KHUSYU’ ataukah KUSUT

Saudara-saudaraku sekaliyan dalambenak ini ada yang begejolak MUNCRAT dan SEMBURAT begitu saja tanpa kuasa saya bendung gelegaknya. Ketimbang jadi BISUL ( Udun ) mendingan saya share saja di sini barang kali ada yang bisa memberikan gambaran dalam nuansa atau sudut pandang yang lain.

Begini nih …sebenarnya pengertian, INTI dan HAKEKAT dari pada KHUSYU’ ” itu terletak pada faktor PSIKHOLOGIS atau AGAMANYA…???. Lalu ESENSI daripada KHUSYU’ atau KUSUT itu sendiri terlihat dari RITUALNYA atau LAKUNYA..???.

Sebelumnya saya tak CLAMITAN~CLOMETAN~LELAMISAN terlebih dahulu yah…
Mungkin ada baiknya kita melongok kebelakang tentang kejadian yang dialami oleh MUSA di Bukit Tursina sebagai bahan pancingannya.
Sebuah kisah khusyu’ paling akbar terjadi tatkala Musa jatuh tersungkur (ekstase) di bukit Sinai setelah Musa meminta agar Tuhan menunjukkan DIRI-NYA. Betapa masuk akal langkah pembuktian Si Musa yang rasionalis itu. Namun, Tuhan tidak mungkin dilihat oleh mata dalam wujud fisik-Nya, karena kemahabesaran-Nya melampaui ruang dan waktu… Bukankah ruang dan waktu juga Ciptaan-Nya?
Sehingga akhirnya, Musa pun ekstase alias ” SEMAPUT ORA ELING ” babar blaaaasss…!!. Dalam kacamata psikologis, khusyu’ ya sebenanya seperti ini harusnya. Orang tidak lagi menggunakan alat-alat epistemologis lagi untuk memahami eksistensi TUHAN. Lalu dengan apa untuk memahami eksistensi TUHAN? Jawabannya jelas, TUHAN sendirilah yang akan memberikan jalan. Bukan sebuah upaya kemanusiaan untuk mencari-Nya. TUHAN pasti akan datang bila manusia tidak lagi mencariNya. Maka, sebuah saran yang barangkali bijak adalah berhentilah mencari DIA (Orang ketiga), sebab DIA tidak perlu dicari lagi. Tuhan ada di depanmu dalam wujud ENGKAU bahkan TUHAN ada dalam AKU-mu…!!!.

Kembali pada masalah KHUSU’.
Khusyu’ adalah suasana batin individu yg hikmat, cermat, hening, konsen, dalam rangka mencari dan merasakan hakikat Tuhan. Khusu’ dapat menjadi filter untuk memilah mana getaran yg baik, mana yg buruk, mana yg bermanfaat mana yg tidak. untuk kemudian menangkap getaran Illahi secara tepat dan bijak. Khusyu’ menghasilkan agama (tatanan), dan di dalam agama (tatanan) terdapat pula tatacara mencapai khusyu’. Lalu duluan mana  KHUSYU’ dengan AGAMA ( tatanan )…???  atau duluan mana AYAM dengaTELUR… ?
Khusu’ adalah keadaan/suasana yang sengaja dibangun dan diciptakan oleh batin, jiwa, spirit yang bukan saja menjadi gejala psikhis, tapi juga gejala sosiolokhis, tiap individu, kelompok, maupun masyarakat dalam rangka ” NGGAYUH KAWICAKSANANING GUSTI Kang Murbeng DUMADI “. Sebenarnya “teknis” membangun khusyu’ sifatnya hanya opsional, bukan termasuk dalam paket dogma kitab suci yang dilakukan dalan RITUAL SHOLAT tanpa ada APLIKASI dalam LAKU UTOMO untuk “ HAMEMAYU HAYUNING BAWONO “. Karena didalam LAKU MEMAYU inilah ada ” ROSO PANGROSO ” berupa ” WEWEH~PANDUM ( memberi dan berbagi ) yang bisa dirasakan oleh sesama makhluk dan Alam Semesta.
Dan inilah sesungguhnya makna SHOLAT KHUSYU’ yang TERSIRAT di dalam PENUTUP berupa SALAM yakni ” Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh “. Jadi ada perintah ” LAKU ” berupa AKSI, TINDAKAN dan PERBUATAN berupa WEWEH, PANDUM buat manusia UNIVERSAL bukan hanya untuk kelompok dan golongan tertentu saja untuk saling memberikan, melepaskan KETERIKATAN KEPEMILIKAN LAHIRIAH demi ” KESELAMATAN, RAHMAT dan BERKAH “. Yang dalam khasanah Jawa disebut ” SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE “.
Kesimpulannya mana yang lebih PERLU dan PENTING…??? Belajar RITUAL SHOLAT KHUSU’ yang JENGKANG-JENGKING atau LAKU UTOMO mengentaskan KEMISKINAN, KEBODOHAN, PENDIDIKAN Kawulo Alit dengan sepi ing PAMRIH yang langsung dirasakan MANFAATNYA oleh orang lain…??
Ojo manembah yen tan ketingalan,… ( Jangan menyembah bila tidak tahu yang disembah )
Temahe kasor kulane,… ( Akibatnya akan direndahkan MARTABAT HIDUPMU )

