Agama yang Salah Ataukah Manusianya

Jika sering terdengan/terlihat berita-berita atau kejadian yang rada-rada memancing naiknya adrenalin luapan emosi ”kebencian”, khususnya bagi kita-kita yang beragama dengan label formal tertentu, karena berita atau kejadian tersebut sangat kental sekali nuansanya telah didominasi oleh ”ego dan emosionalnya ” sehingga nuansanya menjadi subyektif ketimbang dominasi ”nurani ” dan penuh ”provokasi” berusaha mencari “keburukan” dan menanamkan kebencian kepada orang lain ( bangsa dan agama lain ) dan bahkan didalam lingkup agama itu sendiri. Kalaulah bisa mungkin saya sebut begitu. Secara definisi agama yang saya jiplak ( dari Wikipedia saya kutip sebagai berikut ) : Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Secara entomologis, agama berarti situasi yang tidak kacau. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang akan berusaha mengikat kembali dirinya kepada Tuhan. Kalau boleh saya berpendapat bahwa agama itu suatu tuntunan hidup dalam peradaban manusia sebagai hamba dari Tuhannya. Hal itu bisa saja berupa ” Kepercayaan ataupun Keyakinan ” dengan tujuan agar manusia tetap berjalan dalam KEBAIKAN dan KEBAJIKAN diantara satu dengan yang lainnya, antara manusia dengan binatang dan antara manusia dengan alam. Dari mana tuntunan itu diperoleh? Dari orang-orang yang berusaha mendapatkan hubungan dengan Tuhannya hingga mendapatkan petunjuk yang diyakininya sebagai jalan menuju kebenaran, yaitu jalan menjuju Tuhan. Merekalah para nabi atau rasul atau mungkin ada istilah lain untuk menyebutkan orang-orang semacam ini. Para penyampai agama ( petunjuk ) ini semula tidak memasang “merk” suatu komunitas atau kelompok tertentu yang membedakan mereka dari orang lain. Mereka hanya menyampaikan suatu ajaran dan para pengikutnya yang kemudian hari setelah jumlahnya menjadi banyak membentuk kelompok tertentu yang populer akhirnya dengan sebutan agama A, agama B, Yayasan X atau Yayasan Z, dlsb yang pada dasarnya adalah SIMBOL-SIMBOL semata agar mudah diketahui dan dikenang. Jadi sifat tak lebih dari sekedar hanya sebagai Identitas belaka.

Tuntunan yang disampaikan oleh para pembawa agama ( petunjuk ) semuanya membawa kepada KEBAIKAN dan KEBAJIKAN, namun karena perbedaan ” label formalitas ” dan dalam kegiatan ” ritual ” serta visi pemahaman agama dan adanya berbagai macam kepentingan kelompok dan golonganlah yang membuat para pengikutnya ditambah oleh hasutan iblislah yang menjadikan “bertentangan” , dan menganggap mereka yang tidak seagama, tidak sejalan, tidak seiman, tidak sealiran, disebut “kafir” yang harus dimusuhi dan kalau bisa diberangus dari muka bumi ini. Sehingga esensi dari agama itu sendiri menjadi ” bias, kabur ” dan terlupakan inti sari patinya, karena disibukkan dengan usaha menonjolkan kebenaran kelompok dan golongan tentang konsep pemahaman masing-masing guna menarik pengikut sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan tujuan inti saripati semula dari agama tersebut yang nota bene ” kebenarannya ” masih sangat relatif atau mungkin malah tidak pasti kebenaran dan kenyataannya….!!!. Pertikaian pemahaman dan keyakinan rasanya sudah lama terjadi ketika awal mula didengungkan penyebarannya, bukan hanya terjadi antar kelompok pemeluk agama, tetapi di dalam kelompok pemeluk agama itu sendiri juga terjadi perpecahan, keributan yang tak jarang sampai terjadi pertumpahan darah. Apakah yang menjadi penyebabnya….???? ya …. sama …. dari awal mula adanya label formalitas agama hingga kini, karena berebut predikat status ” KLAIM KEBENARAN ” merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar…..!!!!. He..he…manusia ( kelompok ) yang demikian ini sesungguhnya telah menjadi korban akibat ” ketidak tepatan ” dalam mengkonsumsi dan memahami makna sebuah AGAMA, makna AJARAN dan makna sebuah teks book Kitab Suci yang terlanjur dipercayainya melebihi kepercayaannya terhadap adanya Tuhan itu sendiri. Secara tidak sengaja dan tak sadar kita telah TERJEREMBAB JATUH pada suatu kehidupan dengan POLA PENGKULTUSAN….!! bahwa AGAMA, SYARIAT, THAREQAT, HAKEKAT dan MAKRIFAT serta teks book Kitab Suci bahkan seorang Guru Pembimbingpun ( Mursyid ) telah kita JADIKAN TUHAN…..!!. Lho…lho…masak ada manusia jadi korban teks book sebuah Kitab Suci…???.  Sampeyan yang bener aja ” Ndhul….!!”. Walah…walah…masak kita pura-pura MBIDHEG ( gak tahu ), lihat saja orang-orang yang gemar mengaplikasikan makna JIHAD dengan MEMBERANGUS kelompok/golongan yang tidak selebel, merusak harta benda milik orang lain, menutup Warung orang-orang yang lagi cari nafkah, memukuli orang-orang memiliki keyakinan lain. Malahan ada yang EKSTREM banget membunuh sesama manusia dengan menjadikan dirinya sebagai sarana nempelin BOM atau istilah umumnya BOM BUNUH DIRI…haaaaaaaaaa..haaaaaaaaa….konyolnya itu semua dilakukan demi mengejar-ngejar PAHAL dan  SURGA katanya. Kondisi semacam inilah secara tak sadar menunjukkan bahwa kita-kita sebenarnya masih belum ” beragama ” tetapi baru saja mengenal sebuah agama. Jika kita betul-betul mau mencoba ” metani, menggeledah dan mau untuk instropeksi DIRI ” akan kedangkalan kita dalam banyak hal, rasanya dengan banyak mengembara menelusuri kisi-kisi kehidupan di alam raya ini, ternyata ayat-ayat Tuhan emang sudah TERHAMPAR memenuhi jagad raya dan kita tinggal memungutinya sesuai dengan kemampuan dan keperluan kita tentunya. Faktanya memang kita telah menjadi komunitas manusia beragama secara label formalitas yang dalam beraksi dan bertindak tidaklah lebih dari sekedar sekumpulan manusia yang ” memperturutkan hawa nafsu ” manusia hedonisme yang hidup penuh dengan mimpi-mimpi di alam khayali….!!!. Seharusnya, sedari saat ini lebih baik kita menggali kembali esensi dari agama yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, agar kita dapat menemukan kebenaran sejati, tanpa sibuk memburuk-burukan orang lain, bangsa lain dan lagian apa sih untungnya buat kita dengan memfonis agama lain sebagai agama yang SESAT dan KAFIR…???. Bukankah Tuhan sudah mengingatkan kepada manusia untuk ” TIDAK SALING MENGOLOK-OLOK terhadap SUATU KAUM…???” yang pada akhirnya malah akan menjerumuskan kita pada kebencian dan permusuhan antara sesama makhluk ciptaan Tuhan. Beribadah secara sungguh-sungguh pasrah dan ikhlas semata-mata hanya mengharap RIDHLO-Nya, serta jalanilah tuntunan kebenaran yang masing-masing diyakini akan membawa cahaya kedamaian bagi semesta alam dan segala isinya. Tak perduli apakah namanya Islam, Katholik, Protestan, Budha, Hindu, jika anda meyakini kebenarannya maka jalanilah….!!! dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sebagai pelengkap identitas dalam KTP atau hanya sekedar pelengkap dan ciri lahiriah yang ditampak-tampakkan religius, melainkan benar-benar untuk mendapatkan tuntunan hidup dan jalan yang lurus ( ihdinas siratal mustaqim ) di dunia ini. Ingatlah perjuangan dan pengorbanan para penyampai agama. Perjuangan Nabi Musa mendapatkan firman Tuhan, Kerelaan Yesus menjadi penebus dosa untuk ummatnya ( bagi pemeluk yang meyakininya ), Pengasingan Nabi Muhammad di Gua Hira, Pengorbanan Sang Budha dan lainnya. Mereka adalah orang-orang SPIRITUAL luar biasa yang berjuang mengorbankan dirinya guna meraih tuntunan jalan yang lurus dari Tuhan demi umat manusia yang TERPANGGIL untuk mengikutinya. Sekarang jalan itu bagi kita para generasi penerusnya sudah banyak tersedia. Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita yakini, atau tidak sama sekali, atau bahkan menjadi temannya Iblis yang amat senang dengan kehancuran bagi umat manusia dan alam seperti yang dikhawatirkan para malaikat ketika Tuhan hendak menjadikan ” Khalifah ” di muka bumi ini yang keberadaannya hanyalah akan membuat ” kerusakan dan pertumpahan darah ”. Mari kita sama-sama mewujudkan dunia yang penuh damai, dengan beragama, berkepercayaan dan berkeyakinan secara sungguh-sungguh. Landasannya adalah marilah kita sama-sama untuk menjadi MANUSIA SEJATI yang JUJUR pada DIRI SENDIRI dan MENJADI DIRI SENDIRI……..!!. Jangan berhenti hanya sebatas dengan APA KATANYA, kata Kiayinya, kata Ustadnya, kata Gurunya, kata Kitab Sucinya, kata Hadisnya…toh tetep saja ujung-ujungnya HANYA kita SENDIRILAH yang memiliki otoritas untuk MENTAFSIRKAN dan MEMAHAMI dari segala apa yang DIKATAKANNYA dan apa yang DIAJARKANNYA…!! hanya DIRI KITA SENDIRI…..!!! maka JADILAH DIRI SENDIRI…karena dengan menjadi diri sendiri rasanya kita akan MENGENAL DIRI..dengan mengenal DIRI, maka tidak mustahil kita akan MENGENAL TUHAN sang Pencipta Langit dan Bumi. Karena sesungguhnya TUHAN sudah ada dalam DIRI-KU…DIRI-MU dan DIRI-KITA….!! yang dalam khazanah Jawa disebut dengan ” LORO-LORONING SATUNGGAL ” berbilang namun hakekatnya adalah SATU . Satu yang telah DIGULUNG menjadi satu KEBERADAAN dan KENYATAAN dalam KEHENINGAN, KEHAMPAAN, KOSONG…tanpa huruf, tanpa abjad, tanpa kata-kata dan tanpa LAFDZ sekalipun…!!.

