Ibu, TUHAN itu…??

Ketika hujan gerimis mengguyur bumi kediamanku di Sore hari, membuat suasana lingkungan perumahan tempat saya dan keluarga berteduh seakan mengguyur dan menggelontor kepenatanku bekerja sepanjang hari. Seperti biasanya, kami berkumpul, bercengkerama di ruang keluarga sambil nonton TV kegemaranku pengetahuan “ Dunia Binatang “. Tak lama berselang kumandang adzan Mahgrib membuyarkan konsentrasiku dalam menikmati kehidupan satwa-satwa di padang sahara Afrika sekaligus menghentikan canda dan tawa kami sekeluarga. Bergegas saya ngeloyor ke kamar tuk “ Gelar Sajadah “ sembari diikutin putri kecilku yang masih 4 th dan baru belajar membaca dan menulis di TK kecil, sementara ibunya masih menyelesaikan sesuatu di kamar kecil. Baca lebih lanjut

Iklan
By Kariyan Santri Gundhul Posted in TUHAN

IKUTILAH AKU…( Rasul )

“ Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya Ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka “……..dst.

Rasul itu adalah utusan Tuhan. Dia adalah ZAT HIDUP yang menjadi penghubung antara Manusia dengan Tuhan yang Maha Hidup dengan jasad kasar seperti kita ini. Makanya dalam banyak ayat-ayat Kitab Suci kata Rasul-Nya TIDAK DIKAITKAN dengan jasad fisik ( jasmani ) Nabi Muhammad atau Nabi-Nabi yang terdahulu.

Terus mentaati atau mematuhi Rasul bukanlah mematuhi Hadis. Kalau ini yang kita lakukan, maka akan terjadi kepatuhan terhadap wujud jasad fisik seseorang atau imam yang telah mengajarkan Hadis. Ya…inilah namanya mematuhi orang lain atau mengikuti sangkaan pikiran, pendapat orang lain.

Mematuhi Rasul itu adalah mendengarkan dengan seksama suara hati kita, lalu kita wujudkan dan diaplikasikan dalam hidup ini baik melalui diri sendiri maupun melalui tangan orang lain. Baca lebih lanjut

BILINGUAL MANEMBAH

Entah kenapa, setelah membaca postingannya Kang Zal dengan judul ” Islam…going to…” dan sajian menarik dari Kang Tommy dengan ” Methode mempelajari Quran “ hasil Karyanya Soepryitno, membuat saya teringat kejadian beberapa tahun lalu yang berlangsung di Kota Malang. Yah…sebuah drama penangkapan seorang anak manusia yang kebetulan memiliki predikat sebagai Ustadz di lingkungannya. Lantas Dia mencoba melakukan sebuah KOMUNIKASI dengan Tuhan-Nya melalui sebuah ritual Shalat dengan menggunakan bahasa yang biasa digunakannya sehari-hari dan sekaligus yang ia pahami akan maksud dan maknanya. Adakah yang salah dalam hal ini…?? Merenungi kejadian ini, mendadak saya teringat akan sebuah Ayat yang mengatakan bahwa “ Tidak aku suruh seorang Rasul untuk menyampaikan pesan Kebaikan, Kebajikan dan Keselamatan kepada umat manusia terkecuali dengan bahasa suatu Kaumnya “. Baca lebih lanjut

APA ITU DOA

Nyuwun ngapunten Poro Sanak Kadang-ku sedoyo, kok saya tiba-tiba saja tertarik untuk urun rembug babakan DOA yang dibicarakankan rekan-rekan dalam sebuah web Spiritual yah.

Anggep saja ibarat kita naik Gunung, Mas ” A ” lewat jalur Selatan, Kang ” B ” dari Utara lah… saya yang dari Timur ( Kalimantan Timur maksudne he..he..). Semua akan bercerita tentang Jalan yang dilaluinya nah…Pertanyaannya adalah Apakah interpretasinya SAMA..???. So bisa jadi sama dan bisa juga tidak sama kan..??, Tetapi yang terpenting adalah apakah perjalanan yang dilakukan semua telah sampai kepada PUNCAK Gunung atau tidak…??. gitcu kali kira-kira he..he..