Hal ini tersurat dalam Surat An-Nisa’ 43 ” Janganlah engkau mendekati SHOLAT, bila dalam keadaan MABUK “. Peringatan dalam ayat ini tersirat bahwa orang yang lagi  KUSUT  Pikirannya yah janganlah memaksakan dirinya untuk mendekati apalagi melakukan, melaksanakan, mendirikan Sholat sebab sudah jelas gak bakalan bisa MENGINGAT Tuhan-Nya. Kalu dipaksa-paksa sudah pasti tidak bisa KHUSYU’ melainkan tambah KUSUT….!!! haaaaaaa….haaaaaa…emang benag layangan…??. Dan, lebih tegas lagi tersurat dalam AQ Al-Ma’un ” Celakalah bagi orang yg Sholatnya LALAI akan AKU “. Yg menjadi pertanyaan saya justru;
Lantas masuk NERAKA kah orang-orang yang tidak bisa menjalankan ritual SHOLAT KHUSU”..?? Hmmm…lalu bagaimanakah dengan saudara-saudara kita, seperti suku Badui (agama Sunda Wiwitan), suku Anak Dalam, suku Tengger (Hindu Tengger; yg sangat berbeda dengan Hindu Bali), suku Dayak dengan agama kaluhuran yg penuh mistis, dan milyaran umat beragama dengan sistem kepercayaan/agama lokal di seluruh pelosok bumi ini.. ??.

Sebab, dulu…dulu sekali ketika saya masih suka ” NGEMBORO ” belajar NGAJI kepada beberapa Guru Pituduh. Ada salah satu Guru Ngaji yang bilang kepada saya dan beberapa ikhwan di langgar begini…” Ingatlah…anak-anakku sekaliyan, jika kaliyan dalam mendirikan Sholat salah dalam menyebut Asma Allah dengan lafadz yang tidak sesuai dengan TARTILnya, maka Sholat kaliyan tidak SAH dan tidak diridhloi oleh Allah. Dan kaliyan akan dimasukkan ke dalam neraka…!!! “. Wadhuuuh…mati aku rek-rek…kok ekstrem banget yoh… masak ada orang masuk neraka gara-gara salah menyebut Asma Tuhan…?? misalnya; God. Allah, Alloh, Gusti, Pengeran, Hyang widhi, atau apapun nama sebutannya. Masak, tuhan sedangkal itu yah…? Katanya Tuhan berbeda dengan mahluknya, Lhaaaa kok punya nama…yg ngasih nama gek njur sopo rek ? masak tuhan ngasih nama buat dirinya sendiri….??? ojo-ojo..umat agomo yang sering tawur, neror, saling membenci, saling menganggap diri paling bener…sesungguhnya ya Gusti Allahe yo podho janjane. trus, tetanggaku katolik, org nya dermawan, baik hati, suka nolong, apa mungkin dia masuk neraka gara-gara salah nyebut tuhan itu Allah, Yesus.. trus ketemu teman yang agamanya Budha..gak kalah baik nya, sangat sopan menghargai memanusiakan, kepedulian sosial tinggi, lembut penuh kasih sayang pada manusa juga binatang, suka membantu yang lagi susah…apa mungkin dia masuk neraka gara-gara tuhanya bukan tuhan Yesus atau bukan Allah swt pula…
…tapi anaknya Yai Somat tetangga saya, apakah dia bakal masuk Surga sekalipun dia jahatnya bukan kepalang pada tetangga kiri kanan, juga dia tidak mau melaksanakan shalat apalagi puasa. Apakah anak itu tetap masuk surga gara2 dia sudah pernah bersaksi dengan cara mengucap “ dua kalimat syahadat “ sewaktu anak itu di khitan/disunat/sircumsition ?