By Kariyan Santri Gundhul Posted in RENUNGAN

40 comments on “Agama yang Salah Ataukah Manusianya

  1. hmmm… Pertamaaaaaaaax lagi nih.. dapaat hadiah donk.. sekali kali hadiahnya nyang ekstrim dikit napa sih.. dari kemaren pisang goreng melulu.. kata mas Lambang semur hati macan dan kolak otak Gajaaaah… mauuuuuuuu dunk… hahaha…
    Mana yang salah dan mana yang benar… jika semua nilai sudah berubah.. agama sudah bukan jadi pegangan hiduuup tapi cuma di pegang pegang doang ame nyang namanya manusiaaaa… agama adalah dasaaar.. kendaraan.. kalau didiamkan saja ya engga maju maju dunk.. akhirnya kapan nyampenyaaaaaaa ???
    Salam Sayaaaaaaaang…

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Huaaaaaaaaaaaaaaks..kaks..kaks…
    Beres dah hadiahnya tak ganti IKAN BAKAR BARONANG dengan sambel Khas Bontang ” SAMBEL GAMIK ” yang kebul-kebul di atas Cobek panas…gonoh….Jangan lupa sampeyan yg bawa lalapan dari Bandung yoh Kang….

    AGAMA = Ikan Bakar Baronang
    gak bisa cuman dipandang doang…kapan KENYANGNYA
    haaaaaaaaa…kudu di cowel, ditutul sambel…dikunyah….
    nyeeeemm..nyeemm…ternyata enak ROSONE..kiks…kiks..

    Tuh kapan-kapan ke rumahnya Kang Mas Pengembara Jiwa, di Balikpapan ada rumah makan Kenari yang menyajikan KEPITING asli KALTIM…hmmm….bumbu Asem manis atau bumbu Lada Hitam….

  2. “agama ageming aji”berarti tuntunan bagi siapapun untuk menjadi yg terbaik.Jadi harus diresapi dalam hati dihayati akhirnya diamalkan.Namun sayang ya….,sekarang ini hanya dijadikan identitas diri..tanpa nurani.Semoga kita “diparingi eling & waspada”
    salam karaharjan

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Injih Kung leres…AGAMA kudu DIAMALKAN…kanti WELAS ASIH.
    Realitas yang ada AGAMA masih sebatas dikonsumsi sebagai alat untuk GEMAGAH dan PEMULASAN LAHIRIAH saja…pada kenyataannya kelompok AGAMA yang besar akan MEMAKSAKAN kehendaknya untuk diikuti oleh yang kecil. Kelompok yang memiliki Umat terbesar akan merasa memiliki HAK tentang apa yang DIYAKININYA PALING BENAR kepada kelompok yang lain…Pada akhirnya bukan KEDAMAIAN, KESLAMATAN yang bisa kita UNDHUH…melainkan KONFLIK….

    Ahhhhgk…Yang-Kung…maturnembah nuwun njih Kung

    Salam…Salim…Rahayu…

  3. http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran pedofilia Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun..

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

    Sekali lagi liat bukti pedofilia Muhammad!!!

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun.