Kita kembali kepada pokok persoalan tentang sebuah DOA. Mengambil referensi dari teks book Kitab Suci akan JANJI Tuhan “ BerDOAlah kamu, niscaya Aku kabulkan “. Nah permasalahannya terkadang Firman ini bisa menjadi SALAH KAPRAH bagi kita-kita yang belon memahami akan MAKNA yang TERSIRAT dari yang TERSURAT tersebut.
Doa ada yang menginterpretasikan PERMOHONAN, ada yang memahami PERMINTAAN dan ada lgi yang mengartikan PERBUATAN. Wis gak perlu dipermasalahkan istilah dan apapun namanya yah gak..yah gak..??.
Yang utama adalah memahami INTI SARIPATINYA itu loh… yah Kan..?? HAKEKAT dari DOA itu apakah sudah kita ketahui dan telah kita PAHAMI serta merupakan sebuah PERSEPSI sang JIWA….?? Baca lebih lanjut

By Kariyan Santri Gundhul Posted in DOA

SHALAT/DZIKIR KHUSU’ atau HIDUP KHUSU’…??

“Mintalah pertolongan kepada ALLAH dengan sholat dan sabar, sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang yang khusuk”. “Yaitu yang meyakini (telah dan akan) /selalu bertemu dengan Rabbnya (Bos Alam Semesta) dan mereka yang menjadikan ALLAH sebagai rujukan setiap hal”
( QS. Al – Baqarah 45 – 46 )


Khusuk adalah atribut yang melekat pada kehidupan (sholat dan sabar merupakan bagian dari kehidupan). Orang yang hidupnya khusuk akan senantiasa memelihara perjumpaan dirinya dengan ALLAH, selalu memfokuskan diri kepada ALLAH, selalu mematuhi perintah ALLAH. Sebelum dan sesudah melakukan aktivitas selalu membaca doa dan menyadari sepenuhnya bahwa segenap tindak laku adalah perintah ALLAH.
Sangat logis sekali jika orang yang hidup khusuk, sholat dan sabar bukan sesuatu yang memberatkan. Sia-sia jika kita berharap sholat khusuk tapi dalam hidup keseharian tidak khusuk (cenderung permisif-serba boleh , profan-terlalu bersifat duniawi, kering dari nilai-nilai & memperturutkan hawa nafsu).

Emangnya SHOLAT KHUSUK yang berupa gerakan berdiri, rukuk, sujud dan duduk takhiyat dan beberapa teknik yang kita kejar-kejar dan kita cari cari selama ini bisa menghantarkan kita untuk sampai ( Manunggal ) kepada Tuhan tanpa dibarengi AKSI, TINDAKAN dan PERBUATAN untuk ” Hamemayu Hayuning Bawono…??”. Manusia sebagai HAMBA, ABDI, BATUR, JONGOS nya Tuhan harus memahami keberadaan kita akan MAKNA predikat sebagai ABDI. Jika tidak maka pergulatan, pencarian dan pemelukan manusia terhadap sebuah Agama berikut perintah Ibadah yang ada di dalamnya hanya akan berhenti dan mandeg pada ” stasiun AKAL dan PIKIRAN ” paling banter yah…dalam kapasitas ANGAN-ANGAN dan MIMPI. Jadi jangan “ Nggondhok, Mangkel dan Kecewa “ klu serentetan ibadah ritual yang kita lakukan tak lebih dari sekedar SESEMBAHAN terhadap PIKIRAN, BUDI dan ANGAN-ANGAN kita semata, bukannya sesembahan yang sesungguhnya kepada sang Hyang Moho Tunggal. Baca lebih lanjut