Embuh cah….pancene menungso ki papane nggon luput, mulo kudu sing ati-ati…yo. sing penting ELING LAN WASPODHO; wis mesthi slamet !!!...baca : ” Entahlah…memang manusia ini tempatnya Lupa, maka dari itu kita harus hati-hati ( mawas diri ). Dan yang terpenting dalam Kehidupan ini untuk selalu ELING lan WASPODHO…sudah selayaknya akan menemukan KESELAMATAN..!!! “.

Hiiiiiii….tulisannya warna-warni…jangan-jangan pikirannya lagi KUSUT…???

30 comments on “KHUSYU’ ataukah KUSUT

  1. Hik.. hik.. hik.. “Hidup hanyalah sekedar SENDA GURAU belaka”, mari kita bentangkan Panggung Sandiwara dan Sinetron sang diri hahahaha… dengan bermain penuh penghayatan… huaaaaaaaakakakak… dalam arahan sang Sutradara dan keinginan sang produser tanpa kita merasa memiliki peran tersebut… yayayaya… tanpa rasa memiliki… padahal sesungguhnya kita hanya sebagai peran sementara saja… yayaya… mungkin hanya keroco… tukang sapu sapu… tukang bersih bersih… office boy… haahahahaha….. karena ketika film selesai dibuat maka kembali… yaaa kembali keasal hahaha….
    Salam Sayang Saudaraku…..

    ***~~~~~~~~~~~~~~~***

    Berperan mengikuti SKRIP sang Sutradara, BAIK dan BURUK hanyalah sebuah PENILAIAN atas dasar Akal dan Pikiran yang kadarnya terbatas. Lakon yg tergelar hanyalah SANDIWARA belaka..yang berperan menjadi Tukang sapu jangan mengobok-obok bahkan mencoba mengambil alih tugas Cleaning Service, sebab akan merusak tatanan kehidupan. Mari menjalani LAKON yang diperankannya masing-masing sebagai bentuk UBUDIYAH kita kepada sang Sutradara. Toh pada akhirnya kita semua akan DIMASUKKAN dalam Kotak Wayang yang sama menurut KEHENDAK sang Dalang……haaaaaaaaa….

  2. PSIKOLOGIS atau AGAMANYA?
    Saya rasa keduanya punya peran dalam mencapai KHUSU’, tinggal bagaimana kita menggapainya untuk di realisasikan dalam bermasyarakat. Khusyu yang tidak direalisasikan dalam “salam” akan terasa kurang karena ‘kosong yang tanpa isi adalah hampa, dan isi yang tanpa kosong akan membutakan’, mungkin karena itu kali ya adanya ‘sholat kanggo selawase urip?’.
    Itu sih kalo ndak salah, lha wong saya sendiri juga susah khusyu’nya, boro-boro ngaplikasi salam, hi…hi…hi…:-P
    Salam
    Rahayu

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Hiiiiiiii….Kadang Mas Arief,
    Sholat kanggo sak lawase URIP…ibarat NANDUR..kewajiban kita hanya merawat, memelihara, memupuk tanpa NGOYO dalam mengharap hasil. WEWEH lan PANDUM sepertinya yang harus bisa kita lakukan sebagai manifestasi RAHMAN~RAHIM kepada sesama.

    Nuwun,
    Salam…Salim…Rahayu…

  3. ::walah…koq kefahaman yang ada padaku mengatakan khusu’ berkaitan dengan perhatian, ya perhatian atas petitah-petitih, yang berlangsung sepanjang waktu, la kalau dengan itu kefahaman khusu’ kategorine melebu nang psikologi opo ugamo, lha maneh ugamo iku op toh, kalau kalimahNYA “turutlah agama ibrahim yang lurus,” lha agama Ibrahim itu opo…wah melu ngudun ki..🙂

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Agomo kuwi lak ateges UGER-UGER, PAWELING, KABUDAYAN kanggo NOTO KAHANAN Menungso ben podho slamet siji lan sijine. Isine AGOMO kuwi mung kepiye corone menungso biso LAKU BECIK~LAKU UTOMO. Mongko yoh wes pas menowo Kakang Zal kuwi selalu memperhatikan TINGKAH-POLAH, PETITA-PETITI sepanjang waktu dalam penerapannya. Ukuran KHUSYU’ dalam timbangan ideal adalah seberapa besar kita bisa menerapkan SALAM buat sesama TANPO PAMRIH, bukan karena PERINTAH juga bukan karena IMING-IMING PAHALA…lah lak ngono jeh Kang???

  4. Hidup yang khusyu… Hidup yang eling lan waspodo.. hidup yang selalu menempatkan dirinya secara bener lan pener dalam sikap manembaaah… huuuuuwaaaaakakakak…
    Salam Sayang poro mBaaahku..