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Ketika Muhammad mampus usia A’isyah delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Huaaaaaaaaaaaaaaaks..kaks..kaks…
    Saudaraku Sangkebenaran, mohon dipersory yah…yang begonoan sudah gak NGEFEK buat saya. Artinya saya tetep adem ayem jika ada posting yang MENJUSTIFIKASI tentang KEBURUKAN seseorang. Buat saya yang terlahir tidak pada jamannya para NABI, hal yang demikian BUKANLAH hal penting. Mengobok-obok KEBURUKAN seseorang sama halnya MENUNJUKKAN bahwa DIRI sang PRIBADI kita juga BURUK. Dalam ranah AGAMA apapun namanya selalu dan selalu diwarnai dengan adanya KONFLIK. Dan semestinya kita bisa menelaah kenapa semua itu bisa terjadi…??? Semua tak labih daripada KONFLIK KEPENTINGAN baik PANGKAT, JABATAN, PREDIKAT dan segala bentuk ke-AKU-an yang ada dalam DIRI setiap manusia. Mudah….sungguh mudah jika kita mencari-cari KELEMAHAN seseorang. Di luar pengikut Muhammad akan menuliskan seperti apa yang saudaraku tuliskan dengan ALIH-ALIH menyampaikan KEBENARAN, sebaliknya di luar pengikut YESUS akan menuliskan KELEMAHAN sang YESUS…demikian seterusnya….hal ini mencerminkan bahwa kita memang baru masih MENGENAL AGAMA belum sampai kepada BERAGAMA yang sesungguhnya. Maka sejarah telah MENGUKIR berapa banyak manusia yang MATI, TEWAS sia-sia hanya karena AGAMA yang dipahami secara DANGKAL dan SEMPIT. Lalu mengapa kita yang hidup dijaman sekarang ini masih saja suka KONFLIK terhadap adanya AGAMA…??? Bukantah ini sungguh MENYEDIHKAN…???. Mengulang…dan mengulang kejadian yang BURUK itu..???

    Mari kita MEMPELAJARI AGAMA bukan atas dasar APA KATANYA orang lain ( Kyai, Ulama, Pastor, Pendeta, Pedande, Biku ) Sebab belum tentu mereka-mereka itu sebagai orang yang SALEH dan BERIMAN…!!!. Jangan AGAMA kita konsumsi hanya MANDHEG dan BERHENTI sebatas AKAL dan PIKIRAN kita. Sebab AKAL dan PIKIRAN bukanlah sarana untuk bisa kita gunakan sebagai PEDOMAN HIDUP yang bisa MENYELAMATKAN kita kembali kepada KEBENARAN ABSOLUT.

    ” AKU adalah HIDUP~AKU adalah JALAN~Tidak sampai kalian kepada KEDAMAIAN~TANPA melalui KASIH SAYANG “

    Hmmm…Saudaraku menggunakan ID Sang KEBENARAN, namun ternyata saudaraku gak berani menampilkan siapa saudaraku yang sesungguhnya. Apatah saudaraku TAKUT…??? Jika itu adalah PESAN KEBENARAN kenapa musti BERSEMBUNYI…???

    DAMAI DIHATI…DAMAI DIBUMI………

    Salam…Salim…Rahayu….

    • Maaf,
      saya prihatin dgn komentar dari anda,
      tempatnya Cak Kariyan ini bukan tempat untuk menghujat agama atau nabi2 atau ulama dlsb…
      Tempat Cak Kariyan adlh tempat mencari hikmah kehidupan dgn cara guyon….

  4. Hehehe… membahas penalaran agama. Mumet Kang.

    Apa yang salah? Siapa yang salah? Kenapa salah?
    *ambil katapel tiga biji*
    EGP… YPBAHKBUOL… (singkatan apa nih?)😎

    Santaaaaaiiii… yang penting rumah makan Kenari itu… dicampur semur hati Macan sama kolak otak Gajah-nya KangBoed…😉

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Weiiiiitt…gak usah digawe MUMET…nyantai wong ini cuman sekedar SINDENAN ” Werno-Wernine URIPE Menungso….

    Beres Kang Lambang,
    Nanti tak ajak ke Rumah Makan ANJUNGAN yg tempatnya di atas LAUT. Tinggal pilih…dipilih…dipilih…Bakar Cumi ato Bakar Ikan lengkap dengan SAMBAL GAMI’ sebagai ciri Khasnya. Klu pingin Kepiting Saos Tomat ato bumbu Asam Manis tinggal ke Rumah Makan Melati.

  5. hahahaha.. ada orang iseng lewaaat.. hehehe.. senangnya bikin kita kageeeet.. geeet.. get.. *lirik atas*.. waah emBahe iseng yaa.. *tertawa guling guling*.. hihihi.. asyik tenan reek.. *Penyerahan award Mode ON* mBaaaah Lambaaaang ma mBah gundul lagi nangis nangisan.. peluk pelukan.. mbaaah Gundul angkat piala.. lanjutnya ambil miike.. *Narsis Abiez*.. tangannya atu angkat piala.. atu lagi pegang mike.. dua lagi melambai lambai.. hehe.. tangannya banyak banget yaaa.. huuuwaaakaakak..
    Salam Sayang
    Salam Taklim.. buat embah embahku nyang baek..

  6. Dear mas Santri Gundhul😉
    Salam Damai dan Cinta Kasih😉

    Mohon maaf nih mas sebelumnya, saya mau ajukan sedikit koreksi ya mas.

    Mas, sepertinya mas ada keliru kutip deh. Berdasarkan yang saya baca di WIKIPEDIA, pengertian AGAMA adalah sbb :

    Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”.[1]. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

    Jadi, di wikipedia tidak ada tertulis definisi agama sebagai : “a” = tidak ; dan “gama” = kacau.

    Penjelasan selanjutnya adalah sbb. :

    Beberapa pendapat

    1. Dalam bahasa Sansekerta
    1. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tradisi”.
    2. Dalam bahasa Sansekerta artinya tidak bergerak (Arthut Mac Donnell).
    3. Agama itu kata bahasa Sansekerta (yaitu bahasa agama Brahma pertama yang berkitab Veda) ialah peraturan menurut konsep Veda (Dr. Muhammad Ghalib).
    2. Dalam bahasa Latin
    1. Agama itu hubungan antara manusia dengan manusia super (Servius)
    2. Agama itu pengakuan dan pemuliaan kepada Tuhan (J. Kramers Jz)
    3. Dalam bahasa Eropa
    1. Agama itu sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan tenaga akal dan pendidikan saja (Mc. Muller dan Herbert Spencer).
    2. Agama itu kepercayaan kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan pengendali dunia, serta yang telah memberikan kodrat ruhani kepada manusia yang berkelanjutan sampai sesudah manusia mati (A.S. Hornby, E.V Gatenby dan Wakefield)
    4. Dalam bahasa Indonesia
    1. Agama itu hubungan manusia Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu (Drs. Sidi Gazalba).
    2. Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997)
    5. Dalam bahasa Arab
    1. Agama dalam bahasa arab ialah din, yang artinya :
    * taat
    * takut dan setia
    * paksaan
    * tekanan
    * penghambaan
    * perendahan diri
    * pemerintahan
    * kekuasaan
    * siasat
    * balasan
    * adat
    * pengalaman hidup
    * perhitungan amal
    * hujan yang tidak tetap turunnya
    * dll
    2. Sinonim kata din dalam bahasa arab ialah milah. Bedanya, milah lebih memberikan titik berat pada ketetapan, aturan, hukum, tata tertib, atau doktrin dari din itu.

