dalam bentuk tembang, serat-serat dan rata-rata membutuhkan penafsiran yang bukan bersandar pada AKAL dan PIKIRAN, melainkan dituntut adanya peran BATIN untuk menelanjangi dan memaknainya, ahhhg…masak sih…??. Bayangkan saja mana ada JEJAK kaki burung Kuntul ( Bangau ) ketika terbang…?? bisakah kita menemukan bekas jejaknya…?? Mari kita sama-sama saling merenungi sebuah pesan yang sangat syarat dengan HIKMAH dan MAKANA seperti yang disampaikan oleh Kali Jaga dalam bentuk metrum Dhandhang gulo seperti di bawah ini.

“ Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendinggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake
kuntul mabur lan gigiring panglu, kusumo anjrah ing tawang, isine wuluh wungwang “.
Baca lebih lanjut