    ***~~~~~~~~~~~~~***

    Hmmm…leser…benul sampeyan Kang
    MANEMBAH dalam konteks AKTIF berupa aksi, tindakan dan perbuatan….di atas GELARAN SAJADAH sebagai manivestasi Gelaran Alam semesta ini sejauh mana kita bisa memberikan KONTRIBUSI Kebaikan dan Kebajikan pada sesama.

    Gonoh…yoh Kang Boed…???

    Nunduk nyodorin Kopi Medan + Pisang Goreng…..ayok Kang sedulur2 tuwo podho diundang mrene….keks..keks…

  5. weeeelhadalaaaaahhh.. dah njedul lagi disini saudaraku kangboed… kumahaaaaaa….. mananami gubugnaaaaa…., awas iueh ditakut takutin lagi dengan kepala doang yang datang huaakkakaaaa…, ####

    **** khusyu’ Qodar Qolwat…, khusyu’ dalam manembah ataw khusyu’dalam menjalankan hidup…? weh tapi sama saja .. lho wong urip itu harus yang khusyu dan urip itu harus manembah.. weeeladhalah bolak balik… , tatanan, kusyu’,telur-ayam – .., yang mana yang duluan yaaa.., yang duluan manusia… hehehe…, terus nggoreng telur… lha nanti ga jadi ayam…, supaya jadi ayam.. manusia yang khusyu’ ,

    ***salam sihkatresnan.

    rahayu…

  6. Siapa yang mampu mem-beda2 secara baik,dialah yang akan dapat mengajar dengan baik.
    Orang yang bahagia bukanlah orang pada lingkungan tertentu,melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu.

    ### sugeng karaharjan Kangmas Kariyan sklg. ###

    ***~~~~~~~~~~~~~~***

    Nembahnuwun YANG~KUNG pawelingnya,
    Sikap ” SIHKATRESNAN ” marang sapodho-podho begitu maksudnya njih KUNG..??. Bahagia tidaklah terletak pada PIKIRAN dan juga bukan apa yang ada di luar Badan, melainkan berada di dalam BATIN yang SUCI…

    Salam…Salim…Rahayu…

  7. Ketika seorang tamu dengan sukarela mau mencuci piring, Sang Guru berkata, “Apakah Anda yakin bahwa Anda mengetahui bagaimana mencuci piring?”
    Orang itu berkata bahwa ia telah melakukannya selama hidupnya. Kata Sang Guru, “O… saya tidak meragukan kemampuan Anda membuat piring-piring itu bersih. Saya hanya meragukan kemampuan Anda mencuci piring-piring itu.”
    Inilah penjelasan yang ia berikan kepada para muridnya kemudian. “Ada dua cara mencuci piring. Pertama, mencuci untuk membuat piring-piring itu bersih; kedua, mencuci untuk mencuci saja.”
    Keterangan itu masih belum begitu jelas. Maka ia menambahkan: “Tindakan pertama itu mati karena sementara badanmu mencuci, pikiranmu terpaku pada tujuan membersihkan piring-piring itu. Yang kedua itu hidup karena dimana pikiranmu ada, di situ tubuhmu berada.”

  8. Di Al Baqarah (2) : 45 & 46 khusyu’ adalah mereka yang meyakini akan menjumpai Tuhannya dan bahwa kepadaNya mereka akan kembali. Yang menjadi pertanyaan, kapan perjumpaan dengan Tuhan tersebut sekarang didunia ini atau nanti di akherat.Bila kembali ke ayat diatas rasanya lebih pas bila mengenal Tuhan saat masih didunia sehingga sembah yang dilakukan tidak berdasarkan angan-angan lagi, mohon maaf bila kiranya salah dan mohon koreksinya matur nuwun.

    ***~~~~~~~~~~~~~~~***

    Katur Kadang Mas Edsjok,
    Tidak ada SALAH~BENAR dalam memahami sesuatu…semuanya berpulang kepada RASA yang ada di dalam sang Pribadi masing-masing. Dalam terminologi umum, sebelum dapat mengenal Tuhan diharapkan bisa mengenal DIRI. Kapan…??? yah tentunya sekarang…di sini…saat ini…detik ini…disetiap tarikan, keluar masuknya Nafas~Annapas~Nupus~Tenapas kang muji rino lan wengi, pujine tanpo pegat ( berhenti ). Sebab jika berhenti bakal rusak Jagadnya. Itulah yang dinamakan TETALINE URIP.

    Matur nembahnuwun

    Salam…Salim…Rahayu…

  9. assalamu’alaikum
    Bagus weblognya mas
    assalamu’alaikum salam kenal
    salam dari quantumillahi
    http://www.quantumillahi.wordpress.com
    Boleh ndak saling tukar weblog?