    Mekaten mas Santri Gundhul…😉

    Semoga bisa diterima mas Santri Gundhul. Hanya sebuah koreksi membangun untuk artikel anda. Nggak apa2 kan mas ? Saya yakin nggak apa2 deh, mas Santri kan orang yang terbuka, hehehe😀:mrgreen: … , betull gak mas ? hehehe😀

    Peace & Love

    [ Nitip iklan : http://ratnakumara.wordpress.com *kapitalis mode on :mrgreen: * ]

  7. benar dan salah
    salah dan benar
    hmm… daaari pada pusing bulak balik aja
    mendingan ” DIAM ”
    hehehe…
    Salam Sayang..

  8. ::Kang Gundhul, sepertinya memang pendefinisian “agama” itu sendiri yang menjerembabkan manusia, terhadap pendefinisian “agama” saja sudah sangat beragam bagaimana menemukan intinya..

    kalau ditarik dari Agama Ibrahim yang lurus, maka yang tampil paling depan adalah ikhlas, jika ditarik dari Aku Ridha Islam menjadi Agama bagimu, maka yang tampil Ridha, lha bedanya ridha ambek ikhlas niki nopo toh…dan sepertinya keduanya berazaskan innni wajjahtu wajhia..lha pada posisi inikan akan terjadi, “setelah Kami selesai membacakannya lalu ikutilah bacaan itu..”
    lah sejatinya agama itu, sepertinya laku penyerahan diri kepada Sang Khaliq, tinggal yang dipakaikan model yang mana…opo made in Paris, London atau tanah abang…🙂

    • lho katanya kan, nabi ketika ditanya soal apa itu agama, jawaban beliau: akhlak. kalo menurut kamus jawa kuna bikinan zoetmulder si lain lagi… *ketinggalan nih*😎

  9. masih adalagi nggak ya tentang BATASAN/DEFINISI ‘Agama’…….?
    Maaf kpd semuanya…, ada berapa jenis pohonan, yang masing2 telah di-‘tetap’-(TITAH/FITRAH)kan oleh HYANG MURBENG DUMADI…Pohon kelapa ya berbuah kelapa begitu pula anak2, cucu2, buyut2 dst pohon tsb tetap berbuah kelapa… ITULAH KETERTIBAN-TRADISI… Lha kalau ada pohon kelapa direkayasa berbuah durian/korma, berarti keluar dari TITAH/FITRAH dan keluar dari KETERTIBAN-TRADISI.
    Bumi mengitari Matahari secara TERTIB sdh ribuan/jutaan tahun(menTRADISI)…..
    Kalau saya teruskan…capek deh…
    Sekian dulu, saya mau belajar pd BERANG2 yang sedang ‘berperang’ menghentikan GLOBAL-WARMING akibat MEGA-PROYEK GLOBALISASI PADANG-PASIR…

    Rahayu…

  10. Dear All …😉

    Mas Kariyan, komentar saya tgl.11 Mei 2009 kemarin, adalah dikarenakan pada artikel anda menyatakan seperti ini :

    Kalaulah bisa mungkin saya sebut begitu. Secara definisi agama yang saya jiplak ( dari Wikipedia saya kutip sebagai berikut ) : Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau.

    Karena anda menyebut mengutip dari wikipedia, maka saya berikan koreksi, bahwa dalam wikipedia tidak tertulis seperti yang mas Kariyan tuliskan. Hanya sebuah koreksi, dan koreksi itu wajar2 saja, ya nggak mas … ?😀:mrgreen:

    Untuk para pengunjung lain, bukan berarti saya menyatakan bahwa definisi agama yang benar seperti itu, tentu tidak. Bebas saja semua mendefinisikan apa. Kalau mas Kariyan saya yakin paham maksud komentar saya😉

    *mas Kariyan, maen2 lagi kerumah saya dong😥 *😀:mrgreen:

  11. Banyak orang melakukan kriminal meng atas namakan Agama dan Tuhan padahal TUhan di atas sana hanya senyum2 saja🙂

    Sankara Saranam dalam bukunya, “GOD WITHOUT RELIGION” mengatakan bahwa kekerasan atas nama Agama tidak lain karena kesalahan dari para peimpin agama agama terorganisir.
    Bisa jadi suatu saat akan muncul spiritualitas tanpa Agama,

    Salam

  12. Katur dumateng Kadang sinorowedi,

    Mohon maaf jika saya belum sempat langsung menanggapi berbagai Koment dalam 2 hari lalu…habis lagi repot..pot..pot banget heeee….

    +++@ Kadang mas Kumaro,

    Terima kasih…maturnuwun segala koreksinya…yah…boleh…boleh saja dikoreksi sebagai bahan tambahan Khasanah tentang pengertian AGAMA, gak ada batasan semua tergantung penafsiran masing-masing sesuai dengan CITA RASA LIDAH pengkonsumsinya…yang terpenting adalah marilah kita bersama-sama untuk TIDAK MENGULANG kembali segala bentuk KONFLIK KEAGAMAAN hingga terjadinya PERTUMPAHAN DARAH di Jagad Raya ini. Pemelukan kita terhadap AGAMA jangan menjadikan kita GEDHE RUMONGSO dan RUMONGSO PALING BENER dengan saling menjustifikasi kelompok Agama lain SALAH, SESAT ataupun KAFIR….ini saya kira penetrasi dalam postingan saya di atas. Sebab jika AGAMA sudah dijadikan kendaraan sebagai alat untuk menggotong dan meraih KEKUASAAN, maka pada saat itulah AGAMA sudah TIDAK manjadi JALAN PENYEJUK bagi siapa saja yang melaluinya. Agama bukanlah alat KEKUASAAN untuk MENGHAKIMI sesama KEYAKINAN seseorang.
    Terima kasih buat Kadang mas Kumaro atas masukannya sebagai bentuk saling ASAH, ASIH dan ASUH.

    Nuwun…
    Salam…Salim…Tahayu
    ” Nammo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudhasa ”

    +++@ Kadang mas dBO ( Den Bagus One = Wan~Satu )

    Yah…saya bisa menangkap apa yang Kadang mas dBO maksudkan. Makhluk SEJATI tidak akan terlepas dari esensi HAK~KEMDIRIAN~KODRAT…( TITAH/FITRAH ) dari Gusti Kang Murbeng Dumadi. Begitu juga AGAMA selalu WUJIL TUMUNGKUL tidak lepas dari peradaban Kultur Budaya masyarakat setempat sebagai rule untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat agar TOTO, TITI, KERTO, RAHARJO.

