Spirit Islam

Spirit itu semangat. Banyak yang bilang kalau spirit itu ruh. Jadi spirit itu merupakan inti. Sesuatu yang tidak kelihatan, karena sifatnya yang ghaib.

Saya pernah baca, kalau gak salah baca di hadits qudsi “Bahwa Dia itu tidak melihat dunia, semenjak menciptakannya”. Untuk mengenalNya, dalilnya cuman satu … ” Qudus alal Qudus, Qadim alal Qadim “. Barang alus didekati oleh yang alus, barang kasar didekati dengan yang kasar. Lha Pengeran iku khan barang alus. Maka dari itu mendekatinya harus secara halus. Pengeran itu tidak bisa didekati dengan banyak-banyakan melakukan ritual sholat … Lha emange mau olahraga … he..he..he… Baca lebih lanjut

Iklan

Dzalim-ku, Dzalim-mu, Dzalimkah kita


Orang yang mendapatkan hikmat dari Tuhan sesungguhnya telah menerima “ KHAIR “ kebajikan, kekayaan, kesejahteraan, keuntungan dan caritas. Mereka yang menerima hikmat Tuhan itu adalah para “ ulil Albab “ yaitu orang-orang yang AKAL dan BUDI PEKERTINYA telah dipimpin oleh Tuhan yang tentunya sama sekali hal ini tidak terpengaruh dengan Pangkat, Jabatan ataupun Predikat dan bahkan tidak terpengaruh dengan sebuah nama agama yang dianutnya. Karena sesungguhnya “ hikmat Tuhan “ itu berada di luar system nama Agama yang disandang oleh seseorang. Orang itu bisa berprofesi apa saja, bisa petani, tukang becak atau bahkan seorang pemulung ( pemungut ) sampah sekalipun. Orang yang menerima hikmat dari Tuhan tidak akan benci lagi kepada orang lain. Orang akan mendapatkan hikmat dari Tuhan , bila ia mencarinya di alam raya ini. Dan seseorang akan dapat memperoleh hikmat jika aksi, tindakan dan perbuatannya tidak berlaku dzalim di muka bumi ini. Baca lebih lanjut

By Kariyan Santri Gundhul Posted in 1

Ibadah = Ngawulo = Melayani

Ibadah kepada Tuhan
Jika kita mendengar kata “ ibadah “, maka yang tertangkap oleh pikiran kita adalah bentuk tindakan ritual agama. Lalu, kalau ada orang yang tidak menjalankan ritual formal tersebut, kita akan katakan bahwa orang itu tidak “ beribadah “. Akibatnya, suburlah formalitas dalam kehidupan ini. Orang akan takut dicap atau dikatakan “ kafir “, maka rajinlah ia ketempat-tempat ibadah. Tetapi kezaliman dalam bentuk korupsi, manipulasi dan kong-kalikong, curiga terhadap orang lain yang tidak seide atau segolongan tetap langgeng dalam prakteknya. Orang lebih mementingkan “kesatuan ” daripada persatuan. Orang lebih suka terhadap “ keseragaman “ dari pada “ keberagaman “. Kalau ini yang terjadi, bukan ibadah yang subur tetapi merupakan bentuk ibadah upacara….!. Baca lebih lanjut