    ***~~~~~~~~~~~~~~***

    Terima kasih buat Saudaraku Kadang mas Bayuaji dari negeri sebrang…

    Salam sukses selalu
    Monggo silahkan

  10. Dirimu hadir….. saat aku DIAM…
    DIAM dalam keDIAMan…
    Menatap mesra… lembut dan manja…
    Menggetarkan sang diri yang terlena…

    Lupaaa…… Hilaaaang sudaaah semua perkara….
    Saat sapaaaan dan belaianMU datang
    Tertumpah Rindu hati dalam isak tangis penyerahaaan…
    hmm…. Sungguh indaaah…. tak terkira rasanya…

    Apalah daya ini….
    Lepas sudah… telanjang….
    Semua tertinggaaaal….
    Hidup dalaaam HIDUP….

    Salam Sayang…
    Salam Hormat…
    Salam Taklim…
    Salam Sejati… (*sampai mati*)

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Hmmm….
    Kita mesthi telanjang,
    Dan benar-benar bersih,
    Suci lahir di dalam batin,..

    Ini sih lirik lagunya Kang Ebiet…haaaaaa…
    Ya…ya….
    MUDO BLEJET TANPO BUSONO
    MADEG~MANTEP~MADHEP marang ngarsaning Gusti Kang Murbeng Dumadi.
    Tetep langgeng tan keno owah gingsir soko kahanan Jati.

    Salam…Salim…Rahayu…
    Buat saudaraku semuanya.

  11. Salam Pamuji Rahayu, para Kadhang😉

    Nuwun mas Santrigundhul / Kariyan, ndherek ngeyup wonten griya punika nggih😉

    Ikut mengucap rasa syukur atas kebersamaan yang cantik dan harmonis ini😉

    Salam sihkatresnan😉

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Monggo Kadang mas Kumaro mugi kunjuk kanti asreping manah.
    Maturnuwun sanget sampun kerso sambang sinambang wonten Gubug Reyot kulo.

    DAMAI DIHATI…DAMAI DIBUMI….

    Nammo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudhasa

    Salam…Salim…Rahayu…

  12. Salam Taklim
    hmm… intinya semua adalah keseimbangan… yayaya.. tercapainya keseimbangan dalam diri dan dengan alam semesta.. terlalu banyak jebakan dan tipuan bagi para pejalan yang harus diabaikan.. karena setiap manusia mempunyai kelemahan kelemahan yang berbeda beda… dan respon alam yang berbeda pula.. begitupun meliputi dimensi lainnya.. sehingga.. banyak yang terpaku disuatu titik perjalanan dan terjebak disana akhirnya berhenti.. sayang sungguh sayang sekali.. makanya.. abaikan semua itu.. hehehe..
    persiapkan perahu itu dengan baik, doronglaaah ke tengaaaah… lalu dayunglaaah sekuat tenaga sekencang kencangnya… jangan hiraukan pemandangan dan keindahan apapun sepanjang perjalanan.. apa lagi berhenti sejenak… sampai engkau sampai di tujuanmu.. Sampai suatu saat bertemu dengan batas pertemuan dua lautaaan… hmm… bolong dong perahunya… weleeh weleeeeh… berenang ya.. menyelaaam… sendiriaaan.. gak bawa apa apaaa… hehehe.. dan akhirnya juga tidak bertemu apa apa… hanya beroleh kesadaran sejati… yaaa kesadaran diri sejati.. untuk menyatu dengan sesama dan alam semesta… memayu hayuning bawono…
    Sayang…. sungguh sayang banyak sekali… yayaya… banyak sekali manusia yang berhenti di tengah jalan… tertipu oleh nikmat yang samar tertipu dalam perjalanan… dalam berbagai dimensi kehidupan… meliputi berbagai tingkatan alam… yayaya… tertipu… tertipu oleh tuhan tuhan yang palsu… sungguh mereka itu terdinding… oleh dinding dinding yang tebalnya melebihi tembok china….
    hmm… hehehe.. maklum OON sur OON… sambil berharap pencerahan *Muka Melas Mode ON*
    Salam Sayang

    Salam Sejati
    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Hmmm…siapkan PERAHU,
    Sebagai manivestasi sang KESADARAN SEJATI, ini yang harus kita dorong untuk mengarungi SAMUDERA tak berbatas dan TANPO BEKAL apa-apa…alias kita kudu bisa NGRACUT BUSANANING KAMANUNGSAN untuk sampai tujuan.