    Jadi kalau Kadang Mas TOMMY mengatakan AGAMA = AGEMAN kanggo Menungso, sudah selayaknya bisa diaplikasikan dengan mengedepankan KEBAIKAN dan KEBAJIKAN bukan malah SEBALIKNYA…Artinya jika diibaratkan AGAMA sebagai AGEMAN = KLAMBI, BAJU sekiranya KLAMBI, BAJU yang ukurannya KEKECILAN jangan lantas Manusianya yang berusaha menyesuaikan dengan KLAMBI, BAJU tadi dan jangan sebaliknya. AGAMA itu harus DINAMIS jangan dibuat STATIS begitu kira-kira…sebab AGAMA beser
    ta Kitab Sucinya adalah merupakan SARANA…Bukanlah TUJUAN…heeeeeeeeeee…

    +++@ Kadang mas SUFI MUDA,

    Ya…ya…demikianlah keadaan yang sedang berlangsung saat ini. AGAMA dengan KEMEGAHAN Lembaganya tak jarang telah menjadi ALAT untuk MENGHAKIMI sesama. AGAMA dengan kelompok besar akan MEMAKSAKAN pemahamannya, kehendaknya, KEYAKINANNYA kepada kelompok-kelompok keagamaan terkecil…hingga jalan KEKERASAN menjadi hal yang disuarakan sebagai bentuk dengan alih-alih JIHAD dan MEMBELA AGAMA Tuhan.

    Pedahal “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan…!!”. Mari kita gunakan mereka sebagai pemicu.. untuk memicu kesadaran di dalam DIRI. Untuk memicu kehausan dan kerinduan di dalam DIRI. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik dari semua AGAMA, semua TRADISI.
    “Jika kita menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, jelas-jelas kita akan menduakan Tuhan. Itulah yang dilakukan kebanyakan orang saat ini. Tujuan kita adalah Tuhan. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”
    Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama BERKAH atau RAHMAT bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.

    Saudaraku SUFI MUDA,
    Ya..ya…sudah terlihat GAMBARANNYA, REALITASNYA walaupun belum menyeruak kepermukaan, Namun akan muncul masanya KEIMANAN~KESALEHAN manusia tanpa lagi MASJID, GEREJA, WIHARA, PURA, SINAGOG yang tidak memerlukan NABI baru maupun KITAB SUCI BARU….!!!. Sebab Manusia-manusia PENCERAH ( Nabi ) dan Kitab Suci yang sudah ada tinggal DISELARASKAN dengan HUKUM KEJATEN. Biarkan SASTRANYA seperti yang sudah ada, tinggal GENDINGNYA yang perlu dicocokkan dengan LIDAH CITA RASA kita…mo dibuat ” Dhangdhutan, Campur Sari, Keroncong, Rock ” tinggal bagaimana kita masing-masing.

    “Seorang Manusia Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. Dimana-mana.”

    Terima kasih Saudaraku SUFI MUDA

    Salam CINTA DAMAI ~ 513

    +++@ Kang ZAL,

    Iya…iya…muanis tenan ulasan sampeyan, pancene pas nek sampeyan kuwi sakjane dadi Penceramah AGOMO….WES MATENG TENANAN.
    Sarujuk…setuju…sekarang tinggal bagaimana kita pake model apa PROSES PENYERAHAN DIRI tadi yang penting gak CAKAR-CAKARAN ambek koncone lak ngono tah kang..??
    Penyerahan Diri dan Kedamaian Hati itulah ISLAM…!!. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi dan Kedamaian Hati DIRI sendiri..sebagaimana tersurat dalam QS. Al Fajr 27-30 dan Allah telah mendengar niatmu itu. “Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di negeri kita, “janganlah sekali-kali kita menymbongkan diri sebagai Muslim. Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Diri ini sudah sampurna atau tidak.”

    “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu ISLAM…( bukan ISLAM sebagai NAMA AGAMA loh ). Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”
    Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya itu satu. “Seperti..GULA hanya memiliki satu sifat, ‘Manis’. Itu saja.
    Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika tidak manis, ya bukan gula…heeeeeeeeee…
    Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.

    “Din adalah “LAKU~AGAMA”, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan, ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran dia.
    “Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”

    Ahhhgk…kok aku yang jadi NGELANTUR Kang,

    Matur nuwun Kang ZAL

    Salam…Salim…Rahayu….

  13. Spiritualitas.. bukan untuk merubahyang kaku menajdi semakin kaku dan keras seperti besi.. hmm.. tetapi sebaliknya.. spiritualitas yang baik membuat yang kaku semakin luwes.. semakin lembut dan lentur.. sehingga bisa bersatu dalam perbedaan.. dengan dasar cinta dan kasih sayang.. karena perjalanan spiritualitas insan ini banyak sekali yang tidak dapat dimasukkan kedalam logika dan fikir..
    Salam Sayang..

  14. aku njaluk apuro sakdurunge, amargo melu ndesel neng kene…
    Iki ana angger2 anyar ngenani agama, pangriptane sedulur tunggal-sikep, ing basa Indonesia mengkene: <>
    Dijamin suuueeegggeeerrr… Luwih2 yen olehe ngombe neng tlatah SANGIRAN…

    Karahayon…manunggal ing sikep…

  15. Tuh kapan-kapan ke rumahnya Kang Mas Pengembara Jiwa, di Balikpapan ada rumah makan Kenari yang menyajikan KEPITING asli KALTIM…hmmm….bumbu Asem manis atau bumbu Lada Hitam….

    Kang..Gundul!!!!, sekalian aja ajak seluruh Netter/Blogger atau jika perlu tokoh2 Agama dan Tokoh2 Masyarakat juga sekalian Jajaran Pemerintah mulai dari Petingginya sampai kerucu-kerucunya ikut makan di RM Kenari di “Balik Papan”. Biar tambah asyik dalam Rasa merasakan “KEPITING” nya…Plus Bumbu Asem Manis/bumbu Lada Hitamnya.

    Kang Gundul jadi Koordinator di Kal-Tim
    Kang Boed jadi Koordiantor Ja-Bar dan yang lain2nya di atur kemudian.. siapa2 yang bakal jadi panitia resmi Rumah Makan Kenari.