    Yupz..Kang Boed,
    Dalam perjalanan banyak sekali PAMBEGAL LAKU berupa lintasan, gambaran yang semstinya kita hiraukan dan tinggalkan, Sebab jika kita tertarik oleh semua itu hanya akan menghambat perjalanan untuk PULANG. Yaaa….yaaaa…kita musti DATANG dan MENGHADAP kepada-NYA seorang DIRI…

    Sepertinya saya dulu pernah membuat CORETAN babakan ini, ntar akan saya posting…

    Nuwun Kang Boed

  13. Katanya sih Khusyu (heningnya rasa, kesadaran) inheren dalam diri manusia. Malah keblinger sibuk ngurusin agama (dari bahasa Sansekerta, artinya sekumpulan ritus tertentu) karena sudah lupa dengan asalnya (khusyu itu tadi). Walau mulai latihannya Khusyu hanya pada saat-saat tertentu, misal samadhi, sembahyang, lama-lama diharapkan bisa khusyu terus menerus, kalo pake terminologi Siddharta, disebutnya atapi sampajano satima.

    ***~~~~~~~~~~~~~~***

    Ya…ya…terkadang kita malah disibukkan pada hal-hal yang ada di luar DIRI. Agama hanyalah sebagai ” RULE OF THE GAME ” yang banyak berisikan ritual-ritual yang sangat dipengaruhi darimana AGAMA tersebut ada dan muncul kepermukaan. AGAMA adalah KABUDAYAN yang bersifat ATURAN untuk NOTO KAHANAN KAMANUNGSAN URIP BEBRAYAN. KHUSYU’ itu berada di dalam atau di luar daripada sistem AGAMA itu sendiri apapun NAMA Agamanya.
    Seseorang belum bisa dikatakan KHUSYU’ jika masih dalam bentuk pelaksanaan RITUAL keagamaan dan belum teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sholat, Dzikir, Semedi, Meditasi, Manekung hanyalah merupakan methode untuk pencapaian HENENG, HENING, SUWUNG, KOSONG guna sampai pada titik temu sang SPIRIT HIDUP. Ya..ya…KHUSYU’ harus teraplikasi seiring tarikan nafas HIDUP dalam kehidupan dan penghidupan dalam wujud karya nyata yang bisa dirasakan orang banyak berupa WEWEH lan PANDUM TANPO PAMRIH…

    Maturnuwun…

    Salam…Salim…Rahayu…

  14. Ya..ya..ya..ya………….

    Khusyuk yang tiada batas dan tiada berwaktu lagi… dari buka mata sampai tutup mata kembali, 24 jam sehari semalam, meliputi gerak maupun diam, dalam keadaan ingat maupun lupa, diketahui maupun tidak diketahui….

    Senantiasa dalam ke adaan khusyuk yang meliputi yaitu khusyuknya Tuhan sendiri, bukan Khusyuknya Insan/Manusia.

    Hanya Khusyuknya Tuhan sendiri pada DIRI_NYA sendirilah yang Sempurna dalam kesempurnaan dan sempurna menyempurnakan.

    Selain Khusyuknya Tuhan, maka khusyuk nya adalah Batal dan Haram…

    Dikatakan Batal dan Haram, karena tanpa Insan/Manusia sadari bahwa sesungguhnya mereka telah menyekutukan Tuhan dengan dirinya(insan) sendiri. Dan tentunya bukanlah ke KHUSYUK an yang di dapatkan melainkan ke KUSUT anlah yang merela dapatkan. Semakin lama semakin kusut dan semakin kusut tambah kusut dan menjadikan Kusut lebih kusut semakin tambah kusut….

    Salam Taklim Saudaraku Kariyan…..
    Salam Sejati…
    Salam Sayang selalu….

    Katanya mau ke Balikpapan, saya tunggu ya…. dan jangan lupa sms nya. hehehe……

    Saudaramu,
    Pengembara Jiwa
    ***~~~~~~~~~~~~~~***

    Kadang mas PJ,

    Lengkap sudah dengan pemahaman Kadang Mas PJ yang GAMBLANG ini…KHUSYU’ pancen harus teraplikasi mulai mata ini MELEK sampek MEREM. Perbuatannya seperti kita buang LUDAH…semburat dan muncrat begitu saja tanpa adalagi pengakuan dan keakuan. Hingga dalam menerapkan SALAM pun demikian adanya TANPO RUMONGSO…

    Hmmm…semakin jelas sudah…
    Maturnuwun Kadang Mas PJ pencerahannya.

    Heeeee…ntar klu pas ke Balikpapan saya sempatkan mampir Kang..pasti saya Email dulu sampeyan. Begitu sebaliknya jika sampeyan ke Bontang sempatkanlah dolan ke Gubug reyot ini.