    Hahaha….
    O ya…, katanya Kang Gundul mau ke Balikpapan, sudah 1 bulan ini saya tunggu nggak ada kabarnya..??? *mengharap MODE ON* :smile::mrgreen:

  16. kalau pendapat saya, dalam hal apapun, yang namanya menghujat, tidak akan mendapatkan hasil apa-apa selain sebuah permusuhan dan kehancuran
    .
    jadi untuk masalah ini, yang paling ringkas, saya akan kembali ke sini :
    Lakum diinukum waliyaadiin
    Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku
    .
    terima kasih

  17. kalau menurut saya, dalam hal apapun, sebuah penghujatan tidak akan membawa hasil apa-apa selain dendam, permusuhan dan kehancuran
    .
    jadi menanggapi hal ini maka saya akan kembali kesini
    Lakum diinukum waliyaadiin
    Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku
    .
    tapi..jujur saya sangat menikmati tulisan Bapak dan diskusi teman-teman, sangat bermanfaat
    .
    terima kasih🙂

  18. duuh koq ada dua koment sih
    hehehe (gak maksud nyari sensasi lho ini…)
    maaf ya pak..jaringan lelet jadi berkali-kali post comment, jadi gitu deh
    di delete aja yang pertama ya Pak..
    :))

  19. Setelah diam lama menyimak, kok nggak tahan juga pengin mencungul, soale guyone gayeng tenanan tur berbobot…dipandu sang dirijen Kang Santri Gundul, bisa menggunduli orang2 yg masih dibalut nafsu:mrgreen:

    Mohon dikoreksi kalau salah ya Kang…
    1. agama ageming aji : baju kebesaran untuk menggapai kemuliaan hidup yang sejati. ribuan agama di planet bumi ini masing-masing berperan sebagai jalan setapak menuju satu titik. TITIK yang sama, bagi orang berbahasa indonesia menamakan tuhan. orang inggris bilang, god. orang india bilang sebagai brahman, org yahudi, yahweh. orang Yunani menyebut dei. dan masih banyak lagi, ribuan nama untu Sang Causa Prima. Kang tankena kinira, tan kena kinaya ngapa. masing-nama akan tergantung bahasa manusia. agama pun memakai istilah-istilah yg dipengaruhi bahasa manusia.

    2. agama merupakan sistem kepercayaan, dan mengalami proses evolusi sepanjang masa. proses masing-masing zaman evolusi sistem religi berlangsung kira-kira antara 1000-2000 tahun. dahulu sebelum masehi sistem religi yang ada belum dinamakan dan melembaga menjadi agama. baru disebut sebagai animisme, kemudian berkembang dinamisme, lalu berkembang lagi menjadi monotheisme. setelah masa monotheisme berlalu barulah mengalami proses pelembagaan sebagai sistem religi (bagian dari sistem budaya).

    3. kecenderungan pada masyarakat “post modernism” adalah kepercayaan atau sistem religi mengarah kepada sistem nilai “agama” yang universal, mencakup nilai-nilau universal berbagai agama dalam suatu wadah tak bernama agama. namun secara hakekat memiliki esensi yg sama dari berbagai agama yang ada di muka bumi. kristalisasi kecenderungan ini, terjadi fenomena masyarakat “agnostik” di mana mereka tdk memeluk satu agamapun, namun sangat percaya adanya tuhan dan perilakunya sangat RELIGIUS, bahkan jika mau jujur lebih mereka khusuk menghayati nilai-nilai agama dalam perilaku perbuatan sehari-hari, melebihi orang bertampang “agamis” yg suka bertampang garang, ulahnya tidak menentramkan, berapi-api, mudah emosi, dan gampang enuduh orang lain salah dan sesat kapir kopar.
    perilaku perbuatan masy agnostik mirip dengan perilaku para kaum pengahayat sufistik, dan tdk beda dgn org2 yg dalam tataran hakekat, budhism sejati, hindu sejati, penghayatan falsafah kejawen, dll.

    4. pada tataran “universaalitas” nilai agama ini konflik antar agama tentu saja redam dgn sendirinya. sebab konflik antar agama merupakan benturan pada tingkat “kulit”, bukan pada esensi atau hakekatnya. bumi terasa lebih damai dan nyaman, tidak ada lagi sikap saling mencurigai dan menyesatkan menyalahkan. semua orang berperilaku RABBUL ALAMIN, RAHMATAN LIL ALAMIN, tidak pandang bulu dan pilih kasih hanya kepada golo dan kelompoknya saja.

    5. agama yg puritan tak mau disentuh oleh pemikiran kritis. atau agama yg enggan beranjak kepada spiritual tingkat hakekat dan makrifat, akan menjadi monumen sejarah yang untouchable. lama kelamaan beresiko ditinggal umat yg semakin gundah. apalagi umat manusia zaman modern semakin banyak anak yg bertalenta INDIGO, punya bakat melihat gaib, dan menjadi saksi atas apa yg terjadi di dunia lain, alam gaib, yg lebih ber taste universal. dan menjadi saksi bahwa di dalam gaib agama tak diperlukan lagi, apalagi syariat berbagai agama, tak dibutuhkan lagi. dan generasi indigo itulah yang akan menjawab; sesungguhnya Tuhan beragama atau tidak, tuhan memeluk satu agama atau tidak. ataukah tuhan tak butuh agama ? semua akan terjawab.
    Kita semua pun BISA MENJADI INDIGO asal mau mengolah rasa sejati, rajin memberdayakan NURANI, kuat menahan aurat, tidak keburu melepas nafsu, dan taberi anggone sinau, aja nganti darbe ulah : durung becus keselak besus.
    becik sinauo marang Kang Santri…dijamin reuseup ing ati…🙂

    Prasyarat membaca tulisan ini cukup dengan membeningkan batin, membersihkan kalbu, menetralkan rasio, serta menghindari sikap kagetan, gumunan, reaksioner, emosian, mangkelan, cugetan, neson, ngamukan… dan ngentutan…hehehe

    …krukup sarung ambek ngeloyor nyang kebon peteng…golek pelem tibo turahane pangan codot…wkkk:mrgreen:

    salam sayang,
    salam sihkatresnan,
    salam sejati,
    salam taklim,
    salam asih asah asuh

    rahayu karaharjan

  20. Yang Muslim…jadilah muslim yang baik.
    Yang Pemeluk jalan Salib…jadilah pemeluk yang baik
    Yang Buddis…jadilah buddis yang baik
    Yang Hinduis…jadilah Hinduis yang baik
    Yang Tao…jadilah Taois yang baik
    Yang Kejawen jadilah…orang jawi yang baik
    Yang Tidak beragama…jadilah manusia yang baik
    …………………………………………
    Intinya jadilah manusia yang baik, sesuai dengan tuntunan hati nurani masing-masing. Tidak perlu berebut kebenaran, karena kebenaran itu terlalu luas untuk dikuasasi seorang diri…Tidak perlu merebut cinta tuhan dari orang lain, karena tuhan punya cukup cinta untuk setiap makhluknya…jangan pernah merusak lingkungan, baik alam maupun sosial, karena susahnya akan menimpa kita sendiri…Berusahalah untuk tidak melanggar hukum negara, karena anda akan masuk penjara…susah juga toh?
    He..he..he…..Setelah itu ngobrolnya diteruskan yuk…monggo Kang Santri, kulo tumut nyimak

    Salam Kang Santri!…Surabaya masih kebagian hujan tiap hari…

  21. jika kita minilai sekarang ini seolah kayaknya pergaulan dan prilaku orang tanpa agama dan sudah mendewakan kebebasan… padahal agama adalah salah satu beneteng yang seharusnya di jaga dan di mengerti. mungkin peran agama tidak begitu kelahatan di jaman sekarang karena semakin banyaknya orang yang menjadikanya sebagai kedok (topeng)… Makanya kita harus tahu dulu apa itu agama… yakin kalau sudah tahu artinya agama mungkin kita akan berpikir lebih untuk berlaku yg kurang baik…… coba rengkuan ….?

  22. *pusing euy bacanya* puaaannnjangg dan laaaaaamaaaa udah kayak coki2😀

    belakangan kok saya meresa pesimis yaa denger kata “Agama” dan tambah bingung sebenarnya saya ini agama apa?? bodo akhhh

  23. hihihi.. urip iku ojo dumeh.. ojo gumunan.. semua adalah sebuah perjalanan.. sebelum dentang lonceng sang waktu berbunyi teruskanlah perjalanan itu.. jangan baru merasakan sensasi sedikit kita tertipu sudah merasa rasa.. mulai mentang mentang.. mulai tunjuk sana tunjuk sini.. padahal perjalanan itu masihlah panjang.. panjang sekali.. tetapi banyak manusia yang tertipu dengan sensasi sensasi.. padahal itu hanyalah jebakan dan bukan menjadi tujuan akhir kita.. membuat mereka terlena dan lupa melanjutkan perjalanan.. dan berhenti.. karena respons alam semesta itu begitu ruaaaaaaar biasaaaaa.. mereka seolah bersahutan menghalangi siapapun yang mencari ilmu sejati.. bahkan meliputi berbagai dimensi kehidupan.. seolah tiada ingin insan mencapai kesejatian.. berbagai perkara dihadirkan.. yayaya.. berhati hatilah.. ojo dumeh.. ojo gumunan.. tetaplah eling dalam kesadaran.. dan waspodo dalam setiap langkah kita.. siapapun yang berkata bahkan para leluhur.. simak baik baik.. persatukan dengan diri kita dan hati kita jangan main serobot saja.. karena disinilah kita dituntut waspodo..
    kebenaran hakiki.. saat orang berhenti menunjuk kekiri dan ke kanan.. dan mulai menata diri dalam penyerahan diri totaaaal.. menghasilkan akhlakul kharimah.. membuktikan kepada dunia bahwa SPIRIT ISLAM adalah RAHMATAN LIL ALLAMIN.. menjadi anugerah bagi sesama.. dalam karya nyata.. berkarya dan mencipta demi kemaslahatan bersama.. memegang teguh nilai kejujuran terhadap diri sendiri.. sesama dan Tuhannya.. menebarkan cinta dan kasih sayang.. itulah manusia manusia SEJATI.. insan kamil..
    Salam Sayang Saudara Saudaraku tersayang
    Salam Kangen
    Salam Rindu untuk mu.. semuanya..
    botolkosong OONsurOON

  24. agamanya ndak salah, yg salah pemahaman umat thd agamanya..
    urut2annya
    1. percaya thd tuhan YME -> tauhid
    2. kepercayaan thd tuhan YME -> islam, kristen, dsb
    3.aliran kepercayaan thd tuhan YME -> syafi’i,maliki, hanafi dsb
    4.himpunan aliran kepercayaan thd tuhan YME -> NU, muhammadiyah, HTI dsb

    maap kalo ada salah2 kata….

  25. Wealah..lagi nyimak komentar para sedulur..ujung-ujungnya ketemu lagi dgn dimas Boed…yang ada di mana-mana, namun tidak ke mana-mana, alias tetap di Kiaracondong, namun menjelajah ke dunia maya menebar pencerahan.:mrgreen:

    ….krukup sarung, nyulet udud, mblusuk neng kebon golek pelem gogrok….hehehe..

    salam sejati
    salam taklim Kang Santri Gundhul…
    mugi tansah rahayu karaharjan

  26. nice post, bagus sekali. kang gundul semakin hebat saja.Betul sekali kang , lebih lebih baik melototin diri sendiri daripada sibuk bacain orang, he he

    “podo ro Ki Sabda, nyumet udut bablas njukuk pancing terus mancing welut nang sawah”

    wassalam

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Kang ati-ati Galengan sawahne LUNYU tenan.
    Buru-buru lari ke Sawah…eh…sedulurku WELUT…ayo siro podho Ndhelik kabeh…iki ono Kang Mas Sabdo karo Kang Mas Ngabehi arep mancing Kowe…ojo sampek njedhul yen durung ono BLEDHEG CINO…huaaaaaa…

    Kabuuuuuuurrrrrr…

  27. Kang mas Sabdo ma ki ngabehiiiiiiiiii.. ikuuuuuuuut.. manciiiiiiingnya.. sambil nungguin mbaaaaaaaaaaah Gunduuuuuuuuul…
    Salam Sayang..
    Salam Rindu untukmu..😆:mrgreen:😆

  28. Mungkin bisa jadi karena pemaknaan yang berlebihan, atau sebaliknya sesuai dengan pakem yang telah digariskan. Sehingga memunculkan tradisi truth-claim yang berdarah-darah. Apalagi di dalam elite (baca: pemuka) keagamaan, sering terseret arus kepentingan sesaat yang duniawiyah. Membuat subur ladang kekerasan tersebut.
    Meskipun begitu dalam konteks kesejarahan, telah berungkali persoalan toleransi ini diangkat. Bahkan dijadikan jargon, yaitu BHINNEKA TUNGGAL IKA, TAN HANA DHARMA MANGRWA (berbeda-beda namun tetap satu jua, tak ada kebajikan yang mendua). Meskipun begitu tetap juga, istilah Tan Hana Dharma Mangrwa, tidak terpakai dalam alam Indonesia. Karena pengertian Dharma identik dengan Agama. Dan dianggap tak mungkin semua agama adalah benar adanya.

    ***~~~~~~~~~~~***

    Yah Kang CLETUK
    Dharma jika dimaknai sebagai Agama sebenarnya juga gak apa-apa asalkan juga bisa memahami makna AGAMA itu sendiri. Namun sayang masih terjadi KESALAH KAPRAHAN dalam memaknainya. Apatah lagi jika dikaitkan, dibenturkan dengan 3 Ayat dalam teks book Kitab GARING ( Al Imran 19, 85 dan 102 ) disana tertulis secara tekstual AGAMA yang diridhloi Tuhan adalah ISLAM. Nah..pada akhirnya umat yang memeluk AGAMA dengan NAMA ISlam menjadi GEMAGAH…dan menjustifikasi AGAMA diluar NAMA Islam katanya KAFIR..MURTAD…dan SESAT. Hal ini akibat KETIDAKTEPATAN dalam memaknai ISLAM bukan sebagai SIKAP~KESADARAN sang PRIBADI atas dasar SABAR~IKHLAS dan PASRAH melainkan ISLAM sebagai NAMA AGAMA.

    Saya jadi miris…bin malu-malu kucing…soalnya KTP stempelnya Islam…Huuuuaaaaks..kaks..kaks..

    DHARMA sendiri = BUDI PEKERTI yang teraplikasi dalam sikap dan perbuatan BAIK dan BIJAK.