    Salam…Salim…Rahayu….

  15. Apa kabar Kang Santri? Sampai mana saja sampeyan?

    ***~~~~~~~~~~~~~~~***

    Huaaaaaaaaaaa….Kang AJIDIN,
    Kabar baik selalu Kang. Ahhhgk wong saya gak kemana-mana kok Kang..hanya pingin MENENG saja beberapa bulan lalu. Lama MENENG toh pada akhirnya saya merasa KANGEN juga sama sedulur2 di dunia maya ini…haaaaaaa…ternyata gak bisa URIP sendiri…keks..keks…Berlari dari TAJRID yang satu menuju TAJRID yang lain.

    Kepiye kabar Suroboyo Kang..???

  16. Assalamu’alaikum kang, maaf kang mau nanya, tajrid itu apa ya kang? Trus kalau mau bisa khusyu dalam hidup ini apa juga harus melakukan tajrid tersebut? Matur nuwun sebelumnya.
    Assalamu’alaikum.

  17. walah…walah…khusuuuk banget olehku nyimak postingan2 para sedulur sinambi rokok’an karo nyruput kopi-tubruk nasgitel e..e..e ngerti2 entek, mbuh pirang sedotan lan pirang sruputan aku lali gak ngitung maneh…..

    Wis kono diterusno olehe khusuk…

    Salam seduluran…

  18. Sholat itu tiang agama. Kalo nggak sholat, roboh dong itunya.

    Walaupun baru muallaf, baru bisa bilang ALLAH saja, atau malah paling ekstrim, hanya bisa bilang HU. Kerjakan. Jangan ditinggalkan!

    Khusyu’ nggak harus full seluruh rangkaian sholat, bisa beginningnya atau endingnya.

    Kalo nunggu Khusyu’ (penuh) duluan, kapan sholatnya?

  19. Ass. wr.wb. Pak Kariyan
    Aku masih teringat betul tulisan2 panjenengan yang mengulas habis mengenai hakikat ketika menulis di milis dzikrullah …luar biasa.!!
    Pak, saya kira tulisan panjenengan ini bukan esensi khusyu itu sendiri bagaimana, tetapi lebih mengarah pada penjabaran makna dari khusyu …..salut pak kariyan.
    Punopo sak niki tesih wonten tengahing wono kalimantan pak? he..he…he…!!!!!

    Salam
    Karyono

    ***~~~~~~~~~~~~~~~***

    Salam Kangen Kang Karyono,
    Kados pundi kabar panjenengan Kang?? Mugi sehat ke mawon soho Keluargo njih???.
    Injih…injih Kang, kulo taksih NGUPADI wonten tengahing Wono Kaltim…pados UPO haaaaaaaaaaa….

    Saya sudah keluar dari milis Dzikrullah….banyak tulisan-tulisan saya yang di Ban. Hiiiiiiiiiii….pada takut KERACUNAN pemahaman Santri Gundhul kali haaaaa…

    Nuwun sanget Rawuhipun Kang Mas Karyono
    Salam…Salim…Rahayu…

  20. waduwh… aku denger-denger sih khusuk malah dah gak ada lagi zaman sekarang, denger-denger sudah diangkat, karena itu makanya kita kudu jamaah solatnya, seengga- engganya Allah liat kemauan kita suse payah berjemaah biar shalat kita diterima.
    kalo khusuk? biarian ngalir aja deh… hiks😛

    • Salam kenal Akang Hikmawan Primansyah.

      Ya…ya…mencontoh..tepatnya MENELADANI segala perilaku guna meningkatkan derajad Spiritual yang pernah dilakukan Kanjeng Nabi saw, lalu mengaplikasikannya dalam Kehidupan dalam wujud karya nyata yang bisa dirasakan oleh sesama makhluk.

      Sepertinya saya pernah dengar Nama ini..eemmm…dimana yah…??
      Hmmm…mungkinkah Akang tinggal di ujung utara pulau Sumatera, tepatnya di Medan gitu…??
      Ahhh…moga tebakan saya gak meleset….hhaaaaaaa…

      Salam CINTA DAMAI

  21. o? khusyu itu bukan fokus ya?
    kaya kalo lagi sholat, khusyu, fokus bahwa kita lagi menghadap Nya?!

    ***~~~~~~~~~~~~~***

    Hiiiiiiiii mbak Quine..kalau FOKUS berarti menuju suatu OBYEK. Lah kira-kira OBYEK dari Khusuk itu apa…???.
    Jika Sholat itu meng-HADAP Tuhan, emang Tuhan ada dimana..??? Haiyyooohhh…sepertinya malah bertolak belakang dengan Al Hadid.4…..hiiiiiiiii……….