  29. hehehe.. kemaren bilang sama saya namanya mas Segar.. karo si emBaaaah bilang namanya kang Cletuk.. *geleng geleng*.. pusing.. kliyengan.. mana nyang bener yaa.. hehehe.. mbaaaaaaaaaah.. toak arennya mana dah lama gak kebagian nee.. dah kangen..
    Salam Sayang
    Salam Rindu untukmu..:mrgreen:

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~~~***

    Haiyah…..Kang Boed TOAK Arennya lagi di DERES di Pohonnya Kang, tapi jangan kuatir masih tak sediain Bubuk KECUBUNG campur Beras Kencur. Ditanggung tambah JOS GANDHOS Kliyengane.

    Sodorin di cangkir…ayo-ayo…diminum…diminum….Pisang Goreng Keju menyusul…hhhhaaaaaaaaaaahh…

  30. @Santri Gundhul
    Kalau begitu kenapa Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya sibuk kirim utusan dan mengajak raja-raja dari berbagai kerajaan untuk memeluk Agama Islam. Selain itu, juga ngapain repot-repot para Wali Songo datang ke Indonesia, yang notabene pada saat itu sudah punya semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, TAN HANA DHARMA MANGRWA?
    Coba juga baca teks Surat Al Kafirun!
    Dan bukan Islam saja yang melakukan tindakan tersebut, lihat & baca teks keagamaan lainnya!

    @KangBoed
    Yang manggil saya, segar kan situ. Ya terserah Mbah Gudhul, mau nyebut!

  31. “Segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi bahkan diantaranya” adalah milik Alloh,berarti kan termasuk semua agama.Kalo semua agama itu milik Alloh knapa harus diributin sech.Kalo agama diibaratkan sebagai “kendaran” setiap orang untuk meniti perjalanannya. biarkan mereka bebas memilih “kendaraanya” mw naik becak,sepeda,pesawat,perahu atau kereta itu sudah urusan masing2 dan resikopun di tanggung penumpang masing2…
    gitu aja ko repot ( lari ngumpet takut di cegat “calo” dipaksa naik bis.. )

    ***~~~~~~~~~~~~~~~***

    Huaaaaaaaaaks….
    Jangan lupa NGUMPETNYA jangan kelamaan Kang Gatho..ntar ketiduran…haaaaaaaa…
    Ya…ya….Andai saja manusia memiliki PEMAHAMAN seperti panjenengan bakal ” GEMAH RIPAH LOHJINAWI ” Bumi Nuswantoro ini Kang. Silahkan masing-masing berbuat dengan CITA RASANYA sendiri-sendiri. Ini barangkali penetrasi dari tulisan saya. Terkadang bibir ini memang LINCAH dan GESIT mengatakan ” Lakum Diinukum Waliyadin ” namun Aplikasinya gak sejalan. Orang yang sudah memiliki KEYAKINAN yah..jangan DIPAKSA-PAKSA untuk mengikuti Cara dan Ritual yang diyakininya….Sebab KEBENARAN menurut manusia adalah RELATIF dan SEMU….begonoh yah Kang Gatho…???.

    Nuwun Kang Highlightnya keren abiiiiiiiiisssssss…

    Rahayu

  32. tapi kadang2 islam suatu agama bisa dijadikan perang kok mas contohnya tadi pagi di jakarta ancur dan yang dialahkan siapa lagi ayo???? padahal banyak sekali lubang2 yang menjadikan maslah ini bukan suatu nbentuk dari agama tapi kepentingan politik dan orang2 yang hatinya sudah meghitam..
    salam kenal mas dari kami sekeluarga

    ***~~~~~~~~~~~~~~~~***
    Salam kenal kembali saudaraku,
    Yah…yah…bukan Agama dengan nama ISLAM saja Kang Mas, Agama apapun bisa dijadikan alat untuk memenuhi Kepentingan Pribadi, Kelompok ataupun Golongan. Agama apapun memang akan bisa menjadi RACUN, jika kita tidak bisa memahami kandungan ISI atau perintah yang TERSIRAT di dalamnya. Di sisi lain semua AGAMA pasti mengajarkan KEBAJIKAN dan KEBAIKAN….namun jika aplikasi dalam aksi, tindakan dan perbuatan yang dilakukan sebaliknya, maka KEDUNGUNAN, KEBODOHAN dan KETOLOLAN ada pada si pengkonsumsinya. Dan jujur saja Konflik yang terjadi di Negeri kita ini KEBANYAKAN dipicu oleh ” OKNUM ” penganut Agama tertentu yang MABUK oleh DOKTRIN-DOKTRIN JIHAD yang SALAH KAPRAH…!!!.

    Mudah-mudahan kita masih tetap pada golongan manusia yang selalu ” ELING lan WASPODHO ” apapun Agama yang kita anut Kang mAs.

    Salam…Salim…rahayu.

  33. trimakasih atas tulisannya mas….pencerahan bagi saya..salam kenal
    saya minta tulisannya mas untuk saya postingkan diFB…itung itung untuk pencerahan saudara2 yang lainnya
    maaf dan terimakasih

  34. jejak penghayatan saudara semua yg dipandu kadhang Kariyan semua tiada lain dari OBAH MOBAHing Sang HIDUP YANG TELAH MEMBERIKAN KEWENANGAN teruntuk cipataanNYA yg paling sempurna….yg artinya dilengkapi oleh rasa karsa dan cipta.
    Keyakinan bahwasanya semua ada yang mengatur dalam wawasan semua aspek kehidupan dimengerti oleh pikiran yg diwujudkan dalam ajaran yg selanjutnya dalam perkembangan menjadi butir hakekat terwujudnya agama yg tentunya selalu mengambil sosok panutan untuk menjadi/dijadikan penuntun…..walaupun di sini tokoh pertama dalam agama sebut saja misal YESUS KRISTUS,MUHAMMAD SAW…semasa hidupnya tidak menyebutkan sesuatu apapun mengenai agama…tentu lebih kepada bagaimana manusiannya.
    Oleh karenanya sungguh sangatlah perlu apresiasi tinggi kalau pada dekade waktu ini banyak bermunculan pemahaman kasanah spiritual dengan basis lelaku atau esoteris yg hakekatnya adalah proses menemukan jati diri untuk menuju pada kedalaman sifat,sikap,perilaku maupun cara sembahyang ataupun cara berpikir…hal ini mendorong pada kemajuan akhlak, budaya dan tentunya yg paling krusial adalah kiprah,titah menuju kesejatian hidup..lebih tepatnya masing-masing manusia akhirnya saling bekerja sama melengkapi dan memperindah dunia yg sudah indah ini…
    akhir kata…trimakasih dan selamat malam…nguatuk je massss maaf agak serius ya..jangan dimasukan hati……nuwun..rahayu.

  35. panuji rahayu…

    kang Gun.. nopo sampeyan taksih slulupan to..? griyanipun suwung.., nyuwn toya bening kang .. mampir .. habis perjalanan uadooh tenan .. ngelak .., kamsudnya mau nyuwun ngombe .. malah suwung.., nggih. poso ngelak sisian niki… hehehe

    salam sihkatresnan
    rahayu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s