  22. lagi ngubek-ngubek rumahnya cak gundul…ketemu artikel menarik….

    khusyuk apa kusut…kalo menurut saia nih cak….khusyuk itu datengnya dari hati, hadirkanlah Allah di dlm hati maka Allah berkenan menjadi hati bagi kita…atau bisa saja gini, ketika kita sholat maka kita seperti ada yg mengawasi yaitu sang hyang manon…kira2 masuk neraka gak yah menyebut Allah itu sang hyang manon…blaik kalo masuk neraka wakakakak….bagaimanapun juga Allah tidak bisa dijadikan obyek sesembahan kita…Allah selalu menjadi subyek yg disembah kita karena Allah itu maha tunggal dan meliputi, tidak ada yg meliputi Allah…………

    biasanya kalo kita kusut karena sering mengandalkan otak dlm menyembah…spt saia ini yg kusut wkwkwkw…ketika otak mendominasi kita dlm beribadah maka lama2 akan capek juga karena ada unsur terpaksa atau dipaksakan…tapi kalo hati yg mendominasi maka tidak akan pernah capek…seperti udud klangenan saia sampurna mild walaupun udud terus tiap hari gak capek2 malah tambah ketagihan…waduuuuh piye ki le udud malah ra mandeg2 😀

    salam asah asih asuh bwat cak gundul …btw terus posting artikel2 yg mencerahkan yaaa supaya kita2 ini bisa belajar banyak dari njenengan……

    nuwun

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Hiiiiiiiiiiiiii….klu adatnya TIMTENG, sampeyan nyebut Sang Hyang Manon jelas akan dijustifikasi mlebu NEROKO….haaaaaaaaa….
    Memang ” SEJE DESO OWO CORO “.

    Iya Kang TONO,
    Keberadaan Tuhan dalam teks book Kitab Garing banyak dijelaskan keberadaan-Nya yang berbeda. Dia bersemayam di Arrsy, Dia lebih dekat dari urat leher, Dia berada disetiap segala yang kita pandang ( Al Baqaarah 115 ), Dia juga berada/beserta kita kemana saja kita berada ( Al Hadid. 4 ).
    Makanya Kali Jogo menyentil dengan keras kepada kita bahwa, untuk mendirikan Sholat ( Sembahyang ) harus tahu siapa yang DISEMBAH, siapa yang MENYEMBAH dan bagaimana CARA MENYEMBAH.

    Ahhhg…nyulut Sampurna MENTOL dulu yah….
    seeeeeeeeppp…wwuuuss…hiiiiiiiii…iiiissssssssiiiissssssss…

    Nuwun Kang TONO dah bagi-bagi kaweruhnya.

    Rahayu

  23. SALAM RAHAYU 3X

    khusyu’ adanya dihati dan kusut adanya dipikiran/otak kembali kendali didiri.surga dan neraka unt warning kita bahwasanya hidup kekal abadi manusia adalah setelah mati,maksimal berbuat kebaikan selalu dan selalu sholat tiap detik unt mengingat ALLAH SWT.manusia hanya bs berusaha.agama yg beragam dan perbuatan manusia baik dan buruk adalah fleksibel tdk ada agama yg mengajarkan kejelekan smuanya baik tergantung manusianya yg menjalani tetapi sholat/ibadah/keyakinan yg diterima ALLAH SWT adl yg menyembahnya benar2 ke ALLAH SWT dan menerima bahwa nabi Muhammad sebagai utusan ALLAH SWT.bukan menyembah yg lain !!!,dan akhirnya adalah janganlah kamu mati kecuali memeluk agama islam/muslim.

  24. Salam kenal, tulisan yang bagus untuk di renungkan. Dijaman yang serba semrawut ini, semua orang hati dan pikirannya sudah dijejali dengan berbagai masalah kehidupan. Sangatlah sulit untuk berlaku bijaksana.

  25. Enggeh leres sa’estu niku mas,niku sing di arani ilmu hakikat kahuripan kelas tinggi,wong sejatine ilmu niku wonten ting sekitar’e dewe,ning manungso mawon engkang mboten saged maos Qur’an urip’e dewe.
    Agama sa’niki namung di damel identitas mawon,mboten di dados’aken tuntunan,tatanan lan koco benggolo damel awak’e dewe,sehinggo katah manungso engkang beragama tapi dereng saged damai urip’e.Tiang engkang faham kaleh awak’e dewe pasti tiang niku saged ngerteni lek awak’e salah tok sanes katah salah’e,salam kenal dumateng kulo……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s